51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Konsep Gelap dan Disiplin Warnai Semesta FIB UNAIR

Dokumentasi Rapat Besar 3 Semesta yang diselenggarakan pada Jumat, (16/8/2025) di Ruang WS Rendra, Gedung FIB, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR. (Sumber: PDD Semesta 2025)

FIB NEWS “  Semesta 2025 kembali hadir di 51¶¯Âþ (FIB UNAIR) dengan wajah baru. Semesta merupakan salah satu program kerja yang menjadi sebutan untuk kegiatan orientasi mahasiswa baru jurusan tersebut.

Anisa Febi Ananda, mahasiswa Basasindo yang menjabat sebagai Ketua Divisi Acara, memimpin jalannya Semesta tahun ini nuansa tegas, disiplin, dan mistis. Terinspirasi dari kumpulan cerpen Sihir Perempuan karya Intan Paramaditha, khususnya cerpen œPerempuan Buta Tanpa Ibu Jari, Semesta 2025 tampil berbeda dari tahun sebelumnya yang identik dengan warna pastel, ceria, dan hangat.

Melanjutkan Tradisi Buku Sakti

Feby menjelaskan bahwa pemilihan buku sebagai dasar konsep merupakan tradisi yang sudah berjalan di Semesta. Ia memilih cerpen bertajuk œPerempuan Buta Tanpa Ibu Jari karena kedekatannya dengan materi kuliah sastra pada semester tiga dan empat.

œAku ingin melanjutkan ciri khas ini supaya Semesta tetap relevan dengan jurusan kita. Waktu semester tiga-empat, banyak mata kuliah sastra yang membahasnya. Jadi, konsep ini bisa jadi bekal buat angkatan baru biar tidak asing lagi ketika mendapat materi itu, ungkapnya.

Selain itu, Feby menilai cerpen tersebut menyimpan banyak pelajaran hidup. Cerita ini menunjukkan bahwa pengalaman setiap orang berbeda-beda, serta menghadirkan unsur mistis yang kuat untuk dijadikan inspirasi acara.

Dari Nuansa Gelap ke Konsep Acara

Tak hanya itu, tahun ini panitia juga menghadirkan suasana yang lebih disiplin. Visual acara terinspirasi dari sampul buku Sihir Perempuan yang berwarna marun dan hitam, dengan simbol seperti burung gagak dan beberapa tokoh mistis yang turut merepresentasikan identitas kelompok.

œTahun ini, mahasiswa baru tidak akan menemui kakak tingkat yang super ramah seperti tahun-tahun sebelumnya. Konsepnya memang kami arahkan agar lebih tegas, disiplin, dan berwibawa. Jadi, suasananya nanti akan benar-benar berbeda, pungkas Feby.

Meski membawa nuansa gelap, narasi cerpen tidak disampaikan secara mentah. Elemen yang diangkat terbatas pada tema, tokoh, dan simbol, sehingga tetap ramah bagi mahasiswa baru tanpa harus langsung memahami teori sastra yang kompleks.

Potret seluruh staf divisi acara Semesta 2025 bersama Feby (tengah) selaku Ketua Divisi.(Sumber: Dokumen Narasumber)

Tantangan dan Harapan

Proses mencari benang merah antara narasi cerpen dengan konsep acara menjadi tantangan tersendiri. Feby mengaku sempat mendapat banyak pertanyaan dari para panitia terkait risiko konsep yang mereka anggap terlalu berat.

œDari situ kami benar-benar mengulik lagi agar tetap sesuai konsep acara, tetapi bisa diterima. Kami sampai membuat catatan khusus supaya tidak keluar dari jalur, tuturnya.

Selain itu, jargon acara tahun ini, œDunia Tak Melihat, Kita yang Membaca, panitia pilih untuk menggambarkan pengalaman mahasiswa baru yang memasuki dunia kampus penuh aturan, termasuk yang tidak tertulis. Membaca, dalam konteks ini, berarti memahami dan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Feby berharap Semesta 2025 dapat menjadi pengantar bagi mahasiswa baru angkatan 2025 untuk mengenal tiga peminatan di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, yaitu linguistik, filologi, dan sastra. œAku ingin ospek ini bisa jadi pengantar, supaya nanti ketika memilih peminatan, mereka sudah punya bekal awal dan tidak lagi bingung, tutupnya.

Keterlibatan Anisa Febi Ananda dalam merancang konsep Semesta 2025 sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu Quality Education, serta nomor 5, yaitu Gender Equality.

Penulis: Gustyosih Chesta Pramesti

Editor: Fania Tiara Berliana Marsyanda

AKSES CEPAT