Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat ekspresi mHLA-DR antara pasien COVID-19 dan subjek sehat terkait disregulasi sistem imun yang dapat dipicu oleh SARS-CoV-2 dan menyebabkan imunosupresi. Metode: Ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang yang mengukur ekspresi mHLA-DR dalam sampel darah EDTA dari 34 pasien COVID-19 dan 15 subjek sehat menggunakan BD FACSLyricTM Flow Cytometry System. Berdasarkan uji Mann-Whitney U, ekspresi mHLA-DR pada pasien COVID-19 secara signifikan berbeda dengan ekspresi mHLA-DR pada subjek sehat (p = 0,010)
Tingkat ekspresi mHLA-DR pada pasien COVID-19 lebih rendah dan berbeda secara signifikan dengan subjek sehat. Efek sitopatik virus dan kemampuannya untuk mengalahkan respon imun menentukan tingkat keparahan infeksi pada pasien COVID-19.2 Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa infeksi SARS-CoV-2 dapat memicu disregulasi imun dan imunosupresi yang berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit pada pasien COVID-19.3-5 Beberapa disregulasi respon imun pada pasien COVID-19 dapat dipicu oleh produksi sitokin proinflamasi yang berlebihan.3 Produksi sitokin proinflamasi yang berlebihan ini menyebabkan gangguan presentasi antigen dengan menghambat ekspresi molekul HLA-DR.6 Molekul HLA-DR adalah glikoprotein transmembran yang berperan dalam presentasi antigen dan aktivasi sel T.5 Tahap presentasi antigen ke limfosit sangat penting untuk mengaktifkan respons imun adaptif dan respons imun berkelanjutan untuk membersihkan patogen.7 Zmijewski & Pittet (2020) menyebutkan bahwa HLA-DR adalah antigen leukosit manusia (HLA) kelas II yang diekspresikan pada permukaan sel penyaji antigen (APC), seperti monosit, makrofag yang terdiferensiasi, sel dendritik, dan sel limfosit B.8 mHLA-DR adalah HLA-DR yang diekspresikan di permukaan monosit.
Selain itu, ini adalah respons seluler lini pertama yang memulai dan meningkatkan respons imun adaptif.9 mHLADR yang diekspresikan pada monosit CD14+ memainkan peran penting dalam mensinapsiskan kekebalan bawaan dengan kekebalan adaptif pada penyakit menular.10 Penurunan ekspresi mHLA-DR pada monosit CD14+ merupakan keadaan imunosupresi, juga mengacu pada penekanan imunosupresi yang terkait dengan cedera.9 Seperti pada kasus sepsis, ekspresi HLA-DR pada monosit diharapkan dapat menjadi penanda yang dapat diandalkan untuk mengevaluasi disfungsi imun pada pasien COVID-19.11,9 Studi terbaru mengkonfirmasi bahwa disregulasi imun dan imunosupresi pada pasien COVID-19 dengan gagal napas berhubungan secara signifikan dengan penurunan regulasi mHLA-DR.3 Pemantauan disfungsi imun pada pasien COVID-19 masih belum menjadi perhatian penuh karena umumnya tidak dimonitor dalam rutinitas klinis selama perawatan pasien, terutama di Indonesia.
Penulis utama : Musholli Himmatun Nabilah,Puspa Wardhani,Aryati Aryati,Yetti Hernaningsih,Bambang Pujo Semedi
Artikel indi bisa di download di :





