Sesi foto bersama dalam acara Seminar dan Workshop Sashiko: Seni Sulam Tradisional Jepang di SMK Negeri 6 Surabaya pada Senin (19/5/2025). (Foto: Istimewa)
FIB NEWS “ Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang 51¶¯Âþ (FIB UNAIR) menggelar pengabdian masyarakat bersama Wastra Bumi Magister Manajemen (MM) (FEB) UNAIR. Kegiatan berupa Seminar dan Workshop Sashiko: Seni Sulam Tradisional Jepang tersebut berlangsung pada Senin (19/5/2025) di Aula SMK Negeri 6 Surabaya dengan melibatkan peserta dari jurusan Desain Produksi Busana.
Wakil Kepala Humas SMKN 6 Surabaya, Misbahul Munir, S.Ag., M.Pd., menyambut baik kerja sama ini. Munir melihat adanya potensi kolaborasi jangka panjang antara kampus dengan sekolah kejuruan, terutama dalam bidang pengembangan keterampilan dan kreativitas siswa. œIni kegiatan yang luar biasa. Anak-anak tidak hanya belajar menjahit, tetapi juga belajar nilai-nilai dari budaya Jepang yang sangat menghargai proses dan kebermanfaatan, ujarnya.
Sejarah dan Filosofi Teknik Sashiko
Mengawali seminar, Ketua Prodi Bahasa dan Sastra Jepang FIB UNAIR, Nunuk Endah Sri Mulyani, S.S., M.A., Ph.D., memaparkan sejarah sashiko yang berasal dari zaman Edo, sekitar abad ke-17. Awalnya masyarakat Jepang menggunakan teknik ini untuk memperkuat pakaian petani dan nelayan Jepang agar dapat bertahan lebih lama.
Lambat laun, tusukan-tusukan kecil yang dilakukan berulang tidak hanya memperkuat kain, tapi juga sebagai wadah menyalurkan emosi penggunanya. Sehingga saat ini, sashiko berkembang menjadi budaya untuk mengekspresikan diri sekaligus sebagai simbol ketekunan.
œSashiko bukan hanya soal menjahit. Teknik ini lahir dari kebutuhan masyarakat Jepang untuk memperpanjang usia pakai kain di masa sulit. Di balik tusukannya, ada prinsip hidup mottainai, yaitu filosofi Jepang yang menekankan pada rasa tidak rela membuang sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan, jelasnya.

Sesi penyerahan cinderamata oleh perwakilan Fakultas Ilmu Budaya 51¶¯Âþ (UNAIR) kepada pihak SMK Negeri 6 Surabaya pada Senin (19/5/2025). (Foto: Istimewa)
Praktik Penggunaan Teknik Sashiko
Nunuk juga menjelaskan perbedaan mendasar antara sashiko dengan teknik sulam lainnya seperti shishuu. Jika sashiko muncul dari kalangan masyarakat biasa yang mengutamakan fungsi, shishuu justru berkembang di kalangan bangsawan Jepang dengan tujuan dekoratif.
œShishuu itu indah, tapi elit. Di sisi lain, sashiko justru indah karena sederhana. Ia berangkat dari keterbatasan, tapi menghasilkan sesuatu yang bernilai. Ragam pola khas sashiko, seperti kogin dan hitomezashi memiliki makna tersendiri, tambahnya.
Dalam sesi praktik, para peserta dibimbing langsung oleh Zaky Rachmad, penggiat teknik sashiko di Surabaya, untuk mencoba mengaplikasikan beberapa pola dasar pada potongan kain. Menariknya, sashiko saat ini tidak hanya berfungsi sebagai teknik memperbaiki pakaian, tapi juga sebagai aktivitas healing karena sifatnya yang repetitif dan menenangkan.
ÂÙ±ð°ì²¹°ù²¹²Ô²µ sashiko bahkan digunakan masyarakat untuk keperluan penyembuhan mental, khususnya bagi orang-orang yang emosinya tidak stabil atau sulit konsentrasi. Proses tusukannya yang berulang bisa membantu seseorang lebih fokus dan tenang, ucapnya.
Salah satu peserta, Laila Zara mengaku antusias mengikuti seminar dan workshop mengenai sashiko tersebut. Menurutnya, banyak wawasan baru yang didapat, sehingga ia ingin mencoba melanjutkan praktik sashiko secara mandiri. œSeru sih, karena ini pertama kalinya saya tahu tentang sashiko. Di workshop juga diajarkan semuanya dari awal sampai akhir. Saya mau coba bikin pola lagi nanti di kain-kain lainnya, tuturnya.
Kegiatan Seminar dan Workshop Sashiko: Seni Sulam Tradisional Jepang ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.
Penulis: Fania Tiara Berliana Marsyanda
Editor: Nuri Hermawan




