51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Daikyousou: Ajang Kompetisi dengan Nuansa Jepang

Pelaksanaan technical meeting untuk para peserta melalui zoom (Foto: Istimewa)

FIB NEWS “ Daikyousou atau yang dikenal sebagai class meeting kembali digelar oleh Himpunan Mahasiswa (HIMA) 51¶¯Âþ (FIB UNAIR). Daikyousou diselenggarakan melalui kolaborasi antara departemen Education and Potential Development (EPO) dan Culture and Sport (CS). Acara tersebut berlangsung sepanjang bulan November dengan pendaftaran yang telah dibuka sejak Oktober lalu.

Mengusung tema Kouyou no Seimei yang bermakna kehidupan dedaunan musim gugur, Nia Aulia Rahma selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih sebagai representasi proses perjalanan kehidupan manusia. 

œSeperti yang kita tahu di Jepang saat ini sedang musim gugur dan pohon-pohon mulai berwarna, proses perubahan warna daun itulah yang diibaratkan sebagai proses kehidupan manusia mulai dari kecil sampai besar, ungkapnya.

Beragam Kompetisi

Daikyousou menghadirkan dua kategori lomba, yaitu akademik dan non-akademik. Untuk kategori akademik, lomba meliputi happyou (presentasi), shodou (kaligrafi Jepang), dan kamishibai (mendongeng tradisional). Perlombaan tersebut dibuka untuk siswa SMA dan mahasiswa, dengan seluruh kegiatan dilakukan secara daring.

Sementara untuk kategori non-akademik dirancang khusus untuk mahasiswa Bahasa dan Sastra Jepang UNAIR. Kompetisinya meliputi futsal dan Mobile Legend, yang diadakan secara langsung di kampus dan terbuka untuk mahasiswa angkatan 2021 hingga 2024.

Perubahan dan Tantangan Baru

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya dibuka untuk mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Jepang UNAIR dan sepenuhnya dilakukan secara luring, pada tahun ini Daikyousou membuka kesempatan bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan mahasiswa dari luar UNAIR.  

Hal tersebut dilakukan sebagai langkah untuk menggantikan peran acara Japanese World (JW) yang biasanya menjadi program kerja HIMA untuk eksternal. œKarena tahun ini kan nggak ada JW, jadi sensei minta tolong untuk di Daikyousou itu ada lomba untuk pihak eksternal gitu, jelas Nia.

Namun, skala yang lebih besar ini juga menjadi tantangan. Dari sisi internal, koordinasi panitia menjadi lebih rumit karena banyaknya pihak yang terlibat. Sedangkan dari sisi eksternal, tantangan utamanya adalah menarik peserta baru, terutama siswa SMA.

œJadi gimana cara kita mencari peserta lebih banyak, sedangkan acara ini baru, belum punya nama istilahnya. Karena namanya juga program kerja baru, jadi harus cari sponsor dan berkunjung langsung ke sekolah-sekolah buat menarik perhatian para peserta, tambahnya.

Untuk menghadapi tantangan yang ada, panitia mengambil berbagai langkah strategis. Mereka aktif melakukan promosi langsung ke sekolah-sekolah, menyebarluaskan informasi melalui grup alumni, grup angkatan, hingga jaringan para dosen.

Harapan untuk Masa Depan

Melalui pelaksanaan yang lebih besar serta melibatkan lebih banyak pihak, Nia berharap Daikyousou dapat menjadi sarana untuk menarik minat mereka kepada Prodi Bahasa dan Sastra Jepang UNAIR. Selain itu juga diharapkan menjadi langkah awal yang kuat untuk membangun dan memperkuat citra HIMA serta Prodi Bahasa dan Sastra Jepang UNAIR. 

œHarapannya untuk tahun depan pendaftar prodi kita itu lebih banyak, karena beberapa siswa yang ikut ada beberapa yang sudah ada basic bahasa Jepang dan aku harap mereka tertarik buat melanjutkan ke Prodi kita setelah lulus nanti, tutup Nia.

Kegiatan Daikyousou ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.

Penulis: Fania Tiara Berliana Marsyanda

Editor: Nuri Hermawan

AKSES CEPAT