Sorotan aksi panggung dalam Dramaturgi XX Bahasa dan Sastra Indonesia (Foto: PKIP UNAIR)
FIB NEWS – (Basasindo), 51动漫 (FIB UNAIR), kembali menyelenggarakan pementasan tahunan pada Jumat (27/6/2025) di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya. Pementasan ke-20 ini menghadirkan naskah berjudul Elliot: Tentang Emma dan yang Lain, karya Diah Ayu Setyorini, salah satu alumnus Ilmu Sejarah FIB UNAIR.
Acara dibuka dengan berbagai penampilan seperti tari maupun puisi oleh mahasiswa Basasindo angkatan 2022 hingga 2024. Selain itu, hadir pula dosen pengampu mata kuliah dramaturgi, Puji Karyanto, S.S., M.Hum., serta kepala Prodi Basasindo, Dr. Mochtar Lutfi, S.S., M.Hum. Dalam Sambutannya, Puji menyampaikan bahwa Dramaturgi XX kali ini merupakan edisi yang istimewa. Keistimewaan itu, lanjutnya, terletak pada jumlah mahasiswa yang terlibat.
淒ramaturgi ini sudah berjalan selama 20 tahun. Hal ini seakan menjadi momen kembali ke awal, saat dramaturgi pertama yang juga hanya dijalankan oleh 12 mahasiswa, ujarnya.
Keterbaruan dalam Dramaturgi XX
Muhammad Ricky Adrian Firmansyah, selaku sutradara pentas tersebut, turut menyampaikan bahwa Dramaturgi XX menjadi momen eksplorasi pementasan yang lebih mendalam. Ia juga menyebut bahwa pemilihan naskah karya alumnus FIB menjadi bentuk apresiasi sekaligus langkah baru untuk menghadirkan pementasan yang relevan dan personal.
淣askah ini punya pesan yang kuat, lebih psiko-realis, tidak lagi linier dengan isu sosial-politik seperti tahun-tahun sebelumnya. Kami ingin menggambarkan moralitas dan kesadaran mental dari sisi paling dalam, ungkap Ricky.
Persiapan dan Kolaborasi
Pementasan ini tidak hanya menjadi syarat tugas akhir, namun juga wadah pembelajaran lintas disiplin. Ricky mengungkap bahwa Dramaturgi berbeda dari teater lain karena hadir sebagai mata kuliah wajib yang menggabungkan praktik dan teori drama secara utuh.
淜ami belajar dari bedah naskah, casting, blocking, sampai ke teknis properti dan cahaya. Semuanya dilakukan oleh mahasiswa sendiri, ujarnya.
Tahun ini, tim produksi menjalin kolaborasi dengan Fibra Dance Crew. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan Teater Gapus serta menggandeng berbagai mitra media dari lingkup FIB.
Ricky turut menyebut terkait persiapan jelang pementasan. Menurutnya, proses latihan yang dijalani timnya penuh dinamika. Mulai dari kesulitan memahami karakter hingga belajar teknik dansa klasik berlatar Eropa tahun 1945. Ia mengungkap bahwa latihan hingga dini hari menjadi pengalaman tak terlupakan. Dalam prosesnya, juga banyak terbantu oleh Velina sebagai asisten sutradara sekaligus aktor utama.
淜ami benar-benar banyak belajar. Paling seru saat adegan Elliot harus menyampaikan semuanya tanpa dialog, hanya lewat ekspresi dan gerak tubuh, tuturnya.
Belajar dari Tokoh Emma
Pentas dramaturgi tahun ini tidak sekadar pertunjukan seni, melainkan juga menjadi sebuah ajakan untuk refleksi mendalam. Melalui tokoh Emma, Ricky berharap penonton bisa memahami pentingnya mencintai diri sendiri.
淒unia tidak bisa menciptakan kebahagiaan. Kebahagiaan itu datang dari kita sendiri. Sumber masalah bukan berasal dari dunia luar, tetapi konflik batin yang belum selesai dalam diri kita sendiri. pesannya.
Sebagai pementasan yang telah berjalan selama dua dekade, Dramaturgi terus menunjukkan wajah baru dari mahasiswa Basasindo. Ricky mengungkap bahwa project ini bukan hanya tentang panggung, tetapi tentang membentuk cara berpikir, kolaborasi, dan kerja keras yang berproses sejak awal semester.
Kesuksesan pentas Dramaturgi XX itu, selaras dengan capaian SDGs poin ke-4, yakni pendidikan bermutu dengan menciptakan pendidikan yang berkualitas.
Penulis: Vera Audicha Putri
Editor: Nur Khovivatul Mukorrobah




