Sejak merebaknya COVID-19 (Coronavirus Disease), jumlah kasus COVID-19 di seluruh dunia meningkat. Di Indonesia, jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19 mencapai 743.198 kasus dengan jumlah kematian 22.138 orang. Pada Mei 2020, Jawa Timur menduduki peringkat pertama kasus COVID-19. Pandemi COVID-19 juga berdampak pada kesejahteraan psikologis penyintas atau masyarakat. Pandemi tersebut memberikan dampak psikologis yang bervariasi seperti kecemasan, frustrasi, ketakutan tertular infeksi, insomnia, lekas marah, perubahan pola makan, dan penyalahgunaan zat.
Kelompok rentan yang dapat menderita masalah kesehatan psikososial selama pandemi COVID-19 meliputi wanita, orang tua, anak-anak, dan remaja. Hasil survei kesehatan mental yang dilakukan secara mandiri oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menemukan bahwa kelompok usia yang paling banyak mengalami masalah psikologis selama pandemi di Indonesia termasuk individu berusia 17“29 tahun dan di atas 60 tahun.
Masa remaja merupakan masa yang ditandai dengan kerentanan terhadap gangguan kesehatan mental. Sayangnya, remaja dengan gangguan kesehatan mental tidak memiliki akses ke layanan kesehatan mental karena layanan medis tidak dapat diakses atau masih terbatas di dekat tempat tinggal mereka. Hilangnya interaksi teman sebaya menyebabkan kecemasan pada remaja, yang berarti mereka kehilangan cara untuk berbagi masalah mereka. Setiap remaja memiliki cara untuk mengatasi kecemasan. Kemampuan remaja dalam mencari bantuan untuk mengatasi masalah kesehatan mental khususnya kecemasan pada masa pandemi COVID19 menjadi isu yang sangat penting.
Kami melakukan penelitian mengenai perilaku pencarian bantuan pada remaja yang mengalami gangguan kecemasan saat pandemi Covid-19 yang dilakukan pada bulan Mei 2021 dengan subjek penelitian remaja berusia 14“18 tahun yang berdomisili di kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur. Pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik non-probability sampling yaitu purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 122 remaja di Jawa Timur yang menggunakan media sosial. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner melalui Google Forms. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan diidentifikasi perbedaan perilaku mencari pertolongan pada remaja yang mengalami gangguan kecemasan selama pandemi COVID-19.
Mayoritas responden dalam penelitian ini (75%) mengalami kecemasan selama masa pandemi. Sebuah penelitian sebelumnya yang dilakukan di Indonesia menemukan bahwa remaja cenderung mengalami insiden kecemasan yang lebih tinggi selama pandemi COVID-19. Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki remaja lebih mungkin mengalami gangguan kecemasan dibandingkan remaja perempuan. Hal ini dikarenakan remaja laki-laki lebih sulit bergantung pada jejaring sosial untuk mendapatkan dukungan atas kecemasannya dibandingkan remaja perempuan. Namun, beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa perempuan umumnya lebih cenderung mengalami kecemasan selama pandemi COVID-19.
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara remaja yang mengalami gangguan kecemasan dan yang tidak mencari pertolongan. Namun penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa kecemasan dapat memprediksi perilaku mencari bantuan seseorang. Munculnya gejala dan meningkatnya masalah kesehatan mental yang dialami dapat membuat seseorang lebih aktif dalam mencari bantuan. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak signifikan perbedaan perilaku mencari pertolongan antara remaja laki-laki dan perempuan selama masa pandemi COVID-19. Namun pada umumnya remaja laki-laki bergantung pada pemikiran rasional, sedangkan remaja perempuan mengatasi kecemasan dengan berdoa dan mencari bantuan dari teman.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa upaya kedua yang paling banyak digunakan untuk menghilangkan kecemasan adalah dengan berbagi masalah dengan keluarga. Remaja yang mencari bantuan dari keluarganya merasa mendapat dukungan yang cukup dan tidak membutuhkan dukungan tambahan dari layanan kesehatan jiwa. Mencari bantuan dari informal sumber seperti teman dan keluarga berpotensi mengurangi dampak psikososial yang merugikan di kalangan remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan terbesar remaja tidak mencari bantuan adalah karena mereka merasa dapat mengatasi sendiri gangguan kecemasannya.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa salah satu penyebab remaja tidak mendapatkan pertolongan adalah tidak tersedianya layanan kesehatan jiwa di dekat tempat tinggal mereka. Dalam memberikan pelayanan kesehatan jiwa, Indonesia dinilai masih belum optimal. Program kesehatan jiwa masih belum menjadi prioritas dalam program kesehatan dasar di Indonesia. Di sisi lain, layanan kesehatan mental juga terbatas selama pandemi COVID-19. Fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan jiwa disarankan untuk memberikan kemudahan bagi remaja dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa yang dirasakan. Selain itu, remaja di Jawa Timur disarankan untuk berkonsultasi masalah kesehatan mentalnya dengan para ahli untuk mencari solusi yang relevan.
Penulis: Dr. Ernawaty, drg., M.Kes
Informasi lengkap dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di:
Erlian Indah Mustikawati, Ernawaty (2021). Differences in Help-Seeking Behavior in Adolescents with Anxiety Disorder During the COVID-19 Pandemic. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia 17(3).





