51动漫

51动漫 Official Website

Perbaikan Klinis Lesi Likenoid Oral Setelah Penggantian Tambalan Amalgam

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Lesi likenoid oral merupakan kondisi peradangan pada mukosa mulut yang secara klinis dapat menyerupai lichen planus oral. Dalam praktik klinik, penting untuk membedakan lesi likenoid oral yang berhubungan dengan tambalan amalgam攌hususnya lesi kontak攄ari lichen planus oral idiopatik. Perbedaan ini krusial agar kesimpulan klinis yang diambil bersifat tepat dan tidak bias. Lesi klinis umumnya muncul secara unilateral atau terbatas pada area mukosa yang bersentuhan langsung dengan bahan restorasi gigi, tidak disertai keterlibatan jaringan di luar rongga mulut, serta sering menunjukkan penyembuhan setelah bahan restorasi amalgam diganti.

Secara histopatologis, lesi likenoid oral dan lichen planus oral dapat menunjukkan gambaran yang tumpang tindih, sehingga diagnosis tidak dapat bergantung pada pemeriksaan jaringan semata. Oleh karena itu, penegakan diagnosis memerlukan korelasi antara temuan klinis dan histopatologis, serta攁pabila memungkinkan攔espons terhadap uji eliminasi, yaitu penggantian bahan restorasi yang diduga menjadi pencetus. Untuk mengurangi risiko kesalahan klasifikasi, lesi likenoid oral idiopatik perlu dianalisis secara terpisah dari lesi kontak yang berhubungan langsung dengan amalgam.

Amalgam gigi telah lama digunakan sebagai bahan restorasi karena kekuatan, daya tahan, serta biaya yang relatif terjangkau. Bahan ini mengandung merkuri, perak, timah, dan tembaga. Namun, pada individu tertentu攖erutama mereka yang memiliki hipersensitivitas tipe IV攑aparan kronis terhadap amalgam dapat memicu reaksi inflamasi lokal pada mukosa mulut. Proses inflamasi yang dimediasi oleh sel T ini dapat berkembang menjadi lesi oral kronis yang menimbulkan keluhan signifikan, seperti nyeri, sensasi terbakar, serta gangguan fungsi makan dan berbicara.

Hingga saat ini, bukti ilmiah mengenai kemampuan penyembuhan lesi likenoid oral setelah penggantian amalgam masih menunjukkan hasil yang beragam. Sejumlah laporan menyebutkan terjadinya penyembuhan lengkap dalam hitungan minggu hingga bulan setelah amalgam diangkat, sementara laporan lain hanya menunjukkan perbaikan parsial atau bahkan tidak adanya perubahan. Variasi hasil ini diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain subtipe lesi, lamanya paparan amalgam, jenis bahan restorasi pengganti, serta kondisi imunologis pasien. Selain itu, perbedaan durasi tindak lanjut dan ketidakkonsistenan dalam pengukuran luaran antar penelitian menyulitkan perbandingan hasil serta perumusan rekomendasi praktik klinik yang baku.

Walaupun beberapa tinjauan pustaka dan laporan kasus telah membahas hubungan antara amalgam dan lesi likenoid oral, sebagian besar bukti yang tersedia masih bersifat deskriptif atau anekdotal. Pendekatan ini belum cukup untuk memberikan gambaran kuantitatif mengenai signifikansi klinis penggantian amalgam. Oleh karena itu, diperlukan tinjauan sistematis dan meta-analisis berkualitas tinggi guna mengintegrasikan data yang ada secara komprehensif, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor spesifik pasien maupun lesi yang dapat memengaruhi luaran klinis.

Dari perspektif kesehatan masyarakat, lesi likenoid oral tidak hanya berdampak pada fungsi rongga mulut, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis pasien. Dampak ini cenderung lebih besar pada kelompok rentan yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan spesialis dan bergantung pada bahan restorasi berbiaya rendah seperti amalgam. Dalam konteks kebijakan global, khususnya pengurangan bertahap penggunaan bahan kedokteran gigi yang mengandung merkuri sebagaimana diatur dalam Konvensi Minamata, lesi likenoid oral menjadi konsekuensi klinis yang relevan dan perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan klinis maupun kebijakan kesehatan.

Melalui tinjauan sistematis dan meta-analisis, penelitian ini menguji hipotesis bahwa penggantian tambalan amalgam dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya resolusi klinis lengkap pada lesi likenoid oral dibandingkan dengan tidak dilakukan penggantian. Selain menilai efek utama penggantian amalgam terhadap penyembuhan lesi, kajian ini juga mengevaluasi faktor-faktor yang berpotensi memengaruhi luaran, termasuk subtipe lesi, jenis bahan restorasi pengganti, serta kedekatan lesi dengan tambalan yang diduga sebagai penyebab. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat bagi praktik klinik dan perumusan kebijakan di bidang kesehatan gigi dan mulut.

Penulis: Prof. Dr. Dian Agustin Wahjuningrum, drg., Sp.KG. Subsp, KE(K)

Informasi lebih detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Harshita Kothari, Ajinkya M. Pawar, Pankaj Gupta, Alexander Maniangat Luke,

Mohamed Saleh Hamad Ingafou, Parmeet Banga, Mohmed Isaqali Karobari, Dian Agustin Wahjuningrum. [2026] Clinical resolution of oral lichenoid lesions after amalgam replacement: A systematic review and meta-analysis of observational studies.

AKSES CEPAT