51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Peranan Pemeriksaan Indeks Produk Akumulasi Lipid untuk Skrining Sindroma Metabolik pada Orang Dewasa

ilustrasi Sindroma Metabolik (sumber: hello sehat)

Sindroma metabolik (MetS) adalah sekelompok kelainan metabolisme yang ditandai dengan obesitas sentral (penumpukan lemak di area perut), gangguan kontrol gula darah, peningkatan kadar trigliserida, penurunan kadar kolesterol lipoprotein densitas tinggi/high density lipoprotein (HDL), peningkatan tekanan darah, dan resistensi insulin. MetS menjadi masalah kesehatan dan beban ekonomi yang serius dikarenakan angka kejadiannya yang tinggi di seluruh dunia dan terus meningkat jumlahnya, baik di negara maju maupun berkembang. Angka kejadian MetS di seluruh dunia bervariasi dari 12,5% hingga 31,4%, dengan Amerika dan Mediterania Timur sebagai wilayah dengan angka kejadian tertinggi. Menurut survei yang dilakukan pada orang dewasa di Amerika Serikat, angka kejadian MetS semakin meningkat dengan tren yang signifikan dari 37,6% pada tahun 2011“2012 menjadi 41,8% pada tahun 2017“2018.

MetS banyak dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, pembuluh darah, dan stroke serta meningkatkan angka kematian sebanyak 1,5 kali lipat. Selain itu, mengingat hubungannya yang erat dengan resistensi insulin, pengidap MetS berisiko tinggi terkena diabetes melitus tipe 2, yang dikenal sebagai penyakit kronis dengan berbagai komplikasi, termasuk penyakit arteri koroner, stroke, penyakit jantung, dan penyakit ginjal. Dengan demikian, penting sekali untuk melakukan identifikasi dini dan akurat terhadap individu yang berisiko tinggi mengalami MetS untuk mencegah komplikasi lebih lanjut terkait dengan perkembangan penyakit ini. Namun, kriteria diagnostik MetS saat ini rumit untuk dilakukan karena mencakup banyak komponen metabolik, sehingga membuat deteksi dini individu dengan MetS menjadi sulit. Oleh karena itu, akan lebih mudah menggunakan indikator yang lebih sederhana, cepat, dan murah dengan akurasi tinggi untuk skrining MetS, terutama pada populasi besar.

Pada tahun 2005, Kahn mengusulkan indeks baru yang aman dan praktis untuk mencerminkan kelebihan penumpukan lemak sentral di kalangan orang dewasa berdasarkan kombinasi dua pengukuran ekonomis, yaitu lingkar pinggang (weight circumference) dan kadar trigliserida (TG) yang diukur dalam keadaan puasa. Indeks ini kemudian disebut ˜produk akumulasi lipid™/lipid accumulation product (LAP). Rumus penghitungannya adalah: [lingkar pinggang (dalam cm) “ 65] × [kadar TG (mmol/L)] untuk pria, dan [lingkar pinggang (dalam cm) “ 58] × [kadar TG (mmol/L)] untuk wanita. LAP berhubungan erat dengan resistensi insulin dan telah dikaitkan dengan berbagai faktor risiko metabolik dan kardiovaskular.

Penelitian sebelumnya pada populasi pria dan wanita yang berbeda menunjukkan bahwa LAP memiliki kemampuan prediktif yang tinggi dan mengungguli indikator penumpukan lemak lainnya dalam mendeteksi MetS, seperti lingkar pinggang saja, indeks massa tubuh/body mass index (BMI), rasio pinggang-tinggi/waist-to-height ratio (WHtR), rasio pinggang-pinggul/waist-to-hip ratio (WHR), dan indeks adipositas visceral. Akan tetapi, keakuratan yang dilaporkan masih bervariasi antar penelitian. Selain itu, penelitian oleh Endukuru et al. menunjukkan temuan yang kontradiktif, dimana LAP ditemukan memiliki kekuatan yang lebih rendah dibandingkan beberapa indikator dalam mengidentifikasi MetS. Meskipun LAP umumnya menjadi fokus penelitian sebelumnya, hingga saat ini belum ada tinjauan yang menunjukkan bukti mengenai akurasi pemeriksaan LAP dan apakah LAP dapat digunakan untuk skrining MetS. Oleh karena itu, kami melakukan penelitian dengan desain tinjauan sistematis dan meta-analisis untuk mengeksplorasi kemampuan skrining LAP sebagai alat deteksi MetS pada pria dan wanita dewasa serta perbandingannya dengan indikator adipositas lainnya.

Pada penelitian kami, kami mendapatkan sebanyak empat puluh tiga artikel yang melibatkan 202.313 subyek penelitian (98.164 laki-laki dan 104.149 perempuan). Analisis kami menunjukkan bahwa LAP memiliki nilai sebanyak 45,92 dan 41,70 unit lebih tinggi pada pria dan wanita dengan MetS. LAP juga secara signifikan dikaitkan dengan peningkatan kejadian MetS sebanyak 1,07 kali pada pria dan 1,08 kali pada wanita. Pada pria, LAP dapat mendeteksi MetS dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi (85% dan 81%). Pada wanita, LAP memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang sedikit lebih rendah (83% dan 80%), namun masih termasuk baik. Sebagai alat skrining MetS, LAP memiliki sensitivitas dan spesifisitas sedang hingga tinggi dengan kurva AUSROC 0,88 pada pria maupun wanita, yang menunjukkan bahwa LAP memiliki kinerja yang sangat baik dalam mendeteksi MetS. LAP memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi untuk mendeteksi MetS dibandingkan dengan indeks massa tubuh (BMI), rasio pinggang-tinggi (WHtR), rasio pinggang-pinggul (WHR), indeks kebulatan tubuh (BRI), indeks bentuk tubuh (ABSI), indeks adipositas tubuh (BAI), indeks conicity (CI), lingkar pinggang (WC), dan indeks volume perut.

LAP pertama kali diperkenalkan sebagai alat yang lebih efektif dibandingkan BMI dalam mendeteksi risiko kardiovaskular pada orang dewasa. Prinsip LAP menggabungkan antara lingkar pinggang dan kadar trigliserida untuk menggambarkan perubahan anatomi dan fisiologis yang terkait dengan timbunan lemak perut. Lemak perut diketahui bersifat jahat dan berhubungan dengan berbagai macam penyakit metabolik. Pengukuran LAP digunakan untuk menunjukkan kapasitas tubuh manusia dalam menyimpan cadangan lemak. Oleh karena itu, peningkatan LAP mungkin mencerminkan kelebihan lipid pada jaringan tertentu, seperti hati, otot rangka, jantung, pembuluh darah, ginjal, dan pankreas, atau disebut juga adipositas visceral. LAP juga berkorelasi signifikan dengan beberapa komponen MetS, termasuk peningkatan tekanan darah, peningkatan kadar gula darah, dan penurunan kadar kolesterol HDL (kolesterol baik). Bukti ini mungkin menjelaskan hubungan yang signifikan antara LAP dan MetS dan tingginya akurasi skrining LAP. 

Secara umum, dapat disimpulkan bahwa LAP memiliki akurasi skrining yang memuaskan dan konsisten untuk MetS baik pada pria dan wanita, mengungguli indikator pemeriksaan lemak lainnya. Selain itu, LAP juga memiliki keunggulan berupa biaya yang lebih rendah dan metode yang lebih sederhana karena tidak memerlukan banyak pemeriksaan canggih, hanya bermodalkan pemeriksaan lingkar pinggang dan trigliserida saja. Mengingat meningkatnya angka kejadian MetS dan tingginya beban ekonomi akibat MetS, temuan penelitian ini dapat mendukung penerapan LAP dalam skrining populasi besar, terutama di daerah dengan sumber daya rendah. Penelitian lebih lanjut kami sarankan dapat dilakukan untuk menetapkan nilai batas LAP optimal yang bisa digunakan dalam praktik sehari-hari.  

Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu

Link artikel asli dapat dilihat pada:

AKSES CEPAT