Humas (8/12/2022) | Human Rights Law Studies (HRLS) FH UNAIR, Center for Legal Pluralism Studies (CLeP) FH UNAIR, dan Amnesty International Indonesia Chapter UNAIR berkolaborasi untuk menggelar serangkaian acara dalam rangka memperingati Hari HAM Internasional. Peringatan tersebut dilakukan tiap tanggal 10 Desember. Bertajuk Embracing Humanity, Celebrating Diversities, kegiatan tersebut dilaksanakan selama tiga minggu setiap hari Kamis.
Pada puncak acaranya di Kamis (1/12/2022), digelar empat kegiatan dalam waktu sehari tersebut. Pada pagi hari, digelar seminar yang membahas terkait marginalisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Indonesia kala era Reformasi. Juru Bicara dan Sekretaris Pers JAI Yendra Budiana diundang menjadi narasumber, begitu pula Direktur CLeP FH UNAIR Joeni Arianto Kurniawan, PhD.
Berbagai macam diskriminasi yang kami alami karena kuatnya mispersepsi bahwa kami itu bukan umat Islam. Mulai dari pengeluaran SKB 3 Menteri yang membatasi ibadah kami, pembatasan hak adminsitrasi, perusakan masjid, hingga pembunuh 3 jemaat kami di Cikeusik, Banten, ujar Yendra.
Kegiatan kedua yang digelar adalah debat mahasiswa dan mimbar bebas yang mengulik tema Perlukah Pengakuan terhadap Hak LGBTQ+ di Indonesia. Pendebat di sisi pro berasal dari asisten peneliti HRLS FH UNAIR dan CLeP FH UNAIR, sementara pihak kontra dari elemen Sie Kerohanian Islam (SKI) FH UNAIR.
Argumen dari sisi pro menekankan bahwa hak LGBTQ+ merupakan bentuk hak yang tak bisa terpisahkan dari HAM. Pembatasan dan penegasian eksistensi hak tersebut di Indonesia dikarenakan maraknya politik homofobia (political homophobia) yang mengalami intensifikasi pasca Orde Baru. Di sisi kontra, pembatasan hak LGBTQ+ di Indonesia itu masuk akal karena hukum Indonesia hanya mengakui bentuk perkawinan antara laki-laki dan perempuan. Tak hanya itu, LGBTQ+ ditekankan sebagai bentuk penyimpangan. Namun, pihak kontra juga tidak menyetujui adanya bentuk diskriminasi atau kekerasan yang ditujukan pada kelompok LGBTQ+.
Kegiatan ketiga di hari itu adalah pameran seni audiovisual. Karya-karya mulai dari lukisan, fotografi, hingga film pendek ditampilkan di Gedung C FH UNAIR. Koordinator Amnesty Chapter UNAIR Dhamar Jagad Gautama menuturkan bahwa apa yang ditampilkan disana bermuatan berbagai macam kritik sosial terkait minimnya upaya penegakan HAM di Indonesia.
Mulai dari fotografi teman-teman Amnesty ketika mereka mengunjungi Desa Wadas yang bukitnya akan diubah menjadi tambang. Maraknya kekerasan seksual dan budaya patriarki di Indonesia. Semakin kuatnya oligarki dalam menindas hak-hak rakyat kecil. Hingga, film pendek yang mengisahkan konflik lahan di Tambak Bayan, Surabaya, ujar mahasiswa FH UNAIR itu.
Hari itu ditutup dengan mimbar seni yang digelar pada malam hari. Berbagai macam penampilan hadir pada mimbar tersebut. Mulai dari pembacaan puisi mengenai pelanggaran HAM dalam terapi konversi LGBTQ+, lagu hiphop terkait Surabaya, hingga aksi teatrikal mengenai pelanggaran HAM kala 1997-98 di Indonesia.
Penulis: Pradnya Wicaksana




