Produktivitas riset di perguruan tinggi harus diperhatikan karena merupakan kriteria penting dalam reputasi dan prestise suatu institusi. Ini juga merupakan komponen penting dalam pemeringkatan universitas dunia dan keputusan alokasi pendanaan. Institusi pemeringkat dunia seperti QS World University Ranking dan Times Higher Education memberikan bobot yang tinggi pada riset berkualitas dalam indikator penilaiannya, di mana kualitas riset berkontribusi 73,71% terhadap peringkat PT. Seperti diketahui, pemeringkatan perguruan tinggi sering digunakan oleh banyak pemangku kepentingan di PT karena dapat memberikan gambaran singkat mengenai berbagai dimensi mutu dalam perguruan tinggi.
Riset juga dapat menjadi batu loncatan bagi pembangunan negara dan berperan penting dalam meningkatkan kekayaan ekonomi suatu negara dan kesejahteraan warga negaranya. Hal ini didukung oleh dampak riset secara langsung, tidak langsung dan mengalir yang mengarah pada penambahan nilai tambah, kapasitas produksi (teknologi) dan surplus konsumen. Fakta-fakta ini mendorong PT untuk memperkuat kemampuan risetnya, menetapkan tujuan strategis, dan mengintensifkan produktivitasnya. Akibatnya, banyak negara di Asia (misalnya Cina, Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Korea Selatan) baru-baru ini menunjukkan kemampuan riset dan posisi ilmiah mereka.
Selama dekade terakhir, riset di Asia telah menunjukkan bahwa mereka berusaha mengejar Amerika Utara dan Eropa. Berdasarkan metadata SciVal (2020), riset di Asia periode 2010 “ 2019 menempati porsi terbesar (35,73% dari total publikasi dunia sedangkan dekade sebelumnya hanya 26,88%). Kontributor terbesar untuk publikasi kolektif Asia adalah Cina (43,32%), India (12,03%) dan Jepang (11,82%). Namun pencapaian ini berbeda dengan total riset di ASEAN yang hanya mencapai 2,64% dari publikasi dunia atau 7,39% dari publikasi Asia. Bahkan, dari sudut pandang ekonomi, negara-negara ASEAN (dengan lebih dari 600 juta orang dan PDB nominal $2,31 triliun) dianggap sebagai hotspot ekonomi dunia. Mereka adalah kekuatan ekonomi utama di Asia dan pendorong pertumbuhan global. Sebagai hotspot ekonomi, ASEAN membutuhkan inovasi yang didukung oleh produktivitas riset untuk mempertahankan pertumbuhan ekonominya yang tinggi.
Kajian ini memperluas cakupan produktivitas riset di tingkat negara di ASEAN dengan melihat seluruh kinerja bidang ilmu, khususnya bidang ilmu yang belum ada pada riset-riset sebelumnya. Dengan memahaminya, pembuat kebijakan dapat memilih dan mengembangkan area spesifik yang memungkinkan negaranya mengejar ketertinggalan dalam hal inovasi dan teknologi melalui paten yang diberikan. Dengan demikian, dapat menopang pertumbuhan ekonominya di masa mendatang.
Untuk menjawab pertanyaan riset, kami melakukan analisis yang mencakup beberapa tahapan. Analisis kami dimulai dengan melihat tren kronologis publikasi dan sitasi untuk mengetahui kondisi publikasi secara umum di kawasan ASEAN selama 10 tahun terakhir. Perbandingan selanjutnya dilakukan dengan menggunakan metrik produktivitas dan dampak kutipan sebagai indikator kuantitas dan kualitas publikasi. Melalui dua kelompok metrik ini, tingkat publikasi di setiap negara dan dampaknya terhadap riset lain secara umum dapat diketahui. Kami juga membuat perbandingan antara jumlah kutipan paten publikasi yang dihasilkan dengan menghitung tingkat konversi paten per negara. Temuan dari seluruh rangkaian tahapan memberikan perspektif hasil akademik yang menjadi perhatian kami termasuk peringkat universitas yang tidak merata, kemampuan inovasi yang rendah, dan PDB per kapita yang rendah di kawasan ASEAN.
Wawasan dari riset ini menawarkan implikasi bagi institusi pendidikan tinggi dan pemerintah di negara-negara ASEAN. Negara dan PT dapat menggunakan legitimasi pentingnya pemeringkatan universitas di tingkat global untuk mengakselerasi produktivitas riset mereka. Pemerintah dan PT juga perlu membuat strategi untuk mendukung dampak dari publikasi yang dihasilkan baik melalui sitasi maupun paten yang mengutip publikasi tersebut. Kebijakan paten yang jelas juga perlu dibuat di PT karena kebijakan ini akan mendorong komersialisasi riset serta menentukan hak dan tanggung jawab yang terlibat dalam komersialisasi hasil riset. Negara juga perlu meningkatkan persentase PDB yang diinvestasikan dalam riset dan pengembangan ilmiah. Hasil riset ini juga menunjukkan bahwa sektor LSM (Life Science and Medicine) mampu memberikan sitasi terbesar bagi negara-negara ASEAN. Negara-negara ASEAN perlu menyesuaikan strateginya untuk mengoptimalkan potensi tersebut agar dapat menjadi lokomotif pertumbuhan di masa depan.
Beberapa kontribusi riset ini adalah: Pertama, kami menginvestigasi produktivitas riset di tingkat negara di kawasan ASEAN untuk mengembangkan riset sebelumnya yang hanya mencakup PT tingkat atas di Asia. Riset terkait produktivitas riset di Asia masih terbatas karena didominasi oleh Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Eropa Barat. Kontribusi ini dapat menjadi referensi bagi para peneliti dan editor untuk mengetahui bahwa masih banyak daerah yang dapat disasar untuk mendiversifikasi konteks riset yang ada. Kedua, kami mengkaji semua bidang ilmu dan per bidang ilmu, sedangkan riset sebelumnya yang fokus pada kawasan ASEAN hanya melihat bidang ilmu tertentu, seperti energi dan bahan bakar, pendidikan dan psikologi, ilmu perpustakaan, dan ekonomi. Ketiga, kami melihat seluruh rangkaian metrik dampak ekonomi yang terkandung dalam SciVal. Dampak ekonomi pada pemeriksaan kinerja riset sebelumnya di negara BRICS hanya mencakup variabel kutipan paten per keluaran ilmiah. Terakhir, kami menambahkan analisis tingkat konversi publikasi ke jumlah paten yang diabaikan dalam studi sebelumnya.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Badri Munir Sukoco, Rizky Ananda Putra, Humam Nur Muqaffi, Muhammad Vinka Lutfian, and Hendro Wicaksono (2021). Comparative studies of ASEAN research productivity, Sage Open, 13(1), 1-14, DOI:





