51

51 Official Website

Perang Fitur di TikTok, Instagram, dan YouTube: Hegemoni Media vs. Masyarakat Siber

Media Sosial Mendorong Kita untuk Flexing? Ini Kata Dosen UNAIR
Media Sosial Mendorong Kita untuk Flexing? Ini Kata Dosen UNAIR

Budaya populer telah berkembang menjadi primadona yang dikagumi dan ditiru banyak orang. Ketertarikan masyarakat terhadap apa yang sedang trending meningkat drastis [1] (Esterlin et al, 1991). Masyarakat menjadi lebih tertarik mengikuti hal-hal yang viral dan terkenal [2, 3] (Berger, 2016; Rawi, 2019). Kehidupan menjadi bentuk industrialisasi budaya yang hidup dalam masyarakat industri, sehingga budaya populer dan budaya industri menjadi hal yang sama [4] (Fiske, 2011, hlm. 30). Media merupakan salah satu yang memperhalus daya tarik sesuatu. Media merupakan instrumen komunikasi yang dekat dengan masyarakat yang disertai dengan teknologi [5] (Nasrullah, 2017, hlm. 3). Hijavard [6] (2014) mendefinisikan media sebagai agen sosial yang memengaruhi seluruh aspek kehidupan sosial masyarakat. Media yang tengah berkembang dan memproduksi media baru sebagai hasil regenerasi media cetak dan elektronik [7] (Manovich, 2002). Media baru yang mulai diasosiasikan dengan generasi milenial [8, 9] (Simanjorang et al., 2022; Arviani, 2020) Adaptabilitas budaya, transformasi sosial, pertumbuhan ekonomi, bahkan politik semuanya dipengaruhi oleh hadirnya media baru [10] (Duffy, 2008).

Generasi milenial kini mulai tumbuh, berkembang, bahkan hidup dengan ciri-ciri media baru [11] (Kircaburun, 2020). Lebih terbuka, hiperinteraktif, setara, terhubung, kaya data, dan penuh dengan rekayasa atau manipulasi buatan. (Syahputra, hlm. 47, 2019).[12] Masyarakat dapat memanfaatkan platform media sosial seperti Youtube, Instagram, dan TikTok untuk menunjukkan kemandirian dan eksistensi mereka di dunia maya [13, 14, 15, 16] (Marsiana et al, 2022; Prabandari, 2020; Scharlach et al, 2023; Mishra et al, 2022). Akibat peningkatan jumlah pengguna, monetisasi di media sosial menjadi fitur yang menarik bagi pengguna. TikTok akhirnya membangun hegemoni melalui kumpulan data masif pengguna TikTok.

Jumlah data tersebut menjadi entitas penggerak (hegemoni) Instagram dan Youtube untuk membangun fitur yang sama sehingga dapat memanfaatkan peluang yang sebelumnya hanya dinikmati oleh TikTok. Alasan pemicu hegemoni timbal balik ini adalah kapitalisme. Filosofi kapitalisme telah membuka jalan bagi pertumbuhan pesat ketiga platform media sosial ini yang memberikan pengalaman siber-sosial yang sebanding dan seimbang.

Penulis: Rima Firdaus, S.Hum., M.Hum.

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

AKSES CEPAT