Gejala gangguan pencernaan yang berulang dapat menjadi masalah serius dan tentunya mengganggu produktivitas, termasuk di kalangan mahasiswa (Cheng, et. al., 2022). Mahasiswa kedokteran dikenal sibuk dengan perkuliahan dan organisasi. Gaya hidup ini sering kali menyebabkan pola makan yang tidak teratur dan asal-asalan, yang berdampak pada munculnya berbagai gejala gangguan pencernaan atau gastrointestinal. Prevalensi penyakit lambung di Amerika Serikat hampir mencapai 20% (Grundmann, et. al., 2010) dan nyeri perut merupakan gangguan yang paling sering terjadi pada pasien rawat jalan (Sandler, et. al., 2002).
Gangguan gastrointestinal tipe fungsional sangat umum terjadi dengan prevalensi di seluruh dunia sebesar 40%, lebih sering terjadi pada wanita daripada pria dan menurun seiring bertambahnya usia (Sperber, et., al., 2020). Gangguan gastrointestinal yang paling umum adalah dispepsia tipe fungsional (Hauser, et. al., 2022). Prevalensi dispepsia fungsional bervariasi di beberapa bagian dunia. Seperti pada contoh, di negara-negara Barat, prevalensinya termasuk yang tertinggi yaitu sekitar 10-40%, termasuk Amerika Serikat, sedangkan di negara-negara Asia, prevalensinya adalah 5-30%. Secara global, dapat dikatakan bahwa prevalensi dispepsia fungsional adalah 5-11% (Aziz, et. al., 2019). Sedangkan penelitian yang dilakukan di Asia menunjukkan prevalensi masing-masing sebesar 12,9%, 20,9%, 4,6%, 4% dan 5,4% di Bangladesh, Singapura, Cina, India dan Hong Kong (Gwee, et. al., 2018). Indikasi lainnya adalah nyeri lambung yang terus menerus yang mengganggu kehidupan sehari-hari dan berdampak buruk pada kualitas hidup (Monniker, et. al., 2011).
Beberapa faktor yang menyebabkan gangguan gastrointestinal adalah asupan makanan yang tidak sehat dan pola makan yang tidak teratur. Konstipasi fungsional pada remaja juga memiliki prevalensi yang berbeda di negara-negara berikut: 18,2% di Brasil, 15,6% di Hong Kong, dan 12,7% di Kolombia (Costa, et.al., 2011). Penelitian di Semarang, Indonesia menunjukkan kejadian konstipasi yang lebih tinggi, yaitu 68,5% pada remaja dan di Jakarta, Indonesia, 36,9% pada mahasiswa (Claudina, et. al., 2018).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan gejala gastrointestinal pada mahasiswa kedokteran tahun kedua dan kelima. Manfaat dari pemikiran ini adalah sebagai bahan masukan bagi dosen atau pertimbangan pembimbing program dalam melakukan tindakan preventif terhadap mahasiswa yang rentan mengalami gejala gangguan pencernaan pada mahasiswa kedokteran hingga lulus menjadi dokter. Penapisan terhadap mahasiswa yang rentan mengalami gejala gangguan pencernaan dapat diberikan penanganan khusus agar nantinya ketika sudah bekerja sebagai calon dokter memiliki kesehatan yang optimal.
Pada hasil penelitian ini, gangguan gastrointestinal yang muncul pada mahasiswa tahun kedua dan kelima tidak memiliki perbedaan signifikan untuk gejala gangguan refluks, nyeri perut, dispepsia, dan diare (p>0,05). Hanya satu gejala gangguan gastrointestinal yang ditemukan memiliki perbedaan signifikan antara kedua kelompok tersebut, yaitu obstruksi atau sembelit (p<0,05). Namun, skor rata-rata prevalensi gejala gangguan gastrointestinal pada kelompok mahasiswa tahun kedua lebih tinggi dibandingkan pada kelompok mahasiswa tahun kelima. Artinya, ada kecenderungan gejala gangguan gastrointestinal muncul pada kelompok mahasiswa tahun kedua. Gejala gangguan gastrointestinal yang dimaksud adalah jika terdapat hasil gabungan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan motilitas usus, peningkatan sensitivitas saraf usus.
Faktor-faktor lain seperti kesalahan dalam pengaturan interaksi juga dapat terjadi antara otak dan usus. Faktor-faktor tersebut juga dapat dipengaruhi dari luar, yaitu pengaruh psikologis dan sosial. Selain itu, gangguan dapat disebabkan oleh kebiasaan tidur yang buruk, asupan makanan yang buruk, pola makan, kebiasaan olahraga, gaya hidup, dan stres yang berlebihan (Miwa, et., al., 2012). Efek jangka panjang dari gejala gastrointestinal meliputi penurunan kualitas hidup individu (Yulia, et., al., 2018).
Penulis: Eka Arum Cahyaning Putri, dr., M.Kes.; Muhammad Naufal Razzan Maghribi; Muhammad Nabiel Firdausi; Emilda Puteri Aulia; Hayuris Kinandita Setiawan, dr., M.Si.; Rimbun Rimbun, dr., M.Si.; Raden Argarini, dr., M.Kes., Ph.D.; Annisa Zahra Mufida, dr., M.Kes., Sp.PD.; Amie Vidyani, dr., Sp.PD. KGEH; Misbakhul Munir, dr., M.Kes.
Informasi detail dari review artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





