51动漫

51动漫 Official Website

Perbedaan Ekspresi Interleukin-6 (Il-6) dan Interleukin-17 (Il-17) pada Jaringan Paru Penderita Covid-19

Foto by Alomedika

Sejak ditemukan pada bulan Desember 2019, Corona Virus Disease (COVID-19) yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus 2 (SARS CoV-2) telah menyebar dengan cepat ke seluruh dunia (Zhou et al., 2020). Data WHO pada bulan Maret 2021 menyatakan terdapat 125 juta kasus terkonfirmasi COVID-19 dengan angka kematian sebanyak 2,8 juta jiwa. Kurangnya pengetahuan mengenai karakteristik virus serta pathogenesis penyakit yang kompleks menyebabkan perjalanan penyakit ini sulit diprediksi. Hal ini menyebabkan pentingnya berbagai penelitian baik antemortem maupun post mortem untuk mengetahui kelainan molekular yang berperan pada COVID-19.

Patogenesis COVID-19 secara umum dapat dikategorikan dalam tiga fase yang saling berurutan dan tumpang tindih, yaitu fase pulmoner, fase proinflamasi dan fase protrombotik (Lee & Choi, 2021). Pada fase proinflamasi, SARS CoV2 menyebabkan pelepasan sitokin proinflamasi dengan jumlah yang sangat banyak yang menyebabkan pneumonia interstisial dan acute respiratory distress syndrome (ARDS). Pada keadaan yang lebih lanjut akan berkembang menjadi sepsis dan badai sitokin (cytokine storm) dengan gambaran hiperkoagulabilitas dan disfungsi multiorgan (Lee & Choi, 2021; Maiese et al, 2020). Beberapa jenis sitokin diketahui berperan dalam pathogenesis COVID-19. Di antara sitokin-sitokin tersebut, IL-6 dan IL-17 diketahui berperan penting dan mempengaruhi fatalitas penyakit, dimana kadar keduanya diketahui meningkat dalam darah (Mendoza, 2020; Ruiz et al., 2020; Shibabaw, 2020; Zhou et al., 2020). Namun demikian, belum banyak penelitian yang mempelajari peran kedua marker tersebut pada jaringan paru penderita COVID-19.

Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya perbedaan dan korelasi ekspresi IL-6 dan Il-17 pada jaringan paru post mortem penderita COVID-19 dengan penderita non COVID. Rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah 15 blok parafin jaringan paru yang diambil dari masing-masing kelompok penderita dengan COVID-19 dan penderita dengan pneumonia non COVID. IL-6 dan IL-17 dievaluasi dengan pemeriksaan imunohistokimia terhadap kedua antibodi tersebut dan dianalisis secara statistik.

Data yang didapat dari penelitian ini menunjukkan rerata ekspresi IL-6 pada kelompok COVID-19 adalah 80,67% 卤 7,03, sedangkan pada kelompok non COVID-19 adalah 21,50 卤 11,60. Rerata ekspresi IL-17 pada kelompok COVID-19 adalah 75,33% 卤 14,93, dan pada kelompok non COVID-19 adalah 21,50 卤 17,31. Hasil analisis statistik menunjukan adanya perbedaan bermakna antara ekspresi IL-6 dan IL-17 pada kelompok COVID-19 dan kelompok non COVID-19 dengan masing-masing nilai p=0.001 (p< 0.05). Hasil ini sesuai dengan penelitian lain dengan menilai kadar IL-6 dan IL-17 pada serum dan merupakan indikator prognosis yang buruk (Feng et al, 2021; Kang et al, 2021; Pourgholaminejad et al, 2022).

Penelitian ini juga menilai korelasi antara ekspresi IL-6 and IL-17 pada kedua kelompok, dimana menunjukkan adanya korelasi yang positif dan signifikan dengan nilai p = 0.001 (p < 0.05) dan nilai korelasi Spearman (rs) = 0.779. Pada kelompok penderita COVID-19, didapatkan pula korelasi yang signifikan antara ekspresi IL-6 dan IL-17. Hasil analisis statistik dengan uji korelasi Spearman menunjukkan nilai koefisien Spearman (rs) sebesar 0,548 dengan p = 0,034 (p< 0.05). Hal ini berarti semakin tinggi ekspresi IL-6, semakin tinggi pula ekspresi IL-17.

Peran IL-6 dalam proses inflamasi termasuk infeksi COVID seperti pedang bermata dua, karena memiliki dua efek, yaitu pro- dan anti inflamasi (Santa Cruz et al, 2021; Shekhawat et al, 2021). Pada pro inflamasi, salah satu fungsi IL-6 adalah dalam aktivasi dan diferensiasi Th17 dan induksi sel limfosit T CD8. IL-6 akan menyebabkan produksi IL-17 dan ekspresi molekul antiapoptosis sehingga meningkatkan survival sel yang terinfeksi virus dan memblok proses destruksi oleh sel T sitotoksik (Hou et al, 2009).  IL-17 akan menyebabkan migrasi neutrofil ke paru sehingga menyebabkan kerusakan jaringan selama proses inflamasi (Shekhawat et al, 2021). IL-17 juga berperan dalam pelepasan sitokin dan kemokin inflamasi lain seperti IL-1, IL-6, TNF-伪, macrophage inflammatory protein-2 (MIP-2), dan IL-8 (Shekhawat et al., 2021).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa IL-6 dan IL-17 memiliki peran penting pada patogenesis COVID-19, terutama pada jaringan paru. Interaksi yang sinergis antara IL-17 dan IL-6 memegang peran penting dalam terbentuknya fibrosis paru dan ketidakseimbangan sistem respirasi pada penderita COVID-19. Pengukuran kadar IL-6 dan IL-17 dapat digunakan sebagai prediktor fatalitas penyakit, kebutuhan penggunaan alat bantu nafas serta terapi target potensial.

Artikel ini ditulis berdasarkan jurnal berjudul

Differences in Interleukin-6 and Interleukin-17 expression in COVID-19 post-mortem lung tissue biopsy compared with non COVID-19

Kusumastuti EH, Wiratama PA, Ariani G, Djuanda SN, Rahniayu A, Kurniasari N, et al.

Pharmacognosy Journal, Vol 14, Issue 6 (Suppl), Nov-Dec, 2022

AKSES CEPAT