Pandemi penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) sebagai permasalahan global memiliki banyak manifestasi klinis dan berdampak pada manusia di seluruh dunia. Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) menyebabkan penyakit sistemik melalui ikatan reseptornya yang diketahui dengan Angiotensin-Converting Enzyme 2 (ACE2) yang diekspresikan dalam berbagai jenis jaringan dalam tubuh manusia. Infeksi dan kondisi sistemiknya menyebabkan stres fisik dan psikologis bagi pasien. Selama penyakit kritis dan peradangan yang sedang berlangsung, stres fisik dan psikologis berkontribusi pada hasil akhir pasien.
Stres akan menghasilkan dan mengintegrasikan berbagai respons kognitif, emosional, neurosensorik, dan somatik yang ditransmisikan ke otak melalui berbagai jalur. General Adaptation Syndrome menggambarkan kronologi respon biologis, fisik, dan fisiologis tubuh terhadap stres yang terjadi secara terus menerus. Penyakit kritis ditandai dengan stres patologis kronis, menginduksi neuroendokrin, peradangan, dan perubahan hormonal. Stres didefinisikankan sebagai berbagai bentuk trauma, pembedahan, dan infeksi yang merangsang respons saraf dan hormonal secara signifikan, menyebabkan ketidakseimbangan homeostatis. Dalam kondisi stres, baik secara psikologis maupun fisik, selanjutnya terjadi peningkatan konsentrasi glukosa darah. Peningkatan konsentrasi glukosa darah pada kondisi kritis disebut dengan stress-induced hyperglycemia. Beberapa penelitian membuktikan bahwa IL-6 memainkan peran penting dalam perkembangan hipersitokinemia pada penyakit kritis dan juga berkorelasi dengan hiperglikmia dan kesulitan mengontrol kadar glukosa darah pada pasien dengan peradangan berat seperti sepsis. Kelebihan produksi sitokin menyebabkan kegagalan multi organ melalui aktivasi mediator humoral dan gangguan endotel vaskular.
Kondisi psikologis yang sudah ada sebelumnya atau yang mendasarinya juga memengaruhi pasien COVID-19 dan menyebabkan prognosis yang lebih buruk. Stres menyebabkan beberapa ketidakseimbangan termasuk perubahan neurohormonal, pro-inflamasi, dan metabolisme. Stres yang sedang berlangsung dan COVID-19 meningkatkan peradangan sistemik melalui interleukin 6 (IL-6), hiperglikemia, dan dorongan simpatik yang tidak terkendali. Kondisi ini menumpuk menjadi lingkaran setan prognosis buruk dan bahkan kematian.
Stres, baik secara psikologis maupun fisik, memiliki peran utama yang dapat memperburuk COVID-19 secara signifikan melalui stimulasi inflamasi yang tumpang tindih melalui IL-6 dan bersama dengan infeksi SARS-COV-2 memperburuk keadaan hiperglikemia yang pada gilirannya juga meningkatkan keadaan inflamasi. Stres kronis menyebabkan deregulasi respon imun terhadap infeksi. Hasil yang buruk dari pasien COVID-19 dengan stres psikologis dan hiperglikemia yang nyata telah terbukti. Lingkaran setan ini menyebabkan badai sitokin dan potensi MODS serta kematian pada pasien COVID-19 dengan kondisi stres. Kondisi stress merupakan kondisi yang sangat esensial yang perlu mendapat perhatian. Beberapa pendekatan harus dilakukan untuk mengatasi ketidakseimbangan yang dibuat oleh kondisi stres pada pasien COVID-19 ini.
Artikel ini membahas mekanisme stres yang menginduksi peradangan dan hiperglikemia yang berkorelasi dengan hasil yang lebih buruk pada pasien COVID-19. Karena perannya yang penting dalam COVID-19, pendekatan untuk mengatasi stres dan ketidakseimbangan homeostatis yang disebabkan oleh kondisi stres pada pasien COVID-19 perlu dilakukan.
Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada:
Wibowo MS, Veterini AS, Salinding A (2022). Central role of stress-induced inflammation and hyperglycemia to covid-19 severity. Crit Care Shock 2022, Vol. 25 No 5.





