51

51 Official Website

Ekokritik: Arena Negosiasi antara Sastra, Budaya, dan Lingkungan

FIB NEWS Isu lingkungan dan kesadaran ekologis kembali menjadi sorotan dalam dunia akademik melalui Seminar Academic Student Networking (ASN) 2025 bertema Ekokritik: Sastra dan Budaya sebagai Arena Negosiasi. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 1 Oktober 2025, oleh Program Studi Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Magister Kajian Sastra dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya 51 (UNAIR).

Salah satu pembicara dalam kegiatan ini adalah Dr. Nadya Afdholy, S.Hum., M.Pd., M.Hum., dosen 51. Dalam pemaparannya berjudul Ekokritik: Sastra sebagai Arena Negosiasi, Dr. Nadya menegaskan bahwa sastra tidak hanya berbicara tentang keindahan bahasa atau nilai estetika, tetapi juga berfungsi sebagai ruang negosiasi antara manusia dan alam, antara tradisi dan modernitas, serta antara ideologi dan realitas sosial.

Sastra sebagai Ruang Negosiasi Ekologis

Menurut Dr. Nadya, ekokritik merupakan pendekatan dalam kajian sastra dan budaya yang meneliti hubungan antara manusia dan lingkungan non-manusia. Pendekatan ini mencakup representasi alam dalam karya sastra serta bagaimana teks dapat membentuk kesadaran ekologis masyarakat. Dalam konteks global, ekokritik turut menyoroti isu-isu seperti krisis iklim, eksploitasi alam oleh kapitalisme, marginalisasi masyarakat adat, dan keadilan ekologis.

Sastra dan budaya, lanjutnya, bukanlah refleksi pasif, melainkan arena tempat berlangsungnya tawar-menawar makna dan kuasa. Di dalamnya terdapat berbagai aktorpenulis, komunitas lokal, budaya dominan, hingga unsur nonmanusia seperti alam itu sendiri. Sastra menjadi wadah bagi suara-suara yang termarginalkan, termasuk perempuan, masyarakat adat, dan lingkungan.

Ekokritik dan Perspektif Gender

Dr. Nadya juga menyoroti hubungan erat antara ekokritik dan gender melalui pendekatan ekofeminisme. Ia menjelaskan bahwa patriarki, kolonialisme, dan kapitalisme telah lama menundukkan tubuh perempuan dan tubuh bumi melalui eksploitasi yang serupa. Dalam perspektif ini, perempuan dan alam sering kali diposisikan sebagai objek, baik dalam teks sastra maupun dalam realitas sosial.

Mengutip pemikiran Vandana Shiva, Dr. Nadya mengajak peserta seminar untuk melihat perempuan dan alam bukan hanya sebagai simbol Mother Nature, melainkan sebagai subjek politik ekologis yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan. Ia menambahkan bahwa ritual-ritual lokal dan budaya populer kini menjadi ruang bagi perempuan untuk menegosiasikan identitas ekologisnya, baik melalui upacara adat maupun media digital.

Representasi Alam dan Perempuan dalam Sastra Indonesia

Dalam analisisnya terhadap sastra Indonesia, Dr. Nadya menunjukkan bagaimana karya-karya klasik seperti Sitti Nurbaya karya Marah Rusli hingga Belenggu karya Armijn Pane merepresentasikan keterkaitan antara eksploitasi perempuan dan eksploitasi alam. Ia juga menyoroti karya-karya W.S. Rendra, NH Dini, dan Pramoedya Ananta Toer sebagai bentuk kritik terhadap ketimpangan sosial, patriarki, dan degradasi lingkungan.

Melalui mitos dan legenda seperti Dewi Sri dan Nyi Roro Kidul, masyarakat Nusantara sejatinya telah lama menempatkan perempuan sebagai simbol kesuburan, penjaga keseimbangan, sekaligus mediator antara manusia dan alam.

Refleksi dan Harapan

Di akhir paparannya, Dr. Nadya menegaskan bahwa sastra menghadirkan perempuan dalam tiga posisi utama: penjaga lingkungan, korban ekologi, dan agen negosiasi aktif. Melalui karya sastra, perempuan tidak hanya diposisikan sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek politik dan kultural dalam wacana ekologi.

Seminar ASN 2025 ini diharapkan dapat memperluas wawasan akademik tentang pentingnya pendekatan lintas disiplin dalam memahami relasi antara sastra, budaya, gender, dan lingkungan. Selain itu, kegiatan ini menjadi momentum bagi kalangan akademisi untuk mengintegrasikan nilai-nilai ekologis dan kemanusiaan dalam kajian sastra dan budaya di era global yang serba dinamis.

AKSES CEPAT