Kami menulis penelitian ini dengan latar belakang berdasarkan data dari Riskesdas tahun 2018, prevalensi karies gigi pada anak di Indonesia sebesar 90,2%, dengan indeks def-t mean 8,1 pada anak di bawah 5 tahun. Namun menurut Control Disease Center tahun 2007, kasus karies gigi mengalami peningkatan terutama pada balita dan anak prasekolah, dari 24% menjadi 28%. Sementara itu, asosiasi kesehatan gigi berusaha untuk mengurangi jumlah karies gigi pada anak. Oleh karena itu, perlu adanya edukasi sejak dini, sebagai upaya preventif terkait kesehatan gigi dan mulut. Dalam pendidikan ini, berbagai komponen terlibat. Pengasuh merupakan salah satu komponen utama, dapat diartikan banyak orang, tetapi terutama orang tua dan guru. Pada anak, pengasuh memiliki peran penting terutama orang tua berperan besar saat anak keluar dari sekolah, sedangkan guru berperan besar saat anak masuk ke area sekolah.
Saat ini, sebagian besar waktu anak-anak adalah waktu untuk sekolah. Berdasarkan kondisi tersebut orang tua di sekolah atau guru memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap anak. Semua pengasuh termasuk guru yang memiliki pendidikan dan pengetahuan yang baik harus mempengaruhi kesejahteraan anak-anaknya. Namun seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, prevalensi karies masih tinggi terutama pada anak-anak. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pemahaman dan persepsi pengasuhkhususnya tentang perilaku menggosok gigi yang baik. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa peran pengasuh dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut anak sangatlah penting. Permasalahannya adalah munculnya beberapa persepsi yang salah tentang kesehatan gigi dan mulut, terutama pada anak-anak. Selain itu adanya persepsi bahwa gigi sulung hanya bersifat sementara dan akan digantikan oleh gigi tetap, sehingga ada anggapan bahwa kerusakan gigi sulung bukanlah hal yang harus diperhatikan, dll. Hal ini pada akhirnya mempengaruhi perilaku menggosok gigi anak.
Menurut Health Belief Model Theory, orang tua kemungkinan besar mengasosiasikan dengan pengasuhan anak, jika orang tua tersebut merasa bahwa anaknya cenderung mengembangkan perilaku bermasalah di masa depan (dipersepsikan rentan). Orang tua juga bisa percaya bahwa masalah ini akan memiliki dampak yang sangat tidak diinginkan (dirasakan keparahan). Persepsi bahwa program parenting yang diterapkan akan efektif dalam mengurangi pembentukan perilaku berisiko pada anaknya (perceived benefits), tidak menganggap program parenting yang diterapkan terlalu menuntut (perceived barrier), dan merasa yakin bahwa orang tua akan mampu melaksanakannya. keluar dan menerapkan perilaku sehat yang dimilikinya (self-efficacy).
Pengalaman adalah salah satu hal yang dapat membentuk persepsi orang. Dalam hal ini, pengalaman mengakses pelayanan kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor penting dalam persepsi pengasuh. Bagaimana pengasuh bertindak dan mendidik anaknya tergantung pada pengalaman dan pengetahuan mereka tentang kesehatan mulut.
Terdapat 5 aspek dari teori health belief model hubungan antara persepsi pengasuh dan pengalaman mengakses pelayanan kesehatan gigi pada anaknya. Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa persepsi manfaat dan efikasi diri pengasuh memiliki korelasi dengan pengalaman mengakses kesehatan gigi pada anaknya. Responden yang belum pernah ke dokter gigi, mayoritas berpersepsi rentan terhadap karies gigi dan percaya bahwa karies merupakan penyakit yang serius. Mayoritas juga berpendapat bahwa menyikat gigi bermanfaat bagi anak-anak mereka. Mayoritas juga berpersepsi bahwa menyikat gigi bukan merupakan hambatan yang berarti dan anak cenderung mengalami akses pelayanan kesehatan gigi, Dan terakhir, mayoritas responden yang belum pernah ke dokter gigi memiliki persepsi bahwa mereka tidak yakin dapat membuat anaknya berperilaku baik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Pengalaman seseorang merupakan faktor yang sangat penting dalam menginterpretasikan stimulus yang kita dapatkan. Pengalaman masa lalu atau apa yang kita pelajari akan menimbulkan perbedaan interpretasi/persepsi. Pengasuh yang tidak memiliki pekerjaan tetap akan menunda anaknya untuk mengakses pelayanan kesehatan gigi. Kondisi ini dapat menurunkan jumlah kunjungan ke dokter gigi anak dan mengurangi masalah kesehatan gigi dan mulut anak. Mereka kebanyakan tidak memiliki pekerjaan tetap. Faktor ini dapat menjadi penghambat bagi pengasuh dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut anak.
Authors: Darmawan Setijanto, Baleegh Abdulraoof Alkadasi, Luqman Adi Wiratama Nurrobi, Felia Laksita Dewi, Fikri Febrian Firmansyah
Nama jurnal: Brazilian Dental Science. Tahun 2023. Volume 26, Issue 2.





