Potret Lina Puryanti PhD, saat menyampaikan materi pada kegiatan pengabdian masyarakat Program Pemanfaatan Sumberdaya Pulau Gili Iyang Sumenep dalam Pengembangan Ekowisata Berkelanjutan di Pulau Gili Iyang.
FIB NEWS “ 51¶¯Âþ (FIB UNAIR) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Program Pemanfaatan Sumberdaya Pulau Gili Iyang Sumenep dalam Pengembangan Ekowisata Berkelanjutan. Kegiatan berlangsung di Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep pada Sabtu (25/10/2025). Program ini berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola dan mempromosikan potensi wisata pulau secara mandiri.
Salah satu sesi pelatihan dilakukan melalui edukasi pemetaan wisata dan pembuatan postcard sebagai media promosi kreatif. Pelatihan diberikan oleh Lina Puryanti PhD, Wakil Dekan III FIB UNAIR periode 2020-Agustus 2025 didampingi oleh Dewi Meyrasyawati PhD, Wakil Dekan III FIB UNAIR periode September 2025-2030 melalui materi pemetaan wisata kreatif dan pembuatan postcard sebagai media promosi pariwisata. Pelatihan diikuti secara antusias oleh pemuda Karang Taruna dan Pokdarwis sebagai penggerak utama pariwisata lokal.

Karya postcard dan peta wisata Gili Iyang hasil kreativitas masyarakat dan akademisi dalam program pengabdian masyarakat UNAIR.
Pemetaan Kreatif untuk Promosi Wisata Lokal
Dalam pemaparannya, Lina menjelaskan pemetaan wisata bukan hanya penandaan titik lokasi wisata, tetapi juga memuat narasi budaya, aksesibilitas, hingga cerita lokal yang memperkaya pengalaman wisatawan. Peserta bersama-sama mengidentifikasi titik potensi seperti Gua Mahakarya, Gua Sarepa, Fosil Ikan Paus yang terdampar di Gili Iyang, Batu Cangga, Pantai Pamaddheggen, dan juga titik O2 dimana Gili Iyang juga dikenal dengan titik O2 terbesar ke dunia di dunia.
Sesi praktik pembuatan postcard menjadi bagian paling diminati. Foto dan ikon khas Gili Iyang diolah menjadi souvenir sederhana namun kuat dalam mempromosikan citra destinasi. œPostcard itu media kecil yang bisa menyebarkan nama Gili Iyang ke mana saja, jelasnya..
Melalui pendekatan kreatif tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa promosi wisata tidak harus menunggu fasilitas besar atau kampanye mahal. Inovasi lokal justru dapat menciptakan citra destinasi yang unik dan berkarakter. Peserta juga dikenalkan pada strategi pemasaran sederhana, seperti menjual postcard di lokasi wisata atau membagikannya kepada wisatawan sebagai bentuk kenang-kenangan.
Pembelajaran ini menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat bahwa mereka memiliki peran langsung dalam memperkenalkan Gili Iyang ke dunia lebih luas. Dengan dukungan pengetahuan pemetaan dan keterampilan kreatif, Gili Iyang selangkah lebih maju menjadi destinasi ekowisata yang tidak hanya indah, tetapi juga informatif dan penuh cerita.

Potret tenaga kependidikan dan masyarakat Pulau Gili Iyang dalam kegiatan pengabdian masyarakat UNAIR.
Dampak untuk Kemandirian Ekonomi dan Pariwisata
Dalam sesi wawancara, Wakil Dekan III FIB UNAIR, Dewi Meyrasyawati PhD, menegaskan bahwa program ini menargetkan kemandirian masyarakat dalam mengidentifikasi dan mempromosikan potensi wisata mereka. œDengan adanya peta wisata, masyarakat memiliki alat promosi yang konkret dan mudah digunakan untuk memperkenalkan rute wisata, titik-titik penting, dan keunggulan lokal kepada pengunjung. ujarnya.
Dewi juga menekankan pentingnya menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas lokal karena peta wisata menampilkan kekhasan Gili Iyang yang selama ini menjadi daya tarik. Ia menyampaikan bahwa masyarakat harus mandiri dalam mengelola aset wisatanya, termasuk membuat dan memperbarui materi promosi secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, Dewi menjelaskan bahwa pengembangan wisata hanya dapat berhasil jika dilakukan bersama-sama dengan kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa pariwisata Gili Iyang, bertumpu pada alam dan kualitas udara yang menjadi ciri khas pulau tersebut.
œPotensi lokal adalah kekuatan terbesar masyarakat. Karena itu, daya tarik wisata yang kita miliki harus dijaga secara berkelanjutan, ujarnya. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan semakin sadar bahwa promosi wisata tidak hanya tentang mengenalkan destinasi, tetapi juga memastikan kelestariannya untuk masa depan.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 11, yaitu Sustainable Cities and Communities.
Penulis: Tsabita Nuha Zahidah
Editor: Fania Tiara Berliana M




