51动漫

51动漫 Official Website

Perbedaan Sosioekonomi pada Kasus Kekerasan oleh Pasangan terhadap Wanita Menikah di Indonesia: Apakah Kemiskinan Mempengaruhi?

IL by detikNews

Kemiskinan adalah situasi yang mendorong wanita mengalami kekerasan dalam rumah tangga. WHO mencatat sebanyak 30% wanita mengalami kekerasan dari pasangan mereka secara global. Sedangkan di Indonesia, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi ini seperti fenomena gunung es karena banyak kasus kekerasan terhadap perempuan yang tidak dilaporkan. Berdasarkan survei nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Indonesia pada tahun 2016 menyatakan bahwa perempuan usia 15-64 tahun, sebanyak 12,3% mengalami kekerasan fisik, dan 10,6% mengalami kekerasan oleh pasangan mereka (Kementerian PPPA, 2017). Survei lain yang dilakukan di Indonesia melaporkan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia pada tahun 2017 sebanyak 348.466 kasus, pada tahun 2018 sebanyak 406.178 kasus, dan masih meningkat pada tahun 2019 menjadi 431.471 kasus (Komisi Nasional Perempuan, 2020).

Secara global, kekerasan terhadap perempuan terkait dengan norma sosial patriarki. Indonesia merupakan salah satu negara yang menganut budaya tersebut. Budaya patriarki di Indonesia secara tidak langsung memberikan nilai-nilai sosial yang membatasi ruang gerak perempuan pada aspek sosial dan ekonomi sehingga perempuan rentan terhadap kemiskinan (Pratiwi et al., 2019). Situasi ini membatasi perempuan dengan kemiskinan dalam peran ganda sebagai pengurus rumah tangga dan mencari nafkah untuk keluarga.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus kekerasan oleh pasangan intim pada wanita menikah yang paling miskin memiliki proporsi lebih besar dibandingkan dengan kategori status kekayaan lainnya. Berbagai penelitian sebelumnya telah mendukung temuan ini, dengan menekankan bahwa kesulitan materi dan hambatan ekonomi merupakan pemicu kekerasan dalam hubungan intim. Penelitian ini juga menemukan faktor-faktor lain yang menjadi penentu kekerasan oleh pasangan intim di Indonesia, meliputi jenis tempat tinggal, kelompok usia, tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan aktivitas seksual terkini dalam empat minggu terakhir. Wanita menikah yang tinggal di daerah pedesaan lebih mungkin mengalami kekerasan oleh pasangan intim. Dalam konteks budaya Indonesia, terutama di daerah pedesaan, perempuan bertanggung jawab atas urusan rumah tangga, sementara laki-laki bertanggung jawab atas hal-hal yang lebih penting. Sistem patriarki inilah yang meningkatkan kerentanaan wanita yang tinggal di pedesaan untuk mengalami kekerasan.

Sementara itu, berdasarkan kelompok usia, ditemukan bahwa semakin tua wanita menikah, semakin kecil kemungkinan mereka mengalami kekerasan oleh pasangan intim di Indonesia. Lamanya kebersamaan cenderung mengurangi kejadian kekerasan oleh pasangan intim. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi juga mendorong wanita memiliki kekuatan tawar yang lebih baik dengan pasangan mereka. Selain itu, wanita menjadi lebih mandiri dalam menentukan nasib mereka sendiri (Laksono et al., 2020). Secara umum, pendidikan adalah salah satu prediktor yang berpengaruh positif terhadap hampir semua aspek di sektor kesehatan.

Wanita menikah yang bekerja memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk mengalami kekerasan dibandingkan dengan wanita menikah yang tidak bekerja. Kehidupan dengan mertua juga menjadi faktor risiko bagi wanita menikah untuk mengalami kekerasan oleh pasangan intim. Tinggal bersama mertua berarti memasuki keluarga dengan budaya yang berbeda dari keluarga sebelumnya bagi wanita tersebut.

Berdasarkan aktivitas seksual terkini dalam empat minggu terakhir, wanita menikah yang aktif secara seksual memiliki kemungkinan lebih tinggi daripada wanita menikah yang belum pernah berhubungan seks untuk mengalami kekerasan oleh pasangan intim di Indonesia. Meskipun perbedaannya tidak terlalu signifikan, wanita yang terlibat secara seksual dengan pasangan mereka cenderung lebih rentan mengalami kekerasan oleh pasangan intim.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa kemiskinan merupakan faktor risiko kekerasan oleh pasangan intim terhadap wanita menikah di Indonesia. Semakin rendah status sosial-ekonomi, semakin besar risiko kekerasan oleh pasangan intim. Para pembuat kebijakan perlu merumuskan kebijakan yang ditujukan kepada kelompok sasaran yang spesifik. Sasaran khusus tersebut adalah perempuan miskin yang tinggal di daerah pedesaan, berusia muda, memiliki pendidikan rendah, bekerja, dan aktif secara seksual.

Penulis: Ratna Dwi Wulandari, Fakultas Kesehatan Masyarakat, 51动漫

Sumber: Laksono AD, Wulandari RD, Matahari R, Suharmiati. Socioeconomic differences of intimate partner violence among married women in Indonesia: Does poverty matter? Indian J Community Med 2023;48:304-9. Link Artikel: DOI:

AKSES CEPAT