Keselamatan pasien dalam tindakan pembedahan merupakan aspek penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Salah satu upaya global untuk menekan angka komplikasi dan kematian akibat operasi adalah penerapan Surgical Safety Checklist (SSC) dari WHO. Alat ini bertujuan meningkatkan komunikasi dan kolaborasi antar tenaga kesehatan agar setiap tahapan pembedahan berjalan aman. Meskipun efektivitasnya telah terbukti di berbagai negara, penerapan SSC di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala. Faktor seperti budaya kerja hierarkis, keterbatasan sumber daya, serta kurangnya pelatihan dan pengawasan memengaruhi kepatuhan tenaga kesehatan. Selain itu, kajian yang secara mendalam membahas tantangan, faktor keberhasilan, dan peran organisasi profesi dalam pelaksanaan SSC di Indonesia masih terbatas.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami pengalaman tim bedah dalam penerapan SSC di berbagai rumah sakit. Sebanyak tiga belas partisipan terlibat, terdiri dari dokter bedah, perawat kamar operasi, dan perawat anestesi dari rumah sakit pemerintah, akademik, dan swasta. Wawancara dilakukan secara daring antara Juni hingga Desember 2023 selama 30“60 menit dengan pertanyaan terbuka. Hasil wawancara ditranskripsi dan dianalisis secara tematik untuk menemukan pola utama. Validasi dilakukan melalui triangulasi dan konfirmasi hasil antarpeneliti, serta persetujuan etik diperoleh dari tiga lembaga di 51¶¯Âþ dan RSUD Dr. Soetomo.
Hasil menunjukkan bahwa SSC diakui bermanfaat dalam meningkatkan keselamatan pasien, tetapi pelaksanaannya masih menghadapi hambatan. Kepatuhan menjadi masalah utama karena sebagian tenaga kesehatan belum konsisten melengkapi checklist. Beberapa bagian, terutama tahap sign-out, sering tidak dibacakan lantang atau diisi setelah prosedur selesai. Dalam keadaan darurat, SSC kadang hanya dilakukan secara verbal tanpa dokumentasi. Hambatan lain muncul dari komunikasi tim yang belum optimal, beban kerja tinggi, dan motivasi individu yang berbeda. Jadwal operasi yang padat membuat sebagian tenaga medis tergesa-gesa, sehingga beberapa langkah SSC terlewati. Perilaku tidak aman ini mengurangi efektivitas checklist dalam mencegah kesalahan.
Meski demikian, terdapat faktor-faktor yang mendukung keberhasilan penerapan SSC. Dukungan organisasi menjadi hal utama, terutama melalui kebijakan akreditasi yang mewajibkan penggunaan checklist. Keberadaan komite mutu dan keselamatan pasien, supervisi, serta evaluasi rutin turut memperkuat penerapan. Kepemimpinan rumah sakit berperan penting dalam menetapkan kebijakan dan memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan. Kesadaran tenaga kesehatan terhadap manfaat SSC juga cukup tinggi, karena dipandang bukan sekadar kewajiban administratif melainkan alat penting untuk menjamin keamanan pasien. Kolaborasi antarprofesi dokter bedah, perawat instrumen, perawat sirkulator, dan perawat anestesi menjadi kunci utama keberhasilan pelaksanaan.
Penerapan SSC memberikan dampak nyata terhadap peningkatan keselamatan pasien. Checklist memastikan kesiapan alat dan koordinasi tim, serta mencegah kesalahan seperti keliru identitas pasien atau tertinggalnya instrumen operasi. Selain melindungi pasien, SSC juga menciptakan rasa aman bagi tenaga medis dan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit. Namun, peran organisasi profesi di Indonesia masih terbatas. HIPKABI, HIPANI, dan PERSPEBSI telah menyelenggarakan pelatihan dan pertemuan ilmiah, tetapi belum aktif dalam advokasi atau pendampingan langsung di lapangan. Sebagian peserta bahkan tidak mengetahui adanya inisiatif organisasi untuk mendorong kepatuhan checklist, berbeda dengan praktik di negara lain di mana organisasi profesi terlibat dalam penyusunan standar nasional keselamatan bedah.
Peningkatan penerapan SSC di Indonesia memerlukan strategi yang terintegrasi di berbagai tingkat. Pada tingkat mikro, fokus diarahkan pada pembentukan perilaku aman dan komunikasi efektif antaranggota tim. Pada tingkat meso, diperlukan dukungan kelembagaan melalui kebijakan, pelatihan, audit, dan pengawasan berkelanjutan. Sementara pada tingkat makro, sinergi antara kebijakan pemerintah, lembaga akreditasi, dan organisasi profesi penting untuk menciptakan sistem keselamatan nasional yang terstandar. Dengan dukungan lintas level, SSC dapat menjadi fondasi utama dalam memperkuat budaya keselamatan pasien di Indonesia.
Author : Inge Dhamanti, Ika Nur Pratiwi, Muhammad Miftahussurur, Vina Himmatus Sholikhah, Fitri Yakub





