FIB NEWS – Pemilihan dekan menjadi momen yang krusial dalam membangun keberlanjutan kepemimpinan sekaligus menjawab tantangan akademik dan budaya. Pada Selasa (26/8/2025), 51动漫 (UNAIR) menggelar acara presentasi gagasan kandidat dekan periode 2025-2030. Acara tersebut berlangsung di Ruang Chairil Anwar, lantai 2, Gedung FIB, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.
Pemaparan gagasan dari calon dekan menjadi salah satu agenda dari pelaksanaan pemilihan dekan berdasarkan peraturan rektor. Sebanyak dua kandidat dekan mempresentasikan visi, misi, serta program strategis mereka. Kedua calon tersebut adalah Syahrur Marta Dwi Susilo, S.S., M.A., Ph.D. dan Lina Puryanti, S.S., M.Hum., Ph.D.
Dalam kesempatan itu, hadir pula Dekan FIB UNAIR, Prof. Dr. Purnawan Basundoro S.S., M.Hum. Pada sambutannya, Prof Purnawan menyampaikan bahwa dua kandidat dekan terpilih merupakan yang terbaik dalam memimpin FIB UNAIR di masa depan.
Alhamdulillah ada dua rekan kita yang menjadi calon yaitu Lina Puryanti Ph.D., dan Dr. Syahrur Marta Dwi Susilo, yang tentunya sudah kita kenal dengan baik dan akan kita dengarkan bersama gagasan mereka pada hari ini, ujarnya.
Gagasan yang Menjadi Penentu
Prof. Purnawan menjelaskan proses pemilihan umum dekan ini merupakan hak prerogatif dari rektor. Artinya, seluruh keputusan akhir berada di tangan rektor. Meski begitu, ia menilai tahap paparan gagasan dari para calon dekan ini sangat penting sebagai penilaian awal kesiapan mereka untuk memimpin fakultas.
淧roses pemilihan dekan secara umum sebenarnya merupakan hak prerogatif dari rektor, namun tahap paparan gagasan dari masing-masing calon dekan ini penting untuk melihat siapa yang paling siap memimpin fakultas, jelasnya.
Melalui forum ini, seluruh civitas akademik dapat menyaksikan secara langsung visi, misi dan strategi yang ditawarkan oleh para calon dekan untuk membawa FIB UNAIR ke arah yang lebih maju.
Optimisme untuk Kepemimpinan Baru
Lebih lanjut, Prof. Purnawan menyatakan keyakinannya bahwa kedua calon dekan ini merupakan figur terbaik. Ia menaruh harapan besar bahwa siapapun yang terpilih akan mampu membawa perubahan positif bagi fakultas.
淭erlepas dari itu semua saya kira kedua calon ini sangat layak untuk memimpin fakultas ilmu budaya dan menjadikan fakultas ilmu budaya jauh lebih baik pada 5 tahun kedepan, tegasnya.
Acara presentasi kandidat dekan ini dihadiri tidak hanya oleh jajaran dosen, tetapi juga tenaga kependidikan, alumni, serta perwakilan mahasiswa. Kehadiran berbagai unsur civitas ini menjadikan forum terasa lebih inklusif. Agenda lima tahunan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi momentum yang menentukan arah kebijakan, pengembangan akademik, serta masa depan fakultas dalam beberapa tahun ke depan.
Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.
Penulis: Pudja Safana Dwi Putri
Editor: Nuri Hermawan




