51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Peran Surfaktan Polisorbat 80 dan Polisorbat 20 Terhadap Kelarutan Quercetin

Factory Organica

Quercetin merupakan senyawa flavonoid yang memiliki manfaat sebagai antioksidan, antiinflamasi,  dan anti aging.  Quercetin memiliki kelarutan yang rendah dalam air (0,01 mg/ml pada suhu 25 oC). Kelarutan quercetin yang rendah merupakan tantangan dalam pengembangan formulasinya, oleh karena akan berpengaruh terhadap konsentrasi senyawa aktif  pada tempat aksinya yang pada akhirnya akan memengaruhi efektivitasnya.

Penggunaan surfaktan melalui pembentukan misel merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan kelarutan bahan aktif farmasi (BAF). Misel akan terbentuk apabila konsentrasi surfaktan melebihi konsentrasi kritis atau disebut Critical Micelle Concentration (CMC). Misel memiliki beberapa kelebihan antara lain bersifat amfifilik, memiliki kemampuan self-assembly yaitu proses perakitan diri secara spontan, dan dapat mempertahankan stabilitas dalam larutan. Pada saat CMC tercapai maka BAF yang tidak larut air akan terperangkap pada inti misel.  Kondisi ini mengakibatkan interaksi antara BAF yang bersifat hidrofob dengan air berkurang sehinggga meningkatkan kelarutan senyawa aktif.  

Nilai CMC surfaktan dipengaruhi oleh jenis surfaktan. Surfaktan polisorbat 80 dan polisorbat 20, merupakan surfaktan non-ionik yang bersifat tidak beracun dan tidak mengiritasi, digunakan secara luas dalam sediaan kosmetik, produk makanan, dan formulasi obat baik oral maupun topikal. Polisorbat 80 dan polisorbat 20 berbeda dalam panjang rantai alkil gugus hidrofobik yang dapat mempengaruhi kemampuan surfaktan dalam meningkatkan kelarutan. Semakin panjang rantai alkil gugus hidrofobik semakin besar volume bagian dalam misel sehingga senyawa obat lebih banyak ditampung dalam misel. Hal ini mengakibatkan kelarutan obat semakin meningkat. Surfaktan polisorbat 80 dan polisorbat 20 memiliki manfaat sebagai pensolubilisasi karena memiliki Hidrophile Liphophile Balance (HLB) ≥ 15. Surfaktan non-ionik memiliki nilai CMC lebih rendah dibandingkan surfaktan ionik dan memiliki lebih banyak jumlah molekul pembentuk misel dibandingkan surfaktan ionik.

Peneliti Fakultas Farmasi 51¶¯Âþ terdiri dari Tristiana Erawati, Dewi Isadiartuti, dan Bintari Damartha Anggalih telah meneliti perbandingan penggunaan surfaktan polisorbat 80 dan polisorbat 20 dalam media dapar sitrat pH 4,5 terhadap kelarutan quercetin. Metode spektrofotometri dengan iodine sebagai probe hidrofobik pada panjang gelombang 353,5 nm dilakukan untuk penentuan nilai CMC pada konsentrasi di bawah, di atas, dan tepat pada nilai CMC. Uji kelarutan quercetin dalam media dapar sitrat pH 4,5 ± 0,2  pada suhu 30±0,5 oC dilakukan pada menit ke-240 saat kelarutan jenuh quercetin tercapai.

Hasil penelitian menunjukkan nilai CMC polisorbat 80 dan polisorbat 20 dalam dapar sitrat pH 4,5 ± 0,2 didapatkan berturut-turut 11,5 ppm dan 57,5 ppm. Hasil uji kelarutan menunjukkan polisorbat 20 meningkatkan kelarutan quercetin dalam dapar sitrat pH 4,5±0,2 hanya pada konsentrasi di atas nilai CMC 2,14 kali, sedangkan polisorbat 80 dapat meningkatkan kelarutan quercetin dalam dapar sitrat pH 4,5±0,2 pada konsentrasi di bawah, pada, dan di atas nilai CMC,  masing-masing sebesar 2,87, 2,92, dan 3,63 kali. Peningkatan kelarutan quercetin dengan adanya polisorbat 80 lebih tinggi daripada polisorbat 20 dikarenakan polisorbat 80 memiliki rantai alkil gugus hidrofobik lebih panjang daripada polisorbat 20. Temuan hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kelarutan quercetin dalam pengembangannya menjadi bentuk sediaan farmasi atau kosmetik.

Penulis: Dr. apt. Dewi Isadiartuti, M.Si

Judul artikel: The effect of polysorbate 20 and polysorbate 80 on the solubility of quercetin

Journal of Public Health in Africa 2023;14(s1):2503

AKSES CEPAT