FIB NEWS – 51 (FIB UNAIR) menyelenggarakan acara bedah buku berjudul Raja Candu Yogyakarta: Memoar Ko Ho Sing 18231878 pada Kamis, 8 Mei 2025 di Hotel Kokoon, Surabaya. Acara ini menghadirkan narasumber utama, Dr. Sri Margana, dosen sekaligus peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dalam pemaparannya, Dr. Sri Margana mengulas perjalanan penelitiannya terhadap manuskrip langka yang kini disimpan di Oriental Collection Universitas Leiden. Manuskrip ini merupakan memoar Ko Ho Sing, seorang tokoh Tionghoa yang hidup pada abad ke-19 dan dikenal sebagai salah satu pengusaha candu paling berpengaruh di Yogyakarta.
Dr. Margana menjelaskan bahwa naskah ini tidak hanya berisi catatan autobiografi, tetapi juga dokumen pribadi penting, seperti surat lisensi monopoli perdagangan candu, surat keanggotaan asosiasi elit Eropa di Yogyakarta, catatan pernikahan, serta catatan lain yang menunjukkan hubungan sosial Ko Ho Sing dengan masyarakat Jawa dan komunitas Tionghoa.
Penelitian ini menunjukkan bahwa Ko Ho Sing bukan hanya pengusaha, tetapi juga tokoh penting yang menjalin hubungan erat dengan bangsawan Jawa dan komunitas spiritual seperti kelompok Freemason. Dalam catatan manuskrip, ditemukan pula fakta bahwa Ko Ho Sing memiliki dua istri resmi serta beberapa gundik yang berasal dari kalangan perempuan Jawa.
Lebih lanjut, manuskrip yang ditulis dengan gaya aksara Jawa halus ini diyakini dikerjakan oleh lebih dari satu juru tulis, karena ditemukan perbedaan gaya tulisan pada beberapa bagian. Naskah ini menunjukkan pula kualitas tinggi, karena beberapa pupuh tembang dalam naskahnya diberi hiasan emas.
Selain sebagai pedagang candu, Ko Ho Sing juga dikenal sebagai tokoh dermawan yang menyumbang untuk berbagai lembaga sosial, termasuk organisasi ilmiah Hindia Belanda dan komunitas spiritual Tionghoa di Yogyakarta. Ia bahkan tercatat menjadi anggota kehormatan di beberapa perkumpulan Eropa, sebuah hal yang sangat jarang terjadi untuk tokoh non-Eropa pada masa itu.
Acara bedah buku ini menjadi ruang diskusi penting untuk menggali sejarah sosial-ekonomi Tionghoa di Indonesia serta kontribusi mereka dalam jaringan ekonomi kolonial. Melalui riset ini, FIB UNAIR menunjukkan komitmennya untuk memperkuat kajian sejarah lokal. Kegiatan bedah buku ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.




