51动漫

51动漫 Official Website

Ketepatan Tahapan Pertumbuhan Gigi Sebagai Indikator Estimasi Usia pada Anak

Foto by Nakita ID

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat sejumlah 5.402 bencana telah terjadi di Indonesia dalam kurun waktu Januari hingga Desember 2021 dan menimbulkan lebih dari 700 korban meninggal dunia serta 14.915 korban luka. Proses identifikasi forensik diperlukan untuk mengungkap identitas setiap korban bencana massal. Hal ini penting dilakukan lantaran berkaitan erat dengan hak asasi manusia, aspek agama, budaya, status pernikahan, dan aspek keuangan. Berbagai macam metode identifikasi forensik telah dikembangkan untuk mengungkap identitas seseorang seperti jenis kelamin, usia, suku bangsa, ras, dan paternitas. Setiap metode yang dikembangkan tentu harus dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah di hadapan hukum yang berlaku.

Dalam Interpol DVI Guide 2018 telah dijelaskan bahwa DNA, gigi, dan sidik jari termasuk dalam kategori identifikasi primer karena memiliki tingkat ketepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode identifikasi yang lain. Keunggulan gigi dalam identifikasi individu telah diterima secara luas di kalangan ahli ilmu forensik karena gigi merupakan jaringan tubuh terkuat dan memiliki sifat individualitas yang tinggi. Melalui gigi dapat diketahui berbagai informasi penting seperti usia, jenis kelamin, dan sample DNA.

Berbagai penelitian tentang estimasi usia telah dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pemeriksaan forensik, diantaranya adalah metode estimasi usia melalui tulang sternoclavicular, hand-wrist, sutura cranium, dan pemeriksaan gigi. Metode estimasi usia melalui gigi telah dikembangkan sedemikian rupa untuk memenuhi berbagai persyaratan mediko-legal, penegakan hukum, dan identifikasi korban bencana massal. Metode estimasi usia melalui gigi dibagi menjadi 3 kategori berdasarkan kelompok usia yang akan dihitung, yaitu estimasi usia pada kelompok usia anak-anak, remaja, dan dewasa. Parameter pertumbuhan dan perkembangan gigi dapat digunakan untuk menghitung estimasi usia pada masa anak-anak dan remaja, sedangkan pada masa dewasa dapat digunakan parameter perubahan post-formation seperti aposisi dentine sekunder, atrisi, dan translusensi akar gigi.

Tahap pertumbuhan dan perkembangan gigi dipertimbangkan sebagai salah satu indikator estimasi usia yang akurat dan reliabel karena tidak banyak terpengaruh oleh faktor eksternal. Terdapat banyak metode estimasi usia yang dapat digunakan pada kelompok usia anak-anak dan remaja, seperti metode estimasi usia yang diperkenalkan oleh Demirjian, Willems, dan AlQahtani. Ketiga metode estimasi usia tersebut menggunakan parameter tumbuh kembang gigi sebagai salah satu indikator dalam memperkirakan usia seseorang. Namun, masing-masing metode memiliki tingkat ketepatan yang berbeda jika diterapkan pada populasi yang berbeda. Sebuah penelitian dari Olze dkk. menunjukkan hasil bahwa metode estimasi usia Demirjian dapat menggambarkan usia kronologis secara baik pada populasi Caucasian. Penelitian dari Ismail dkk., di Malaysia menemukan bahwa metode estimasi usia dari Willems menunjukkan tingkat akurasi yang baik pada rentang usia tertentu. Beberapa penelitian tentang estimasi usia anak di Indonesia juga menunjukkan hasil bahwa metode Willems memiliki tingkat akurasi yang baik pada anak laki-laki, namun pada anak perempuan perlu dilakukan perhitungan secara lebih detail dan teliti serta diperlukan metode pembanding untuk mendapatkan hasil yang baik. Secara umum, dalam melakukan perhitungan estimasi usia diperlukan ketelitian perhitungan berdasarkan parameter yang ada dan media yang tersedia untuk memperoleh hasil perhitungan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Penulis: Arofi Kurniawan, drg., Ph.D

Artikel telah terbit pada jurnal e-Gigi dengan judul: Accuracy of Tooth Development as an Indicator of Dental Age Estimation for Children in Indonesia

Tautan artikel jurnal:

AKSES CEPAT