51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Aisyah Nurillah, Siap Nahkodai BEM FIB UNAIR 2025

Aisyah Nurillah, presiden terpilih BEM FIB UNAIR 2025 (Foto: Istimewa)

FIB NEWS “ Usai berlangsungnya Pemilihan Raya (Pemira), Badan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) 51¶¯Âþ (FIB UNAIR) akhirnya temukan pemimpin baru untuk mengarungi satu tahun kepengurusan organisasi. Aisyah Nurillah, mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia resmi terpilih sebagai Presiden BEM FIB UNAIR periode 2025.

Bersama dengan wakilnya, Qotrunnada Nadiya Mareta, Aisyah ingin mewujudkan BEM FIB UNAIR 2025 sebagai zona aktualisasi mahasiswa yang berkarakter aspiratif, inklusif, dan sinergis melalui panca-simfoni. Untuk itu, keduanya sepakat membawa nama Simfoni Karya sebagai nama kabinet BEM FIB UNAIR 2025.

Nama Kabinet Simfoni Karya memiliki makna filosofi yang mendalam. Aisyah mengungkap bahwa Simfoni Karya melambangkan harmoni dan kerja kolektif yang berfokus untuk menghasilkan karya-karya berdampak positif.

Dedikasi dalam Berorganisasi

Dedikasi Aisyah dalam berorganisasi membuktikan bahwa ia sanggup memimpin kepengurusan BEM FIB UNAIR 2025. Mahasiswi asal Lamongan itu telah menjajaki dunia organisasi sejak tahun 2023. œPada tahun 2023 saya tergabung sebagai staf Kementerian Adkesma, lalu lanjut di tahun 2024 saya menjabat sebagai Menteri Adkesma, terangnya.

Tidak hanya aktif berorganisasi di BEM FIB, pada tahun 2023 Aisyah juga pernah bergabung sebagai staf divisi Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) di Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) Bahasa dan Sastra Indonesia UNAIR. Tidak puas sampai di organisasi tingkat program studi dan fakultas saja, Aisyah juga aktif berorganisasi di tingkat Universitas. œSelama dua tahun terakhir, tepatnya di tahun 2023 saya menjabat sebagai sekretaris 2 dan di tahun 2024 sebagai bendahara 1 di UKM Kempo, tambahnya.

Refleksi Kepengurusan Sebelumnya

Salah satu upaya Aisyah dalam mengembangkan BEM FIB UNAIR adalah dengan refleksi dari kepengurusan sebelumnya. Ia mengatakan bahwa beberapa hal perlu mendapat perbaikan dalam satu tahun kepengurusannya nanti. œSetelah menganalisis kondisi BEM FIB di kepengurusan sebelumnya, terdapat beberapa hal yang perlu dibenahi, pertama mengenai efektivitas dan efisiensi SDM, tuturnya.

Kedua, Aisyah akan meningkatkan kolaborasi antarorganisasi yang kurang bersinergi pada periode sebelumnya. Sebagai fakultas yang memiliki lebih dari 20 ormawa, BSO, dan komunitas, masih sedikit program kerja yang melibatkan kolaborasi antarorganisasi yang ada di FIB.

Ketiga, Aisyah juga mengungkapkan kurangnya ruang aman dan advokasi mengenai isu kekerasan seksual serta kesehatan mental di lingkungan FIB. œSaya rasa mengenai hal ini perlu diadakan tim khusus yang bekerja sama dengan lembaga terkait di 51¶¯Âþ untuk menangani advokasi tentang kesehatan mental dan pendampingan korban kekerasan seksual, terangnya.

Sebagai penutup, Aisyah berharap dapat merangkul seluruh staf dan pihak-pihak lain yang terkait hingga program kerjanya dapat terlaksana dengan maksimal. œUntuk kinerja seluruh staf BEM FIB ke depan, semoga dapat bersama-sama saling menjaga komitmen dan konsistensi diri untuk berkontribusi aktif sampai akhir, pungkasnya.

Kegiatan ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 5, yaitu gender equality.

Penulis: Rava Adistya Hanum

Editor: Selly Imeldha

AKSES CEPAT