Humas FH (05/05/25) | Diah Anggraerni Nurkhalisa, mahasiswa Fakultas Hukum 51动漫 (FH UNAIR), mencatatkan namanya di panggung internasional sebagai bintang Global Youth Innovation Summit (GYIS) ke-6. Meraih tiga penghargaan sekaligus yaitu, Juara 1 Best SDGs Project Presentation, dan Juara 1 Best Delegate bersama tim ZECO Squad. Diah membuktikan bahwa pemuda Indonesia mampu bersinar dalam isu global Sustainable Development Goals (SDGs) melalui inovasi dan kolaborasi.

GYIS ke-6, diselenggarakan oleh Pemuda Mendunia bekerja sama dengan Universiti Malaya dan International Islamic University Malaysia (IIUM), menjadi ajang prestisius bagi pemuda global berusia 1230 tahun untuk mengasah ide terkait SDGs. Diah berhasil menembus seleksi ketat, bersaing dengan ratusan peserta dari berbagai daerah. Prosesnya meliputi seleksi berkas (CV dan esai motivasi), tes wawasan kebangsaan, Leaderless Group Discussion (LGD), hingga wawancara, yang menyisihkan peserta hingga hanya dua delegasi fully funded terpilih. 淎lhamdulillah, saya salah satunya, ujar Diah dengan penuh syukur.
Tantangan terbesar baginya adalah menonjol di tahap esai dan LGD. 淒i esai, saya mencoba be different dengan mengangkat gagasan investasi karbon yang kritis tapi grounded, ungkapnya. Sementara di LGD, ia harus berjuang dengan sinyal tidak stabil dan jadwal bentrok dengan seleksi Mahasiswa Berprestasi 51动漫. 淪aya belajar menyampaikan poin kuat, relevan, tapi tetap memberi ruang untuk tim, tambahnya, menunjukkan kelihaiannya menyeimbangkan kepemimpinan dan kolaborasi.
Kunci keberhasilan Diah dan tim ZECO Squad adalah proyek Green Carbon Investment System (GCIS), yang meraih Juara 1 Best SDGs Project Presentation. Ide ini lahir dari keresahan Diah terhadap isu perubahan iklim, yang mulai ia dalami sejak semester 4 melalui diskusi dengan dosen Hukum Internasional UNAIR, . 淪aya ingin tahu bagaimana skema karbon lintas negara bisa berdampak bagi Indonesia, tuturnya.
Sebagai penerima penghargaan Best Delegate, Diah menonjol bukan karena paling vokal, melainkan karena dampak nyata di setiap sesi. 淪aya proaktif, bukan hanya saat presentasi, tapi juga di forum diskusi dan networking, ujarnya. Ia kerap menjadi moderator dadakan, mendukung ide teman, dan membawa perspektif mahasiswa hukum yang khas. 淪aya menyoroti isu dari sisi regulasi dan framework hukum internasional, yang ternyata membuat kontribusi saya berbeda, tambahnya. Sikap rendah hati dan terbuka menjadi nilai plus yang membuatnya dihormati peserta dari berbagai negara.
Baca Juga:
Dengan tiga penghargaan bergengsi di tangan, Diah bertekad melanjutkan GCIS sebagai riset akademik, bahkan berpotensi menjadi rujukan kebijakan investasi hijau di Indonesia. 淪ebagai mahasiswa hukum, saya ingin mengintegrasikan regulasi ke isu keberlanjutan, ungkapnya. Ia juga berkomitmen memperluas akses pemuda ke platform seperti GYIS dan menginspirasi mereka melalui cerita. 淜ontribusi kita bisa dimulai dari langkah kecil, asal konsisten dan terarah, pesannya.
Kisah Diah Anggraerni Nurkhalisa adalah bukti bahwa dengan visi, kerja keras, dan kolaborasi, pemuda Indonesia mampu berkontribusi bagi dunia. Prestasinya di GYIS ke-6 bukan hanya kemenangan pribadi, tetapi juga panggilan bagi generasi muda untuk berani bermimpi dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.
Penulis: Jessica Ivana Haryanto
Editor: Masitoh Indriani




