Dalam konteks kesehatan masyarakat di Amerika Serikat, stroke menempati peringkat ketiga sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Menurut perkiraan American Heart Association tahun 2020, sekitar 795.000 orang Amerika mengalami stroke pada tahun tersebut, dengan rata-rata satu kasus stroke terjadi setiap 40 detik di Amerika Serikat.
Di tingkat global, prevalensi stroke pada tahun 2020 mencapai sekitar 104,2 juta orang, dengan tingkat prevalensi tertinggi terdapat di Asia Timur dan Tengah, termasuk Asia Tenggara. Hampir 87% dari kasus stroke adalah tipe iskemik, sementara sekitar 13% adalah tipe hemoragik, termasuk perdarahan subarachnoid (SAH) sebesar 3%.
Di Indonesia, prevalensi stroke adalah 8,3 per 1000 orang, dengan 33% di antaranya merupakan kasus stroke hemoragik. SAH yang disebabkan oleh pecahnya aneurisma memiliki tingkat kematian tertinggi, di mana hampir 50% pasien tidak mampu bertahan hidup lebih dari satu bulan setelah serangan. Meskipun aneurisma intrakranial yang pecah relatif jarang terjadi (sekitar 1 dari 10.000 orang), prevalensi aneurisma yang belum pecah cukup tinggi, meningkat seiring bertambahnya usia, memengaruhi lebih dari 2% populasi.
Aneurisma arteri koroid anterior (AChA) merupakan salah satu jenis aneurisma yang sulit diobati. Meskipun pembuluh darah ini kecil, insiden kasus AChA hanya menyumbang sekitar 2-5% dari total kasus aneurisma intrakranial, namun penanganan yang tidak tepat dapat menyebabkan hemiplegia kontralateral, defisit hemisensori, hemianopsia, dan gangguan bahasa pada hemisfer dominan. Meskipun klasifikasi AChA aneurisma semakin jelas dengan ketersediaan alat diagnostik yang baik, strategi pengobatan masih sering didasarkan pada pilihan subjektif dari ahli bedah.
Beberapa ahli bedah saraf menggunakan metode klipping, sementara yang lain menggunakan teknik coiling. Ketidakpastian dalam memilih metode pengobatan ini menghadirkan tantangan tersendiri dalam pengelolaan aneurisma arteri koroid anterior. Prosedur klipping AChA sendiri memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi, berkisar antara 6 hingga 33% dan 10 hingga 29%, secara berturut-turut.
Kemajuan endovaskular, termasuk coiling dengan bantuan stent dan balon, telah mengurangi morbiditas. Namun, dalam sebagian besar kasus, kebutuhan akan klipping mikrosurgical tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, pemahaman yang baik dan strategi khusus untuk manajemen klipping aneurisma arteri koroid anterior sangat diperlukan dalam penelitian ini.
Untuk memberikan kontribusi dalam bidang ini, sebuah tinjauan sistematis dilakukan oleh Fauzi dkk., (2023) dari 51动漫 – RSUD Dr. Soetomo Surabaya, penelitian yang telah diterbitkan dalam Neurosurgical Review (Springer) ini bertujuan untuk menyelidiki dan membandingkan efektivitas serta hasil jangka panjang dari dua prosedur berupa klipping dan coiling endovaskular dalam pengelolaan aneurisma arteri koroid anterior.
Penelitian ini menggunakan strategi pencarian literatur melalui Pubmed, The Cochrane Library, Database Medline, Directory of Open Access Journal, dan EBSCOHOST dengan kata kunci terkait seperti “anterior,” “choroid*,” dan “aneurysm*” dalam judul literatur. Seleksi materi penelitian dilakukan berdasarkan peninjauan judul dan abstrak studi yang memenuhi kriteria PICO yang ditetapkan.
Studi yang dimasukkan dalam tinjauan ini melibatkan uji klinis dengan desain uji acak terkontrol dan studi kohort prospektif atau retrospektif yang memeriksa aneurisma arteri koroid anterior. Intervensi yang dievaluasi meliputi klipping bedah atau coiling endovaskular, dengan penilaian hasil melibatkan variabel-variabel seperti mortalitas, perdarahan ulang, perawatan ulang, dan komplikasi pasca-prosedur.
Evaluasi risiko bias dilakukan dengan menggunakan skala Jadad untuk mengukur kualitas studi dan Risk of Bias (RoB) 2 untuk studi RCT; Newcastle揙ttawa Scale untuk kualitas studi dan ROBINS-I untuk risiko bias. Penelitian ini juga memperhatikan variabel sekunder, seperti usia, jenis kelamin, dan durasi pemantauan, untuk menentukan karakteristik subjek penelitian.
Dalam penelitian ini, terdapat 17 studi yang memenuhi syarat kelayakan, melibatkan total 1486 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok: kelompok yang menjalani klipping (1106 pasien) dan kelompok yang menjalani coiling endovaskular (380 pasien). Tingkat kematian pasien yang menjalani klipping adalah 1,8%, sedangkan tingkat kematian pasien yang menjalani coiling endovaskular adalah 2,34%.
Perdarahan ulang tidak terjadi pada pasien yang menjalani coiling endovaskular, namun terjadi pada 0,73% pasien yang menjalani klipping. Tingkat perawatan ulang pasien yang menjalani klipping adalah 0,27%, sementara pada coiling endovaskular mencapai 3,42%. Komplikasi pasca-prosedur terjadi pada 11,12% pasien yang menjalani coiling endovaskular dan 15,78% pasien yang menjalani klipping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik intervensi klipping memiliki tingkat kematian, reoperasi, dan komplikasi pasca-operasi yang lebih rendah dibandingkan dengan coiling endovaskular. Sementara itu, coiling endovaskular menghasilkan tingkat perdarahan ulang yang lebih rendah daripada klipping.
Penulis: Dr. Asra Al Fauzi, dr., Sp.BS.
Sumber: Al Fauzi A, Rahmatullah MI, Suroto NS, Utomo B, Fahmi A, Bajamal AH, Wahid BDJ, Wisnawa IWW. Comparison of outcomes between clipping and endovascular coiling in anterior choroidal artery aneurysm: a systematic review. Neurosurg Rev. 2023 Oct 20;46(1):276. doi:





