Kanker payudara merupakan penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan. Data GLOBOCAN 2020 menyebutkan bahwa terdapat 65.858 kasus baru di Indonesia, dengan angka kematian mencapai 22.430 jiwa. Penyakit ini sering berkaitan dengan reseptor hormon oestrogen receptor alpha (ER-伪) yang berperan dalam perkembangan sel kanker. Sayangnya, pengobatan yang ada, seperti doxorubicin, sering kali menimbulkan efek samping berat dan resistensi obat.
Pinostrobin, senyawa flavonoid yang ditemukan dalam tanaman Boesenbergia pandurata (temu kunci), memiliki potensi sebagai anti-kanker alami. Namun, efektivitasnya perlu ditingkatkan melalui modifikasi struktur kimia. Penelitian terbaru oleh yang dilakukan oleh Delis Susilawati, Tri Widiandani, Siswandono, Suzana, dan Bambang Tri Purwanto menggunakan metode in silico (simulasi komputer) menunjukkan bahwa salah satu turunannya, pinostrobin pentanoate, memiliki potensi yang menjanjikan sebagai agen anti-kanker payudara.
Penelitian ini menggunakan metode prediksi ADMET (profil obat), molecular docking, dan simulasi dinamika molekuler untuk menguji interaksi pinostrobin dan turunannya dengan reseptor ER-伪. Hasilnya, pinostrobin pentanoate menunjukkan aktivitas paling tinggi dengan energi ikatan -7,849 kcal/mol dan stabilitas interaksi yang lebih baik selama simulasi 100 ns.
Selain menunjukkan stabilitas ikatan yang kuat, pinostrobin pentanoate juga memiliki sifat farmakokinetik yang baik, tidak bersifat toksik atau mutagenik. Dengan kemampuan menembus sel tubuh secara optimal dan minim efek samping, senyawa ini diharapkan menjadi alternatif terapi kanker payudara yang lebih aman dan efektif dibandingkan pengobatan konvensional.
Penemuan ini membuka peluang besar untuk pengembangan obat kanker berbasis bahan alami yang lebih selektif dan ramah tubuh. Langkah selanjutnya adalah uji laboratorium in vitro dan in vivo untuk memastikan efektivitasnya sebelum digunakan secara klinis.
Author: Tri Widiandani
doi.org/10.46542/pe.2024.243.5156





