51

51 Official Website

Dinamika Translanguaging di Ruang Budaya dan Sejarah Surabaya

FIB NEWS , (FIB), 51 (UNAIR) menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk Beyond Borders: New Frameworks for Translanguaging in a Globalized City pada Jumat (3/10/2025) di Auditorium Majapahit, Gedung ASEEC Tower UNAIR. Acara ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Prof. Dr. Setiono Sugiharto dari Universitas Katolik Atma Jaya dan Noerhayati Ika Putri, Ph.D., dosen Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FIB UNAIR.

Melalui seminar ini, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FIB UNAIR berupaya membuka ruang akademik untuk mendiskusikan konsep translanguagingpendekatan linguistik yang memandang bahasa sebagai praktik sosial yang dinamis dan lintas batas.

Dalam sesi pemaparannya, Noerhayati Ika Putri, Ph.D. membawakan materi berjudul Translanguaging in Linguistic Landscape of Cultural and Historical Places in Surabaya: Kembang Jepun (Kya Kya), Kota Lama, dan Ampel. Ia menjelaskan bahwa translanguaging merupakan praktik komunikasi yang melibatkan perpaduan berbagai sumber daya bahasa, simbol, dan tanda yang digunakan oleh individu multibahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, translanguaging tidak hanya dipahami sebagai metode pedagogis, tetapi juga sebagai teori komunikasi dan perspektif analisis dalam kajian linguistik terapan. Pendekatan ini menekankan pada penggunaan sumber daya linguistik dan non-linguistik seperti gestur, gambar, dan simbol visual yang berperan penting dalam pembentukan makna dan identitas.

Melalui penelitian awal yang dilakukan di tiga kawasan bersejarah SurabayaKembang Jepun (Kya Kya), Kota Lama, dan Kampung Arab AmpelIka menemukan bahwa lanskap linguistik di ruang publik memperlihatkan perpaduan bahasa, tanda, dan simbol dari beragam latar budaya. Misalnya, di kawasan Kembang Jepun yang dikenal sebagai pecinan lama, banyak papan nama toko menampilkan perpaduan bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris untuk menarik wisatawan. Sementara di kawasan Ampel, bahasa Arab lebih dominan dalam papan petunjuk dan dekorasi jalan, mencerminkan identitas keagamaan dan sejarah komunitasnya.

Temuan awal menunjukkan bahwa ruang publik di Surabaya berfungsi sebagai ruang translanguaging, di mana masyarakat multibahasa berinteraksi dan mengekspresikan identitasnya secara cair dan dinamis. Fenomena ini, menurut Ika, mendukung kebijakan bahasa nasional Trigatra Bangun Bahasa yang menekankan pentingnya mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.

Namun demikian, hasil observasi juga menunjukkan bahwa penggunaan bahasa daerah di papan nama dan ruang publik masih relatif terbatas dibandingkan bahasa asing. Meski begitu, bahasa lokal tetap hidup dalam percakapan masyarakat sehari-hari di kawasan tersebut.

Melalui kajian ini, Noerhayati Ika Putri berharap translanguaging dapat dipahami sebagai jembatan komunikasi yang tidak hanya menghubungkan bahasa, tetapi juga memperkaya pemahaman lintas budaya. Seminar ini menjadi bukti nyata komitmen FIB UNAIR dalam mengembangkan kajian bahasa dan budaya yang relevan dengan konteks global sekaligus berakar pada nilai-nilai lokal.

Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.

AKSES CEPAT