Banyak perubahan yang terjadi dalam tubuh seorang ibu hamil. Perubahan-perubahan yang secara normal terjadi, semuanya bertujuan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam kandungan. Salah satu perubahan signifikan yang terjadi adalah perubahan pada sistem kardiovaskular. Volume darah pada ibu hamil mengalami peningkatan selama kehamilan, dimana hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan suplai nutrisi kepada janin. Akibat dari penambahan volume darah ini menyebabkan ibu hamil cenderung lebih sering mengalami anemia dan tentu saja menyebabkan meningkatnya beban kerja pada jantung, sehingga dapat memunculkan gejala-gejala yang khas pada wanita dengan kelainan jantung yang awalnya tidak terlihat sebelum kehamilan.
Penyakit jantung pada ibu hamil merupakan salah satu penyebab tingginya angka kematian pada ibu di dunia. Angka kejadian penyakit jantung pada ibu hamil bervariasi pada tiap negara, yaitu sebesar 1-4% dengan kecenderungan angka kejadian yang lebih tinggi pada negara maju. Namun, dewasa ini terjadi pula peningkatan angka kejadian penyakit jantung pada negara berkembang seperti Indonesia. Di negara maju, penyakit jantung pada kehamilan paling sering diakibatkan dari penyakit jantung bawaan (PJB) yang didapatkan semenjak lahir. Sementara di negara berkembang penyakit jantung yang paling sering terjadi pada kehamilan adalah penyakit jantung dapatan (PJD) yaitu penyakit jantung rematik atau rheumatic heart disease (RHD), dimana penyebabnya adalah infeksi kuman Streptococcus yang tidak tertangani dengan baik.
Studi yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan dari 1328 kelahiran, didapatkan 5,19% (69) ibu hamil dengan kelainan jantung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan angka kejadian PJB lebih banyak ditemukan daripada penyakit jantung dapatan. Hal ini tentu kurang sesuai dengan data penelitian lain yang seharusnya penyakit jantung dapatan lebih sering ditemukan pada negara berkembang. Hal ini dimungkinkan karena angka infeksi yang tinggi di negara berkembang sehingga beresiko mengalami komplikasi infesi endocarditis jantung, selain itu penanganan penyakit jantung bawaan yang tidak adekwat saat balita membuat penderita penyakit jantung bawaan tidak mencapai usia remaja. Data yang hampir sama dengan penelitian ini juga nampak di kawasan ˜kurang maju™ di Australia dan Selandia Baru menunjukkan angka kejadian penyakit jantung dapatan yang juga lebih tinggi dari angka kejadian PJB, sehingga kejadian yang berkebalikan juga dapat terjadi pada kawasan ˜maju™ di negara berkembang, dimana angka kejadian PJB menjadi lebih tinggi, seperti pada penelitian kami. Yang dapat menjelaskan temuan ini adalah kemungkinan kemajuan teknologi dan prosedur bedah jantung yang lebih baik, maka jumlah perempuan yang terlahir dengan PJB dapat mencapai usia reproduksi dan hamil meningkat.
Seperti diperkirakan komplikasi kehamilan dengan penyakit jantung jauh lebih tinggi dibanding tanpa penyakit jantung, pada penelitian ini angka komplikasi jantung cukup tinggi, yaitu sebesar 37,7%. Dan komplikasi pada PJB lebih tinggi disbanding PJD walaupun tidak signifikan. Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah gagal jantung, edema paru dan sindrom Eisenmenger. Komplikasi janin yang sering ditemui antara lain persalinan prematur, perawatan intensif untuk bayi dan kematian perinatal. Persalinan prematur terjadi baik secara spontan maupun dengan indikasi. Sebagian besar metode persalinan dilakukan secara operasi caesar dengan indikasi kegawatan ibu ataupun bayi.
PJB yang tidak segera terdiagnosis sejak dini dan keterlambatan penanganan kehamilan dengan penyakit jantung dapat memperburuk angka kesakitan bahkan kematian. Sehingga, deteksi penyakit jantung pada kehamilan harus dilakukan sedini mungkin pada saat asuhan antenatal (ANC). Selain sebagai sarana deteksi dini, ANC penting untuk memberikan edukasi mengenai kontrasepsi pasca persalinan. Masalah kontrasepsi juga merupakan permasalahan pada penderita penyakit jantung. Karena kesadaran berkontrasepsi masih sangat rendah. Kontrasepsi selain bermanfaat sebagai pencegah kehamilan yang tidak direncanakan, juga sebagai ˜penjeda™ untuk pemulihan dari penyakit jantung ibu. Namun, pada studi kami, masih ditemukan ibu yang memilih untuk tidak menggunakan metode kontrasepsi, padahal sangat beresiko mengalami komplikasi jika hamil lagi.
Sebagai kesimpulan, saat ini terdapat perubahan jenis penyakit jantung di Indonesia, yaitu PJB lebih tinggi dibandingkan PJD. Penyakit jantung dalam kehamilan beresiko tinggi untuk ibu maupun janinnya, sehingga perlu deteksi dini sehingga mendapat pengelolaan yang optimal untuk mencegah komplikasi pada ibu dan bayi.
Penulis: Dr. Ernawati, dr., Sp.OG.
Puspa Pitaloka, C., Secka, A., Ernawati, E., Sulistyono, A., Juwono, H. T., Gumilar Dachlan, E., & Aditiawarman, A. (2021). Characteristics shifting of heart disease in pregnancy: A report from low middle-income country. Journal of Public Health Research.





