Asma merupakan persoalan kesehatan global serius yang menyasar semua kelompok umur (Kawamatawong et al., 2022). Asma dan chronic obstructive pulmonary disease (COPD) merupakan penyakit yang umum muncul dari golongan penyakit pernafasan kronis. Penyakit asma dan COPD menyumbang sebanyak empat juta kasus kematian per tahunya ( diakses pada 29 Mei 2023). Prevalensi kejadian asma dilaporkan meningkat pada banyak negara, terutama menyasar anak-anak (Reddel et al., 2021).
Asma umumnya ditandai dengan peradangan kronis pada saluran udara. Penyakit asma memiliki riwayat gejala antara lain; mengi, sesak napas, sesak dada, dan batuk. Asma biasanya dikaitkan dengan hiperresponsif dan peradangan pada saluran napas, tetapi hal ini tidak cukup sebagai diagnosis kondisi asma (Reddel et al., 2021). Pedoman Global Initiative for Asthma (GINA) mengklasifikasikan tingkat keparahan asma yaitu; ringan, sedang, dan berat (GINA, 2022).
Pengobatan asma dibutuhkan untuk meningkatkan kontrol gejala, meminimalkan risiko eksaserbasi, mengurangi rawat inap, mencegah efek samping pengobatan, dan mengembalikan aktivitas normal bagi penderita (Dusser et al., 2019). Bronkodilator merupakan terapi utama untuk kondisi kelainan pada saluran napas their direct relaxation effect on airway smooth muscle cells. Terdapat 3 kelas bronkodilator, yaitu: 尾2-adrenoceptor (AR) agonists, muscarinic receptor antagonists, dan xanthines (Cazzola et al., 2012). Bronkodilator berperan dalam menekan inflamasi/peradangan saluran napas (Matera et al., 2020). Penggunaan kortikosteroid inhalasi (Inhaled corticosteroids: ICS) dinilai efektif sebagai terapi untuk mengendalikan gejala asma. Kaplan et al., (2020) menyebutkan bahwa Bronchodilators seperti 尾2 agonists dan muscarinic antagonists sebagai add-on ICS dapat meningkatkan fungsi paru-paru, mengontrol gejala, dan mengurangi kondisi eksaserbasi.
Asma dengan eksaserbasi sedang atau berat dapat diberi terapi 尾2 agonists dikombinasikan dengan ICS. Sedangkan Asma dengan eksaserbasi ringan dapat diberi terapi dosis rendah 尾2 agonists dikombinasikan dengan ICS (GINA, 2022). Kombinasi dosis rendah ICS/long-acting 尾2 agonists (LABA) direkomendasikan untuk meningkatkan control gejala denngan baik dan mencegah eksaserbasi. Selain itu, long-acting muscarinic antagonists dapat digunakan sebagai terapi tambahan bila kombinasi ICS dan LABA tidak dapat mengontrol gejala asma dengan baik. Sementara itu, kombinasi short-acting 尾2 agonists (SABA) dan ICS diresepkan untuk menghilangkan gejala selama eksaserbasi asma (GINA, 2022; Kaplan et al., 2020).
Pemilihan jenis bronkodilator dan rute pemberian perlu mempertimbangkan kondisi pasien untuk meningkatkan mutu asuhan kefarmasian dan mencapai efek terapeutik yang maksimal. Untuk itu, Peneliti Fakultas Farmasi, 51动漫; Toetik Aryani, Riska Kholifatul Rahmawati, Ni Putu Cintyadewi, Arina Dery Puspitasari, Alfian Nur Rasyid, dan Samirah* melakukan studi untuk mengkaji pola peresepan bronkodilator pada pasien asma rawat jalan dari data rekam medis pasien rawat jalan asma tanpa membedakan tingkat keparahannya.
Data yang diobservasi Peneliti adalah Pasien laki-laki dan perempuan dengan rentang usia 18-60 tahun melalui observasi retrospektif. Hasil Analisa memerikan informasi penting berupa: prevalensi asma lebih besar terjadi pada perempuan (80,80%) dibandingkan laki-laki (19.20%). Selain itu, penderita asma tertinggi berdasarkan usia 48-57 tahun (41,1%). Disisi lain, penelitian ini menunjukkan bahwa 76,7%) pasien asma memiliki penyakit penyerta yang tidak diketahui. Sedangkan pasien asma yang mendapat terapi bronkodilator tidak menunjukkan gejala apapun (41,4%), dan (58,6%) masih memiliki gejala asma seperti batuk sesak, nyeri dada, dan sesak napas. Rute pemberian melalui inhalasi lebih banyak diberikan (97,4%) dibandingkan dengan oral (2,6%). Sedangkan terapi yang digunakan untuk bronkodilator kombinasi lebih tinggi (54,7%) dibandingkan dengan bronkodilator monoterapi (46,3%).
Data terapi yang diterima 73 pasien asma menunjukkan bahwa setiap pasien dapat menerima lebih dari satu jenis obat bronkodilator karena pasien mendapatkan terapi tambahan bila gejala tidak teratasi dengan monoterapi. Kombinasi ICS/LABA budesonide/formoterol 160/4,5 mcg paling banyak digunakan (45,7%). Inhalasi budesonide/formoterol 1 frekuensi dua kali sehari adalah yang paling banyak diberikan (32,8%). Sedangkan, kombinasi ICS/LABA lain yang digunakan adalah flutikason propionat/salmeterol 250/50 mcg (3,1%). Disisi lain, monoterapi bronkodilator yang banyak digunakan adalah SABA fenoterol Hbr dosis 100 mcg (30,7%). Frekuensi fenoterol HBr 100 mcg 1 inhalasi setiap hari adalah yang paling banyak diresepkan (10,4%).
Berdasarkan GINA Guidelines, bronkodilator digunakan sebagai terapi asma. Rute pemberian obat melalui inhalasi lebih banyak digunakan daripada oral. Kombinasi bronkodilator lebih direkomendasikan daripada monoterapi bronkodilator. Kombinasi ICS/LABA merupakan lini pertama untuk memperbaiki fungsi paru, mengontrol gejala, dan mengurangi eksaserbasi asma.
Penulis: Ani Nurul Fauziyah dan Dr. Samirah, Sp.FRS., Apt.
Artikel: 淧atterns of bronchodilator therapy in asthmatic outpatients Journal of Public Health in Africa; Volume 14(s1):2533 (2023) DOI:





