51动漫

51动漫 Official Website

Kaprodi Ilmu Sejarah Punya Pendapat Sendiri Terkait Repratriasi

FIB NEWS51动漫 (FIB UNAIR) kembali menggelar agenda akademik bergengsi berupa Seminar Internasional Studi Kritis tentang Provenance, Sejarah, dan Warisan Budaya. Acara yang berlangsung pada 23 Juni 2025 di Ruang Majapahit Tower ASEEC UNAIR ini terselenggara melalui kolaborasi dengan Universitas Hasanuddin, Universitas Andalas, Perkumpulan Program Studi Sejarah Indonesia (PPSI), dan Perkumpulan Praktisi dan Profesional Sejarah (PPPK).

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber terkemuka dari dalam dan luar negeri. Mereka di antaranya Prof. William Bradley Horton, Ph.D., Prof. Mayumi Yamamoto, Prof. Dr. Ismunandar, Prof. Dr. Agus Suwignyo, Dr. Muslimin AR. Effendi, dan Dr. Johny Alfian Khusyairi dari berbagai universitas ternama. Para peserta yang hadir pun mencakup dosen, peneliti, mahasiswa, serta pemerhati sejarah dan budaya dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam sambutannya, Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah UNAIR menyampaikan perspektif kritis yang memicu perenungan bersama mengenai isu repatriasi atau pengembalian benda cagar budaya ke tanah asalnya. Beliau mengungkapkan bahwa meski repatriasi menjadi kebijakan resmi pemerintah, ada sejumlah alasan yang membuatnya pribadi merasa kurang berbahagia dengan proses tersebut.

Alasan pertama, hilangnya fungsi promosi kebudayaan Indonesia di mancanegara. Contohnya, keberadaan Arca Singasari di Museum Volkenkunde Belanda menjadi daya tarik edukasi dan promosi sejarah Nusantara secara gratis. Jika benda itu dipulangkan, maka peluang promosi internasional tersebut akan lenyap.

Kedua, persoalan asal usul benda warisan budaya yang rentan menimbulkan klaim kepemilikan antar kelompok atau komunitas lokal. Pengalaman konflik di wilayah Kerajaan Gowa menjadi contoh nyata bagaimana sengketa klaim benda pusaka bisa memicu ketegangan sosial.

Ketiga, kesiapan infrastruktur museum di Indonesia yang masih terbatas. Insiden kebakaran di Museum Nasional tahun lalu menjadi pengingat betapa rentannya pengelolaan koleksi bersejarah jika tidak disertai kesiapan fasilitas dan pendanaan yang memadai. Oleh karena itu, beliau berpendapat bahwa sebagian benda pusaka sebaiknya tetap berada di luar negeri, menjadi 渒utukan bagi negara bekas penjajah yang harus menanggung biaya perawatan sangat besar.

Meski demikian, beliau menekankan bahwa diskusi mengenai repatriasi harus terus dilakukan secara terbuka. Hal ini penting agar generasi sejarawan muda memahami isu provenance secara menyeluruh dan memiliki kompetensi untuk menanganinya secara profesional. Oleh sebab itu, seminar internasional ini juga dimaksudkan sebagai langkah awal mempersiapkan generasi penerus agar kelak dapat memperoleh sertifikat khusus di bidang provenance. Sertifikat ini akan menjadi pengakuan keahlian penting yang sampai saat ini belum banyak dimiliki sejarawan Indonesia.

Selain seminar, kegiatan ini turut dilengkapi dengan peluncuran buku terbaru berjudul Jejak Waktu: Indonesia dalam Pusaran Bahari, Etnisitas, dan Transformasi Sosial. Buku yang diterbitkan oleh PPSI ini membahas isu strategis mengenai kemaritiman, rempah, dan dinamika sosial budaya Nusantara. Panitia juga menyediakan versi digital buku yang dapat diunduh secara gratis oleh peserta.

Koordinator Prodi Ilmu Sejarah menutup sambutannya dengan harapan agar diskusi ini dapat memantik pemikiran kritis sejarawan muda mengenai pentingnya pelestarian warisan budaya, sekaligus menjadi sarana memperkuat jaringan akademik lintas kampus. Ia juga menyampaikan rencana penyelenggaraan pertemuan lanjutan di Makassar sebagai putaran kedua diskusi pada Agustus atau September mendatang.

Seminar ini menjadi bukti nyata kontribusi FIB UNAIR dalam mendorong riset sejarah yang kontekstual dan relevan, demi menjaga warisan budaya bangsa untuk generasi masa depan. Seminar ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.

AKSES CEPAT