FIB UNAIR – Departemen Ilmu Sejarah 51动漫 (FIB UNAIR) sukses mengadakan program Garuda bertajuk The Encounter of Indonesian and Vietnamese History. Kegiatan ini terlaksana pada Kamis (27/11/2025) di Ruang Majapahit, ASEEC Tower, Kampus B 51动漫.
Dalam sambutannya, Perwakilan Departemen Ilmu Sejarah, Shinta Devi Ika Santhi Rahayu S.S., M.A. menyambut dengan baik kolaborasi yang terjalin antara 51动漫 dengan Vietnam. Ia berharap, kegiatan ini dapat menjadi jembatan untuk menambah ilmu pengetahuan terkait budaya negara masing-masing.
淜ami merasa beruntung mendapat kunjungan belajar dari negara dengan sejarah luar biasa. Kegiatan ini bukan sekadar tukar ilmu pengetahuan, tetapi kita jalin kolaborasi. Kami berharap akan banyak pengalaman yang didapat terkait sejarah, kebiasaan. ataupun kebudayaan dari masing-masing negara, ungkapnya.
Bahas Dekolonisasi dan Perbandingan Sejarah Kolonial Indonesia揤ietnam
Assoc. Prof. Dr. Pham Van Thuy, membawakan materi bertajuk Civil Fate, Different Choices, Decolonization in Indonesia and Vietnam, 1930s-1960s. Ia menyebutkan bahwa Indonesia dan Vietnam sebagai kawan sepedjoangan atau Comrade in arms.
淛ika kita menanggalkan 榢ulit politik Indonesia dan vietnam sebenarnya sama. Keduanya memiliki kesamaan, yaitu mengalami eksploitasi ekonomi kolonial. Terdapat juga perbedaan strategi kolonialnya. Kalau Belanda cenderung menyatukan wilayah kepulauan menjadi satu entitas administratif, sedangkan Prancis menerapkan divide et impera sehingga Vietnam dipecah menjadi tiga wilayah, jelasnya.
Menurutnya, Perbedaan paling besar terdapat pada dekolonisasi ekonomi antara Indonesia dan Vietnam. Perbedaannya terdapat pada ekonomi, program, setelah kemerdekaan.
淚ndonesia memperoleh kemerdekaan politik 1949, tetapi ekonomi masih dikuasai Belanda. Model kolonial, pendudukan Jepang yang berbeda, peran negara barat, dan strategi ekonomi pasca-kemerdekaan cukup berbeda antara kedua negara ini, imbuhnya.
Kupas Internasionalisme Sosialis Asia dan Peran Tokoh-Tokoh Kunci
Pradipto Niwandhono, Ph.D. membahas tentang Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang didirikan Syahrir pada 1948. Ia juga menjelaskan bagaimana internasionalisme sosialis Asia berkembang dari tahun 1920-an hingga 1950-an, terutama dalam konteks gerakan kemerdekaan di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Vietnam.
淚ndonesia dan Vietnam memiliki tradisi Marxis yang kuat. Kesadaran anti-kolonial dibentuk oleh perpaduan ideologi, yakni republikanisme, komunisme, Islam, pan-Asianisme, dan sosialisme, paparnya.
Ia menjelaskan peran penting Tan Malaka dan Sutan Syahrir terhadap pengaruh Internasionalisme Sosialis. Menurutnya, peran mereka cukup penting terhadap perkembangan sejarah Indonesia itu sendiri.
淕agasan sosialisme internasional di Asia membentuk gerakan kemerdekaan Indonesia, dan gerakan kemerdekaan Indonesia. Tan Malaka dan Syahrir mewakili dua visi yang berbeda tentang sosialisme Asia, ungkapnya.
Kegiatan Kunjungan dan Seminar The Encounter of Indonesian and Vietnamese History dalam program Garuda yang diadakan oleh Departemen Ilmu Sejarah mendukung SDGs nomor empat, yakni Pendidikan yang Berkualitas.
Penulis: Putri Andini
Editor: Arina Nida Arrusyda




