Di era digital saat ini minat baca masyarakat Indonesia masih menjadi tantangan besar. Data UNESCO menunjukkan bahwa tingkat literasi di Indonesia tergolong rendah dibandingkan negara lain di Asia Tenggara. Padahal membaca merupakan fondasi bagi kemajuan individu dan bangsa. Kegiatan bedah buku menjadi salah satu cara efektif untuk menumbuhkan minat baca dan memperkuat budaya literasi (Rosalina et al., 2024).
Berdasarkan data dari gema pos Angka Literasi Indonesia Tahun 2025 Berdasarkan Provinsi, terlihat bahwa tingkat literasi di hampir seluruh provinsi Indonesia berada pada angka yang sangat tinggi, sebagian besar di atas 99%. Provinsi seperti Banten, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara bahkan mencapai 99,96%, menunjukkan kemajuan signifikan dalam pemerataan pendidikan dan akses terhadap sumber belajar. Papua Tengah (85,57%) masih menjadi daerah dengan tingkat literasi terendah, menandakan adanya kesenjangan dalam infrastruktur pendidikan dan akses literasi di wilayah timur Indonesia. Daerah dengan angka literasi tinggi perlu mempertahankan budaya diskusi dan apresiasi karya tulis, sedangkan daerah dengan literasi rendah memerlukan dukungan program literasi berbasis komunitas.
Kegiatan bedah buku bukan sekadar ajang membahas isi sebuah karya, tetapi juga ruang dialog antara penulis, pembaca, dan masyarakat luas. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami makna yang lebih dalam dari sebuah buku, menilai gagasan yang disampaikan penulis, sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis dan apresiasi terhadap karya sastra maupun ilmiah. Interaksi semacam ini dapat menciptakan atmosfer intelektual yang inspiratif dan mendorong munculnya kebiasaan membaca di kalangan muda (Sasmayunita et al., 2022). Bedah buku juga memiliki peran sosial. Ia mempertemukan komunitas pecinta literasi, akademisi, dan masyarakat umum dalam satu wadah yang inklusif. Peserta belajar untuk saling menghargai pendapat, berbagi sudut pandang, dan menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap berbagai topik baru (Shomad et al., 2024). Untuk memperkuat dampaknya, kegiatan bedah buku sebaiknya digabungkandengan program literasi sekolah, kampus, maupun komunitas. Pemerintah dan lembaga pendidikan dapat bekerja sama dengan penerbit, penulis, serta komunitas baca agar kegiatan ini berlangsung rutin dan menarik.
Penulis: Muftia Nurul Azka (Akpres BEM FIB)




