FIB NEWS “ , , 51¶¯Âþ (FIB UNAIR), menyelenggarakan kegiatan bedah buku berjudul Raja Candu Yogyakarta: Memoar Ko Ho Sing 1823“1878 pada Kamis, 8 Mei 2025, bertempat di Hotel Kokoon Surabaya. Acara ini menghadirkan pakar sejarah dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Sri Margana, sebagai narasumber utama.
Kegiatan ini menjadi momen penting dalam menggali kontribusi komunitas Tionghoa dalam sejarah budaya dan sosial di Indonesia, khususnya di Jawa. Dalam sesi penyampaian materi, Shinta Devi Ika Santhi Rahayu, S.S., M.A., dosen FIB UNAIR, mengulas tentang manuskrip memoar Ko Ho Sing. Ia mempertanyakan apakah Ko Ho Sing menulis sendiri naskahnya atau meminta bantuan pihak lain, mengingat keterbatasan akses pendidikan sastra Jawa bagi komunitas Tionghoa saat itu.
Shinta menjelaskan bahwa meskipun jarang, ada tokoh Tionghoa yang menunjukkan ketertarikan mendalam pada sastra Jawa. Menurutnya, dedikasi semacam ini menunjukkan peran penting komunitas Tionghoa dalam pelestarian budaya Jawa.
Lebih lanjut, manuskrip Ko Ho Sing dianggap memiliki keunikan tersendiri karena memuat detail kehidupan pribadinya, termasuk hubungan keluarga dan kehidupan rumah tangga, yang jarang ditemukan dalam dokumen sejenis. Hal ini menunjukkan kedalaman narasi memoar tersebut sebagai sumber sejarah sosial.
Dari sisi historis, memoar ini juga merekam gelombang migrasi orang Tionghoa ke Nusantara, terutama setelah Dinasti Qing berkuasa di Tiongkok. Shinta memaparkan bahwa kedatangan mereka tidak hanya didorong oleh perdagangan, tetapi juga karena faktor kemiskinan, bencana alam, dan tekanan politik. Jawa saat itu dipandang sebagai tanah harapan yang menjanjikan kesejahteraan, sebagaimana diceritakan dalam surat-surat dari para perantau.
Lebih dari itu, Shinta mengungkap bahwa banyak komunitas Tionghoa di Surabaya membentuk pemukiman berdasarkan profesi seperti tukang kayu, tukang becak, hingga tukang gigi. Hal ini membuktikan bahwa tidak semua orang Tionghoa datang dengan modal besar, dan banyak yang memulai dari pekerjaan kasar sebelum berkembang menjadi pebisnis sukses.
Memoar ini juga merekam peristiwa penting seperti Perang Jawa dan bencana gempa bumi dari sudut pandang komunitas Tionghoa. Hal tersebut memberikan dimensi emosional dan sosial yang jarang ditampilkan dalam arsip-arsip kolonial Belanda.
Konsep œjalan tengah yang diangkat dalam buku ini menjadi topik reflektif. Konsep ini menggambarkan strategi komunitas Tionghoa dalam menjaga keseimbangan identitas kultural antara budaya Tionghoa, Jawa, dan Belanda. Kedermawanan dan kemampuan beradaptasi menjadi ciri khas yang ditonjolkan, seperti melalui sumbangan kepada masyarakat dan pembentukan perkumpulan berdasarkan ikatan sosial.
Dalam penutupnya, Shinta menekankan bahwa adaptasi budaya tidak berarti pengingkaran terhadap identitas. Justru, integrasi budaya Jawa memperkuat nilai-nilai Tionghoa, menciptakan perpaduan unik yang memperkaya keberagaman budaya Indonesia.
Kegiatan bedah buku ini diharapkan dapat menginspirasi kajian lebih lanjut mengenai peran komunitas Tionghoa dalam sejarah lokal dan nasional, serta meningkatkan apresiasi terhadap kontribusi mereka dalam kebudayaan Nusantara. Kegiatan bedah buku ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.




