Preterm Premature Rupture of Membranes (PPROM), atau ketuban pecah dini sebelum usia kehamilan 37 minggu, merupakan kondisi yang membawa tantangan besar dalam praktik kebidanan. Meskipun angka kejadiannya hanya sekitar 3“5 persen dari seluruh kehamilan, kondisi ini menjadi penyebab hampir 40 persen kelahiran prematur. Salah satu komplikasi yang paling serius dan ditakuti pada PPROM adalah chorioamnionitis, yakni infeksi dan inflamasi pada selaput ketuban dan plasenta. Infeksi ini dapat terjadi pada 30 hingga 80 persen kasus PPROM dan berdampak langsung pada keselamatan ibu dan bayi. Ironisnya, meskipun chorioamnionitis sangat berbahaya, diagnosisnya tidak mudah ditegakkan. Banyak ibu hamil mengalami infeksi tanpa menunjukkan gejala klinis yang jelas. Metode diagnostik yang paling akurat, seperti analisis histopatologi plasenta atau kultur cairan ketuban melalui amniosentesis, membutuhkan fasilitas laboratorium tingkat lanjut, biaya tinggi, serta prosedur yang invasif. Di banyak daerah, terutama wilayah dengan sumber daya terbatas, metode ini tidak dapat diakses. Konsekuensinya, sebagian kasus infeksi laten tidak terdeteksi tepat waktu, sehingga meningkatkan risiko sepsis neonatal, kelahiran prematur yang lebih dini, bahkan kematian.
Berangkat dari kebutuhan akan metode deteksi dini yang lebih sederhana dan terjangkau, kami melakukan sebuah kajian sistematis dan meta-analisis untuk menilai potensi Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio (NLR) sebagai alat prediksi dini chorioamnionitis pada PPROM. NLR merupakan rasio antara neutrofil dan limfosit yang diperoleh dari pemeriksaan darah rutin. Pemeriksaan ini merupakan salah satu tes laboratorium yang paling dasar, tersedia di hampir seluruh fasilitas kesehatan, dan tidak memerlukan peralatan khusus. Kondisi peradangan dan infeksi diketahui dapat meningkatkan jumlah neutrofil dan menurunkan jumlah limfosit melalui mekanisme stres sistemik, sehingga peningkatan NLR dapat mencerminkan adanya proses inflamasi pada selaput ketuban bahkan sebelum gejala muncul. Studi ini merupakan meta-analisis pertama yang secara khusus mengevaluasi akurasi NLR dalam memprediksi chorioamnionitis pada PPROM. Menggunakan pendekatan PRISMA dan menganalisis data dari sepuluh penelitian dengan total 2.247 peserta, para peneliti mengevaluasi bagaimana NLR dapat membantu klinisi mengenali infeksi lebih cepat.
Hasil meta-analisis yang kami dapatkan menunjukkan bahwa NLR memiliki kemampuan deteksi yang cukup baik. Dalam memprediksi chorioamnionitis, NLR menunjukkan sensitivitas sebesar 75 persen dan spesifisitas 69 persen. Akurasi keseluruhan, yang tercermin dari nilai Area Under the Curve (AUC), mencapai 0.809 dan berada pada kategori baik. Temuan ini menunjukkan bahwa NLR cukup mampu mengenali sebagian besar kasus infeksi dan sekaligus membedakan perempuan dengan maupun tanpa chorioamnionitis. Menariknya, ketika analisis difokuskan pada kasus subklinis, yakni infeksi yang tidak disertai gejala fisik, kinerja NLR tetap konsisten. Sensitivitasnya mencapai 77 persen dengan spesifisitas 61 persen, dan AUC berada pada kisaran 0.782. Hal ini sangat penting karena sebagian besar kasus chorioamnionitis pada PPROM justru bersifat subklinis, sehingga sering tidak teridentifikasi tanpa penunjang diagnostik. Seluruh penelitian yang dianalisis dalam kajian ini juga menunjukkan bahwa nilai NLR selalu lebih tinggi pada kelompok dengan chorioamnionitis dibanding kelompok tanpa infeksi. Rentang nilai potong NLR yang digunakan dalam studi-studi tersebut bervariasi antara 4,99 hingga 7,75, namun tren peningkatan NLR pada kasus infeksi terlihat konsisten.
Dalam konteks pelayanan kesehatan di Indonesia, hasil ini memiliki relevansi besar. Pemeriksaan hitung darah lengkap merupakan layanan standar yang tersedia di hampir semua puskesmas dan rumah sakit. Penggunaan NLR sebagai alat skrining tidak memerlukan investasi alat baru, tidak menambah beban biaya signifikan, dan dapat diterapkan oleh tenaga kesehatan di semua tingkatan. Dengan mendeteksi risiko chorioamnionitis lebih awal melalui NLR, tenaga kesehatan dapat melakukan langkah-langkah preventif seperti percepatan rujukan, pemantauan ketat, atau intervensi obstetri yang lebih tepat waktu. Pendekatan ini tidak hanya membantu mencegah komplikasi berat seperti sepsis neonatal, tetapi juga berpotensi mengurangi kebutuhan perawatan intensif di NICU dan menurunkan angka kematian perinatal. Penting pula dicatat bahwa beberapa studi menunjukkan kombinasi NLR dengan biomarker lain, seperti C-reactive protein atau leukosit total, dapat meningkatkan akurasi prediksi. Meski demikian, sebagai alat skrining sederhana, NLR sudah memberikan nilai tambah yang signifikan, terutama di pusat layanan primer yang tidak memiliki akses ke pemeriksaan canggih.
Penelitian ini membuka peluang untuk pengembangan protokol skrining berbasis NLR dalam tata laksana PPROM, sekaligus mendorong penelitian lanjutan untuk menentukan nilai potong yang lebih seragam serta mengevaluasi kombinasi biomarker yang paling optimal. Dengan pendekatan yang lebih sistematis, NLR dapat berperan penting dalam mendukung pengambilan keputusan klinis dan meningkatkan keselamatan ibu dan bayi. Pada akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa NLR merupakan indikator sederhana namun menjanjikan dalam memprediksi chorioamnionitis pada PPROM. Dengan sifatnya yang mudah dilakukan, murah, dan tersedia luas, NLR dapat dijadikan alat skrining awal yang membantu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, terutama di daerah dengan keterbatasan sumber daya seperti Indonesia.
Penulis: Dr. Citrawati Dyah Kencono Wungu, dr., M.Si
Link artikel: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/neutrophil-to-lymphocyte-ratio-as-a-predictor-of-chorioamnionitis/





