51动漫

51动漫 Official Website

Performa Anabas testudineus dan Sawi Hijau dengan Sistem NFT Akuaponik untuk Pembudidaya Skala Kecil di Indonesia

Anabas testudineus atau dikenal dengan ikan Betok di pulau Jawa merupakan salah satu ikan ekonomis penting yang bergizi tinggi. Ikan yang dikenal dengan nama papuyu bagi masyarakat Kalimantan ini menjadi bahan utama untuk olahan makanan khas disana. Dimana permintaannya mencapai lebih dari enam ribu ton pada tahun 2017. Meningkatnya permintaan ikan ini berdampak pada semakin jarangnya  ukuran konsumsi yang ditemukan di alam liar. Di Indonesia, ikan ini terbilang jarang di budidayakan layaknya ikan konsumsi yang lain. Karena sifatnya yang bisa memanjat atau melompat banyak alasan lain seperti pertumbuhan yang lambat dan sebagainya menjadi alasanya. Akan tetapi, melihat prospek yang bagus ini, budidaya tertutup seperti yang sering dilakukan pada ikan nila atau ikan lele layak dicoba.

Budidaya system tertutup atau resirkulasi cocok untuk ikan Betok ini, mengingat ikan ini cukup survive pada kondisi oksigen terlarut yang terbatas. Selain ramah lingkungan system tertutup kombinasi dengan hidroponik (Aquaponik) layak di coba sebagai solusi budidaya ikan ini baik bagi masyarakat pedesaan atau perkotaan sekalipun. Secara teknis, budidaya sistem tertutup lebih ramah lingkungan, terutama karena meminimalkan penggunaan air, lahan, dan total bahan organik yang terbuang ke lingkungan.

Pada penelitian ini kami mengkombinasikan antara A. testudineus dengan bok choy (Brassica chinensis) pada system Aquaponik untuk mengetahui efektifitas pertumbuhan dari keduanya. Budidaya system tertutup ini dilakukan selama tiga bulan pada ember plastic volume air 50 L di laboratorium basah 51动漫, Kampus Banyuwangi, Jawa Timur. Setidaknya, 1.250 ekor benih A. testudineus dengan berat rata-rata 3,13 卤 0,09 g digunakan dalam penelitian ini. Perbedaan padat tebar menjadi perlakuan utama dalam penelitian ini yakni padat tebar 25 ekor, 50 ekor, 75 dan 100 ekor.

Hasil penelitian menunjukan Performa pertumbuhan spesifik terbaik pada perlakuan padat tebar 50 ekor dengan hasil sebesar (1,96 卤 0,15%), FCR (1,31 卤 0,13), dan tingkat kelangsungan hidup (88 卤 4,69%). Menariknya, pada pada tebar paling tinggi yang mana pertumbuhan ikan relatif lebih kecil dibanding dengan padat tebar rendah justru diperoleh laju pertumbuhan tanaman bok choy paling tinggi yaitu 20,7 卤 0,90 cm dan jumlah daun 10,68 卤 0,28. Hal ini, karena semakin padat ikan yang ditebar, bahan organic semakin tinggi. Hal ini tidak baik untuk ikan tapi baik sebagai nutrisi tanaman selama diuraikan dengan baik oleh bakteri pengurai. Dapat disimpulkan bahwa sistem akuaponik NFT dengan kepadatan 50 ekor/tangki dapat diaplikasikan pada peternakan skala kecil. Jumlah bahan organik yang dapat digunakan akar tanaman sebagai nutrisi merupakan faktor yang menentukan laju pertumbuhan B. chinensis selama didukung dengan microba pengurai yang baik. Akhir kata, aplikasi budidaya antara ikan betook dengan bok choy dengan system Aquaponik ini dapat dijasikan solusi bagi pembudidaya skala kecil dan menengah yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan dengan lahan yang sempit dan minim air.

Penulis: Suciyono, S.St.Pi., M.P.

Jurnal: Performance of Climbing Perch (Anabas testudineus) and Bok Choy (Brassica chinensis) in Aquaponics Systems Using Nutrient Film Technique in Indonesian Small-scale Livestock

AKSES CEPAT