Secara global, kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak ke empat yang terjadi pada wanita. Pada tahun 2020 terdapat sekitar 604.000 kasus baru dan 324.000 kasus kematian akibat kanker servik di dunia. Sekitar 90% dari kasus baru dan kasus kematian tersebut, terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di negara maju, program pemberian vaksin HPV secara rutin untuk anak perempuan dan skrining dengan adekuat sudah ada. Sayangnya, tidak demikian di negara berpernghasilan rendah dan menengah. Akses untuk pencegahan kanker serviks di negara miskin dan berkembang relatif kurang. Oleh karena itu, mayoritas kasus baru dapat teridentifikasi ketika sudah muncul gejala. Selain itu, akses untuk terapi kanker serviks (seperti operasi) di negara miskin dan berkembang juga masih sangat terbatas. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya kasus kematian akibat kanker serviks di negara-negara tersebut.
Hasil Penelitian
Latar belakang inilah yang mendasari tim penelitian dari departemen obstetri dan ginekologi RSUD Dr. Soetomo untuk mempelajari perjalanan pasien kanker serviks dengan segala tantangannya, mulai dari munculnya gejala hingga terapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien mengalami keterlambatan diagnosis karena kurangnya informasi dan pemahaman terkait gejala awal dan skrining kanker serviks. Keterlambatan terapi juga terjadi karena berbagai hambatan sosial termasuk biaya, jarak tempat tinggal dan fasilitas kesehatan yang jauh, pengobatan alternatif, serta ketakutan akan terapi. Akibatnya, mayoritas pasien baru mendapatkan terapi pertamanya lebih dari 12 bulan sejak pertama kali merasakan gejala.
Temuan ini sangat disayangkan karena kanker serviks merupakan penyakit kanker yang sangat bisa dicegah dengan vaksinasi dan skrining rutin. Oleh karena itu pemerintah harus serius menangani masalah yang satu ini. Hendaknya pemerintah dapat menerapkan peraturan yang ketat terkait pencegahan dan deteksi dini kanker serviks di Indonesia. Kita juga harus mendukung pelaksanaan program pemeruntah terkait vaksinasi HPV pada anak sekolah dan meningkatkan cakupan Pap-Smear untuk mengatasi masalah ini.
Selain yang telah ada di atas, banyak faktor dan tantangan pada perjalanan diagnosis dan terapi kanker serviks di Indonesia, khususnya RSUD Dr.Soetomo yang merupakan rujukan utama Indonesia timur.
Penulis: Brahmana Askandar Tjokroprawiro
Artikel:
BACA JUGA: Profil Ikan Kerapu Bebek yang Terinfestasi Cacing Benedenia





