UNAIR NEWS Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-71 di 51动漫 diisi dengan berbagai perlombaan. Dari tiga lomba yang diadakan, ada satu lomba yang banyak mencuri perhatian penonton dan peserta. Ialah lomba presenter bahasa Jawa. Lomba presenter Bahasa Jawa diikuti oleh jajaran petinggi universitas baik unit, lembaga, maupun fakultas, serta mahasiswa asing yang menempuh studi di UNAIR.
Ada empat warga asing yang mengikuti perlombaan presenter Bahasa Jawa. Mereka terdiri dari mahasiswa asing maupun mahasiswa asing yang magang di UNAIR. Yusra, mahasiswa asing yang magang di UNAIR asal Turki bercerita perihal pengalaman pertamanya berbicara menggunakan bahasa Jawa.
淗ari ini saya bergabung mengikuti kompetisi yang sulit bagi saya. Bahasa Jawa adalah sangat sangat sulit, ujarnya sambil tertawa.
淪aya telah di Surabaya selama enam minggu. Tinggal di sini sampai Oktober. Ini adalah pengalaman pertama kali dalam hidup saya mengikuti perayaan kemerdekaan di Indonesia. Im so excited, ujarnya.
Yusra tidak mempersiapkan teks presenter sebelumnya. Sehingga, dia cukup terbata-bata ketika harus melafalkan Bahasa Jawa. Namun hal ini justru membuat peserta dan penonton tertawa mendengar logatnya.
淪aya tidak mendapatkan teks sebelumnya, saya mendapatkan teks lima menit sebelum kompetisi presenter, sehingga saya baru saja membaca teksnya. Itu pengalaman pertama saya berbicara dalam bahasa Java, katanya.
Ada empat kriteria yang digunakan untuk menilai lomba presenter bahasa Jawa. Keempat kriteria tersebut yaitu kelancaran, lafal pengucapan, performace, dan gestur tubuh. Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak mengatakan, bukan kelihaian Bahasa Jawa yang penting dalam perlombaan kali ini.
淜riterianya, yang penting kelancarannya. Yang kita lihat kemauan mereka untuk tetap menggunakan bahasa Jawa. Bahwa mereka tidak melihat ini bahasa mereka atau bukan. Keterlibatan mereka mau dengan Bahasa jawa meskipun tidak terlalu lancar. Bukan di bahasa Jawa-nya, melainkan lebih ke kemauan dan semangat mereka untuk bersama-sama mengisi kemerdekaan,
ujar Prof Nasih. (*)
Penulis : Binti Q. Masruroh





