51

51 Official Website

Pertambangan Perlu Diaudit Secara Lingkungan, Bisnis, dan HAM

Diskusi Mitos Tambang untuk Kesejahteraan, Kamis (9/2). (Foto: Pradita Desyanti)

UNAIR NEWS Pusat Studi Hukum dan HAM (HRLS) Fakultas Hukum, 51, mengadakan diskusi dengan topik Mitos Tambang untuk Kesejahteraan. Diskusi diadakan di Ruang Pertemuan Gedung C, Kamis (9/2).

Diskusi ini dihadiri penulis Mitos Tambang untuk Kesejahteraan Hendra Try Ardianto, M.A., koordinator sekaligus peneliti Sayoho Institute Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Siti Maemunah, M.Kesos., dan ahli hukum bisnis dan HAM Iman Prihandono, Ph.D., dan ahli hukum lingkungan Franky Butar-butar, S.H., M.Dev.

Diskusi ini juga dihadiri sebanyak 16 orang yang berasal dari Gerakan Masyarakat Peduli Pesisir (Lumajang),mahasiswa S-3, serta anggota Unit Kegiatan Mahasiswa UNAIR.

Prsesentasi pertama disampaikan oleh Hendra, ia menjabarkan isi buku yang ditulisnya. Sejumlah poin yang diutarakan di antaranya prosedur penambangan di lapangan. Apakah kegiatan penambangan di area tambang sudah berjalan sesuai prosedur? tegas Hendra.

Maimunah mempresentasikan materi melalui Skype dari Samarinda. Perempuan yang akrab disapa Maimunah ini mengatakan bahwa 70 persen area di Samarinda merupakan kawasan tambang batu bara. Sebagian besar area pertanian pangan dibunuh infiltrasi tambang meskipun 75 persen masih tumpang tindih.

Pertanian pangan dibunuh tambang, 75 persen perizinannya tumpang tindih. Pertambangan memakan korban jiwa, ada 16 anak meninggal dunia dan sampai saat ini tidak hukum yang benar-benar ditegakkan. Ada berita lokal yang mengatakan bahwa hanya 1 kasus yang sampai ke pengadilan, itu pun hanya kontraktornya yang kena hukuman, ungkap Maimunah.

Presentasi ketiga disampaikan oleh pakar hukum bisnis dan HAM UNAIR. Iman menjelaskan tentang pertambangan dan jatuhnya korban jiwa dari sudut pandang bisnis dan HAM. Tren menunjukkan bahwa investasi asing selalu meningkat. Namun, bukan berarti lokal tidak merusak. Indonesia menjadi negara nomor 4 tujuan favorit investasi. Hal tersebut karena yang pertama adalah sumber daya yang ada dari Sabang sampai Merauke. Tidak hanya pertambangan. Kedua, adanya lahan. Ketiga, gaji tenaga kerja yang masih murah, tuturnya.

Sedangkan, Franky memaparkan masalah tambang dan memberikan rekomendasi terkait permasalahan tambang.

Masalah tambang adalah lingkungan, kesehatan, konflik sosial, penggerusan nilai budaya, dan pelanggaran HAM. Meskipun saat membuat AMDAL (analisis dampak lingkungan, red) mereka benar, bukan berarti tidak berpotensi merusak lingkungan. Rekomendasi dari saya salah satunya yakni diperlukan audit lingkungan, bisnis dan HAM, ujar Franky.

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Defrina Sukma S

AKSES CEPAT