Pancasila kerap dianggap hanya sebatas jargon politik, padahal sejatinya ia merupakan substansi ajaran luhur yang menjadi fondasi bangsa. Prof. Dr. Suparto Wijoyo, SH., M.Hum., Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR) sekaligus pengajar Filsafat Pancasila dan Guru Besar Hukum Lingkungan, menegaskan hal tersebut dalam acara Testimoni, Bedah Buku, dan Seminar Nasional berjudul Gobel Vision: Falsafah Pancasila, Inovasi, Teknologi, dan Industri Berkeadilan yang digelar di FISIP UNAIR Surabaya.
Menurut Prof. Suparto, Pancasila adalah karya kolektif para pendiri bangsa, termasuk peran penting ulama Nahdlatul Ulama (NU), yang harus diimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama ekonomi.
Pancasila dalam Dunia Bisnis
Dalam kesempatan itu, Prof. Suparto mengapresiasi buku Praksis Pancasila: Pengamalan Ideologi di Perusahaan Gobel karya Nashihin Masha. Ia menilai buku tersebut luar biasa karena berhasil menjabarkan nilai-nilai Pancasila ke dalam praktik bisnis, sesuatu yang jarang ditemukan. Buku ini menjadi bukti bahwa Pancasila dapat menjadi pedoman nyata dalam dunia korporasi.
Peran Ulama dan Pasal 33 UUD 1945
Sejarah mencatat, peran ulama sangat penting dalam perumusan dasar negara. KH. Wahid Hasyim, misalnya, menjadi tokoh kunci dalam perubahan tujuh kata Piagam Jakarta menjadi 淜etuhanan Yang Maha Esa. Hal ini menegaskan bahwa Pancasila tidak bisa dilepaskan dari kontribusi besar ulama NU.
Lebih lanjut, Prof. Suparto menyoroti makna Pasal 33 UUD 1945. Menurutnya, frasa 渂umi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara bukanlah konsep kepemilikan, melainkan penguasaan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Negara tidak memiliki, tetapi hanya menguasai demi kepentingan rakyat. Ia menyebut pandangan Rachmad Gobel dalam bukunya sebagai bentuk spektakuleritas konstitusionalisme karena berani mengulas implementasi Pasal 33.
Tantangan Mewujudkan Keadilan Ekonomi
Meski konstitusi sudah jelas, implementasi Pasal 33 masih jauh dari ideal. Prof. Suparto mempertanyakan apakah kekayaan alam benar-benar telah dikelola untuk kesejahteraan rakyat. Ia menyinggung ketimpangan kepemilikan lahan dan sumber daya yang dikuasai segelintir korporasi, sementara masyarakat luas tidak merasakan manfaatnya.
Menulis Sebagai Jalan Tuhan
Bagi Prof. Suparto, menulis adalah salah satu jalan mendekat kepada Tuhan. Ia menekankan bahwa Tuhan memperkenalkan diri melalui kitab suci, bukan dengan kekerasan. Karena itu, ia memuji penulis Nashihin Masha yang menempuh jalan Tuhan dengan menuangkan gagasan lewat buku.
Komitmen PWNU Jawa Timur
Pada akhirnya, PWNU Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus mengawal nilai-nilai Pancasila dalam pembangunan ekonomi yang adil dan merata. Prof. Suparto menutup dengan ajakan agar buku ini juga dibedah di kantor PWNU sebagai langkah nyata dalam memperkuat visi Indonesia Maju yang berlandaskan Pancasila.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




