51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Pola Gen Resisten Antimikroba Jenis Beta-Laktamase pada Kelompok Bakteri Acinetobacter Spp dan Pseudomonas Spp antara Isolat Klinis dan Lingkungan

Ilustrasi oleh Common Dreams

Acinetobacter baumannii dan Pseudomonas aeruginosa yang multi-resisten sering menjadi penyebab infeksi nosokomial di seluruh dunia. Infeksi ini sering berakibat mortalitas, morbiditas, masa rawat inap yang lebih lama, dan tingginya biaya perawatan. Di Asia Tenggara, carbapenem-resistant Acinetobacter baumannii (CRAB) dan carbapenem-resistant Pseudomonas aeruginosa (CRPA) adalah penyebab infeksi nosokomial yang sering dilaporkan, bahkan kini makin meningkat kejadiannya di Indonesia. Hal ini juga merupakan bagian dari tren global. Di Indonesia, data di ruang ICU, RSUPN Cipto Mangunkusumo tahun 2013, prevalensi CRAB lebih tinggi, 50,5%, dibandingkan dengan CRPA yakni 21,9%.

Karbapenem telah dianggap sebagai obat yang paling kuat dalam mengobati bakteri Gram-negatif yang resisten terhadap banyak obat. Akibatnya, peningkatan penggunaan karbapenem menyebabkan peningkatan kejadian CRAB. Enzim ini merupakan mekanisme utama resistensi karbapenem pada Acinetobacter baumannii. Mekanisme yang paling umum untuk CRAB adalah produksi enzim karbapenemase, terutama oksasilinase (OXA). Hingga saat ini, OXA-23 masih mendominasi grup OXA. Kehadiran ensim kelompok metallo-beta lactamase (MBL) ini, seperti NDM, IMP, SIM, VIM telah dilaporkan pada Acinetobacter baumannii.

Menjadi pertanyaan secara umum di kalangan peneliti dan praktisi, dari mana asal gen ensim tersebut, sehingga muncul pada bakteri yang ada di rumah sakit. Untuk itu telah dilakukan studi identifikasi keberadaan gen resisten tersebut di lingkungan rumah sakit. Hal ini karena begitu banyaknya gen resistren diketemukan pada pasien yang dirawat di rumah sakit, dan jarang di komunitas. Dilakukan pemeriksaan gen pengkode ensim karbapenemase di isolate klinik maupun di lingkungan sekitar ruang perawatan.

Pada studi yang dilakukan tahun 2021 tersebut, dilakukan pemeriksaan pada 121 isolat bakteri terdiri dari 76 isolat klinis (41 CRAB dan 35 CRPA), 38 isolat lingkungan (6 CRPA dan 32 CRPs/CR Pseudomonas spesies). Kami mengidentifikasi 58 gen dari 76 isolat klinis (76,3%), 40 gen (ada isolat yang berisi lebih dari satu gen) dari 38 isolat lingkungan (105,3%).

Prevalensi blaOXA-23-like, blaOXA-24-like, dan blaNDM-1 dari isolat klinis CRAB adalah 21 (51%), 17 (41%), dan 1 (2%). Hasil CRPA adalah 10 (37%) dan 5 (17%) untuk blaOXA-23-like dan dan blaIMP-1. Deteksi gen dalam CRPA lingkungan menunjukkan 6 (46%) blaOXA-23-like, 7 (54%) blaOXA-24-like, 1 (8%) blaOXA-48-like, 2 (15%) blaNDM-1, dan 2 (15%) blaIMP-1. Hasil CRPs adalah 2 (6%) blaOXA-23-like, 1 (3%) blaOXA-48-like, 12 (38%), blaNDM-1, 12 (38%), dan 2 (6%) untuk blaVIM dan blaIMP-1. Hanya dua isolat air limbah yang positif untuk blaOXA-48-like.

Hal di atas menunjukkan bahwa gen OXA-23 dan OXA-24 mendominasi kejadian gen resisten karbapenem di Acinetobacter baumannii maupun Pseudomonas aeruginosa. Hal ini menjadi penting untuik diketahui, agar memudahkan para praksisi penyakit infeksi, khususnya Spesialis Mikrobiologi Klinik dalam mengendalikan dan menangani penyakit infeksi. Diketemukannya gen resisten karbapenem di lingkungan, menarik perhatian kita semua, karena bisa menyebar melalui lingkungan sekitar rumah sakit dan menyebar ke masyarakat. Hal ini menunjukkan pentingnya penanganan limbah rumah sakit secara optimal guna mencegah menyebarnya gen resisten di dalam rumah sakit agar tidak masuk ke aliran air di masyarakat.

Penulis: Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., SpMK(K)

Departemen Mikrobiologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran 51¶¯Âþ

RSUD Dr. Soetomo Surabaya & RS 51¶¯Âþ

kuntaman@fk.unair.ac.id

Link:

AKSES CEPAT