51动漫

51动漫 Official Website

Ketahanan Pangan Berbasis Tradisi dan Kearifan Lokal

FIB News – Pada tanggal 27 Agustus 2024, , 51动漫 (FIB UNAIR), mengadakan acara Lokakarya Nusantara dan Tradisi Lokal: Ketahanan Pangan. Bertempat di Ruang Chairil Anwar, acara ini menghadirkan tiga pembicara utama yang ahli di bidangnya: Pudentia MPSS dari Asosiasi Tradisi Lisan, Fadly Rahman dari Universitas Padjadjaran, dan M. Bagus Febriyanto dari UIN Sunan Kalijaga.

Pembahasan Materi Ketahanan Pangan dan Tradisi Lokal

Salah satu pembicara, Fadly Rahman, yang merupakan Dosen Departemen Sejarah dan Filologi Universitas Padjadjaran, menyampaikan materi mengenai ketahanan pangan yang berbasis tradisi dan kearifan lokal. Ia menjelaskan bahwa ketahanan pangan di Indonesia sangat beragam, dipengaruhi oleh kondisi geografis dan budaya setempat.

Di bagian barat Indonesia, seperti Sumatra, Jawa, dan Kalimantan, beras menjadi bahan pangan pokok utama. Sementara itu, di wilayah timur seperti Sulawesi, Bali, NTB, dan NTT, terdapat keberagaman sumber pangan seperti beras, jagung, pisang, ubi, dan sagu. Ikan juga menjadi sumber pangan yang melimpah di beberapa daerah yang berbatasan dengan laut, seperti Sumatra, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Tradisi Pangan dan Kearifan Lokal

Dalam lokakarya ini, disinggung pula peran penting tradisi lokal dalam menjaga ketahanan pangan. Salah satu contoh yang dibahas adalah Sambal Cibiuk dari Jawa Barat, yang memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari tradisi leluhur. Naskah kuno dari Garut, yang dikenal sebagai Mapag Cacandran Sunan Haruman, menunjukkan bahwa sejak abad ke-16, sambal telah menjadi simbol ketahanan pangan.

Tak hanya itu, Fadly juga menekankan pentingnya perempuan dalam menjaga kelestarian pangan. Ekofeminis Vandana Shiva mengutarakan bahwa perempuan memiliki peran kunci dalam mempertahankan keberlanjutan lingkungan melalui aktivitas sehari-hari mereka, terutama dalam bidang pangan.

Tradisi Pangan Osing di Banyuwangi

Masyarakat Osing di Banyuwangi juga menjadi contoh penting dalam menjaga ketahanan pangan melalui tradisi pertanian dan ritual keagamaan. Salah satunya adalah Tumpeng Songo, sebuah ritual selametan yang menggunakan bahan-bahan pangan langka seperti gempol dan daun belimbing banci. Tradisi ini menunjukkan bagaimana pangan, lingkungan, dan spiritualitas saling terkait erat dalam kebudayaan lokal.

Lokakarya ini menggarisbawahi pentingnya mempertahankan ketahanan pangan melalui pemahaman terhadap tradisi dan kearifan lokal, serta mengakui peran perempuan dalam menjaga ekosistem pangan.

Kegiatan lokakarya ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.

AKSES CEPAT