FIB NEWS – Surabaya, 27 Februari 2025, Mahasiswa inbound dari Chuo University, Jepang, turut serta dalam presentasi akademik menggunakan bahasa Indonesia sebagai bagian dari program pertukaran mereka di 51¶¯Âþ (FIB UNAIR). Salah satu mahasiswa, Taro Chiba, memaparkan materi mengenai pakaian tradisional batik di Ruang Chairil Anwar, Fakultas Ilmu Budaya. Acara ini juga dihadiri oleh Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, yang turut memberikan dukungan terhadap upaya pengenalan budaya Indonesia kepada mahasiswa asing.
Sejarah Batik
Batik merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia yang memiliki sejarah panjang. Dalam presentasinya, Taro Chiba menjelaskan bahwa batik diperkenalkan ke Pulau Jawa oleh pedagang dari India dan Arab sekitar abad ke-6 hingga ke-7 Masehi. Pada masa lalu, batik hanya dikenakan oleh para bangsawan sebagai simbol status sosial. Selain itu, saat masa kolonial, pengaruh budaya Belanda turut memperkenalkan desain bergaya Barat dalam motif batik.
Jenis-Jenis Batik
Batik terdiri dari tiga jenis utama berdasarkan teknik pembuatannya:
- Batik Tulis “ Batik yang dibuat secara manual dengan tangan menggunakan canting untuk menggambar motif pada kain.
- Batik Cap “ Batik yang dibuat dengan menggunakan cetakan cap dari tembaga untuk mempercepat proses produksi.
- Batik Cetak “ Batik yang diproduksi dengan teknik pencetakan modern, sehingga dapat diproduksi dalam jumlah besar dengan harga lebih terjangkau.
Makna Motif Batik
Motif batik memiliki makna simbolis yang mencerminkan nilai-nilai budaya dan filosofi masyarakat Indonesia. Sebagai contoh, motif Parang merupakan motif bergengsi yang dahulu hanya boleh dikenakan oleh raja dan keluarga kerajaan. Sementara itu, motif Mega Mendung berasal dari Cirebon dan melambangkan ketenangan serta harmoni dalam kehidupan.
Batik dalam Kehidupan Sehari-hari
Saat ini, batik tidak hanya digunakan dalam acara adat atau formal, tetapi juga menjadi bagian dari tren mode modern. Pemerintah Indonesia telah menetapkan hari-hari tertentu untuk mengenakan batik, seperti Hari Batik Nasional pada 2 Oktober. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap batik serta memperkuat identitas budaya Indonesia di kancah internasional.
Kesimpulan
Melalui presentasinya, Taro Chiba menyampaikan bahwa batik merupakan warisan budaya berharga yang mencerminkan sejarah dan identitas bangsa Indonesia. Ia juga mengungkapkan kekagumannya terhadap kecintaan masyarakat Indonesia terhadap batik serta mendorong lebih banyak orang, termasuk masyarakat internasional, untuk mengenakan pakaian tradisional ini sebagai bentuk pelestarian budaya.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan semakin banyak mahasiswa asing yang mengenal dan mengapresiasi kekayaan budaya Indonesia, sekaligus mempererat hubungan akademik dan budaya antara Indonesia dan Jepang.
Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 17, yaitu partnership for the goals.




