Humas FH (27/02/25) | Mahasiswa Fakultas Hukum 51动漫 (FH UNAIR) berhasil mengukir prestasi membanggakan dengan menjuarai beberapa kategori bergengsi di The Philip C. Jessup International Moot Court Competition 2025. Dalam ajang simulasi pengadilan internasional terbesar di dunia ini, tim meraih 2nd Best Combined Memorial, 2nd Best Respondent Memorial, serta 1st dan 2nd Best Oralist. Kompetisi yang dilaksanakan secara global ini bukan hanya sekadar lomba, tetapi juga panggung prestisius yang menguji ketajaman analisis dan keberanian berdebat di ranah hukum internasional.

The Philip C. Jessup International Moot Court Competition adalah kompetisi peradilan semu tertua dan terbesar di dunia, diselenggarakan oleh International Law Students Association (ILSA) dengan dukungan White & Case. Kompetisi ini kini memasuki tahun ke-66 dan diikuti lebih dari 700 fakultas hukum dari universitas ternama global. Bagi mahasiswa hukum, Jessup adalah 淥scar-nya dunia akademik, suatu tempat mengasah analisis hukum, penulisan, dan keterampilan berbicara yang menjadi tolak ukur kualitas global.
Di balik gemerlap prestasi ini, tim FH UNAIR menempuh persiapan yang tak kenal lelah. Dipimpin oleh Diah Anggraerni Nurkhalisa sebagai ketua delegasi, tim yang terdiri dari Anak Agung Gede Fabianara Danurwenda, Aurelliano Jovan Meydianto, Putri Ayu Musthikaweni Adhijoso, dan Olivia Allika Balqis memulai perjalanan mereka dengan riset mendalam tentang hukum internasional.
Latihan simulasi sidang dan debat menjadi menu harian. Didampingi dosen pembimbing, senior, dan alumni berpengalaman, tim mengasah oral pleading hingga siap tampil di babak nasional yang digelar di Universitas Indonesia pada tanggal 1 hingga 2 Februari dan 15 Februari 2025. 淭antangan terbesar adalah menjaga harmoni di tengah stres. Tapi kami belajar bahwa kerja tim adalah kunci, tambah Diah, menyoroti dukungan anggota tim yang tak pernah putus.
Hasil kerja keras tim FH UNAIR berbuah manis. Mereka meraih Juara II Best Combined Memorial, dokumen inti kompetisi yang menuntut ketelitian dan kekuatan logika hukum, dan tim UNAIR berhasil menyajikan argumen yang ringkas namun mengena. Tak kalah membanggakan, 2nd Best Respondent Memorial menjadi bukti kemampuan mereka membela pihak responden dengan cerdas dan terstruktur.
Puncak gemilang datang dari Olivia Allika dan Putri Ayu, yang menyabet 1st dan 2nd Best Oralist. Dengan pembawaan tenang dan argumen yang dikemas layaknya cerita, keduanya memukau juri. 淧elatihan rutin dari coaches membantu kami menguasai seni berdebat yang conversational, ujar Diah. Prestasi ini tak hanya menonjolkan individu, tetapi juga kekuatan tim secara keseluruhan, yang berhasil mencapai perempat final.
Kemenangan ini membawa gelombang kebahagiaan bagi tim. 淜ami tak menyangka bisa menyabet hampir semua kategori. Rasanya luar biasa membawa nama FH UNAIR dan Indonesia di ajang sebesar ini, tutur Diah. Jessup tak hanya soal trofi, tetapi juga inspirasi untuk menekuni dunia advokasi di masa depan.
Baca Juga:
Prestasi ini tidak hanya membanggakan tim, tetapi juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa Fakultas Hukum UNAIR lainnya. 淜ami berharap prestasi ini bisa memotivasi mahasiswa lain untuk terus berprestasi di kancah internasional. Lomba seperti Jessup adalah kesempatan emas untuk mengasah kemampuan dan membangun jaringan, ujar Diah.
Dengan prestasi gemilang ini, mahasiswa Fakultas Hukum UNAIR membuktikan bahwa mereka siap bersaing di tingkat global. Kolaborasi, dedikasi, dan semangat pantang menyerah menjadi kunci kesuksesan mereka. Prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama UNAIR, tetapi juga menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia mampu berkontribusi dalam menciptakan keadilan dan perdamaian dunia melalui hukum internasional.
Penulis: Jessica Ivana Haryanto
Editor: Masitoh Indriani




