Wajah adalah penentu yang paling menonjol dari identifikasi individu. Perubahan bentuk wajah dapat memicu masalah praktis, fisik, atau psikologis. Tidak adanya tulang alveolar, baik lengkap atau parsial, akan menyebabkan penurunan tinggi wajah. Anomali kraniofasial kongenital seperti; celah atau sumbing bibir, alveolus, dan langit-langit, atau kelainan didapat seperti; atrofi tulang alveolar, trauma maksilofasial, dan tumor, dapat menyebabkan cacat tulang alveolar.
Cangkok tulang otologus adalah prosedur yang standar tatalaksana defek tulang alveolar. Namun, ada beberapa kelemahan cangkok tulang otologus antara lain; morbiditas area donor, limitasi donor, kebutuhan prosedur pembedahan kedua, nyeri pasca operasi serta peningkatan resiko dan komplikasi pasca operasi.
Secara konseptual, rekayasa jaringan tulangdapat dibagi menjadi tiga elemen yang saling berhubungan, yaitu : (1) biomaterial pembawa matriks/ perancah (scaffold), (2) sel dalam matriks/ perancah, dan (3) lingkungan atau situs penerima di mana asosiasi ini berada. Banyak penelitian telah melaporkan regenerasi tulang menggunakan sel punca mesenkimal dari jaringan adiposa.Dua fitur sel punca mesenkimal yang luar biasa relevan dengan imunitas, yaitu imunosupresi dan immunoprivilege. Imunosupresi menggambarkan fakta bahwa sel punca mesenkimal mampu menekan beberapa fungsi yang diberikan oleh beragam imunosit seperti sel T, B, dan NK. Immunoprivilege berarti bahwa MSC sendiri terlindungi dari mekanisme pertahanan imunologis.
Sel punca lemak telah menjadi subjek beberapa penelitian karena tersedia dalam jumlah banyak, kemudahan dalam persiapan dan aplikasi pada regenerasi tulang. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas rekonstruksi alveolar menggunakan cangkok tulang kanselus beku kering manusia dan beta trikalsium fosfat, masing-masing dikombinasikan dengan sel punca jaringan lemak manusia, kemudian dibandingkan dengan terapi standar yaitu, cangkok tulang otologus.
Defek kritis alveolar 5 脳 5 mm pada 36 tikus Wistar jantan dilakukan: cangkok tulang otologus; kombinasi cangkok tulang kanselus beku kering manusia dengan sel punca jaringan lemak manusia, dan kombinasi beta trikalsium fosfat dengan sel punca jaringan lemak manusia. Pada 1 dan 8 minggu setelah operasi, parameter osteogenesis; RUNX2, ALP, OSX,dan BMP2 (g/mL) diukur menggunakan imunohistokimia, sedangkan volume jaringan tulang (mm3), fraksi volume jaringan tulang (persentase), dan ketebalan trabekula tulang (mm) dinilai menggunakan micro-computed tomography (Mikro CT).
Satu minggu setelah operasi, Nilai RUNX2, OSX, ALP, dan BMP2 pada kelompok kombinasi beta trikalsium fosfat dengan sel punca jaringan lemak manusia lebih tinggi daripada kelompok cangkok tulang otologus (P <0.05). Hanya RUNX2 dan OSX yang ditemukan lebih tinggi pada kelompok cangkok tulang kanselus beku kering manusia dengan sel punca jaringan lemak manusia daripada kelompok cangkok tulang otologus, sementara ALP dan BMP2 lebih tinggi pada kelompok kombinasi beta trikalsium fosfat dengan sel punca jaringan lemak manusia daripada kelompokcangkok tulang kanselus beku kering manusia dengan sel punca jaringan lemak manusia. Mikro-CT mengungkapkan bahwa kelompok kombinasi beta trikalsium fosfat dengan sel punca jaringan lemak manusia memiliki ketebalan trabekula tulang yang lebih tinggi dari kelompok cangkok tulang otologus, dan kelompok cangkok tulang otologus memiliki ketebalan trabekula tulang yang lebih tinggi dari kelompok cangkok tulang kanselus beku kering manusia dengan sel punca jaringan lemak manusia (P <0.05).
Delapan minggu setelah operasi,Nilai RUNX2, OSX, ALP, dan BMP2 pada kedua kelompok kombinasi sel punca jaringan lemak manusia lebih tinggi dari kelompok cangkok tulang otologus (P <0.05). RUNX2 dan BMP2 ditemukan lebih tinggi pada kelompok cangkok tulang kanselus beku kering manusia dengan sel punca jaringan lemak manusia daripada kombinasi beta trikalsium fosfat dengan sel punca jaringan lemak manusia. Mikro-CT mengungkapkan bahwa kombinasi beta trikalsium fosfat dengan sel punca jaringan lemak manusia memiliki volume jaringan tulang dan ketebalan trabekula tulang yang lebih tinggi dari kelompok cangkok tulang otologus dan kelompok cangkok tulang kanselus beku kering manusia dengan sel punca jaringan lemak manusia (P <0.05).
Penelitian ini menyimpulkan sel punca jaringan lemak manusia eksogen memperkuat efektivitas cangkok tulang kanselus beku kering manusia dan beta trikalsium fosfat untuk mempercepat osteogenesis, osteokonduksi, dan osteoinduksi. Kombinasi beta trikalsium fosfat dengan sel punca jaringan lemak manusia menunjukkan hasil yang paling baik dalam pembentukan tulang, diikuti oleh kombinasi cangkok tulang kanselus beku kering manusia dengan sel punca jaringan lemak manusia, serta cangkok tulang otologus.
Keywords: craniofacial, alveolar repair, tissue engineering, bone tissue engineering, stem cells, innovation
Penulis : Dr. Indri Lakhsmi Putri, dr. Sp.BP-RE (KKF)
Data tambahan untuk artikel ini dapat ditemukan secara online di:





