Kemala dan Tim Saat Menerima Penghargaan dalam event 2nd International Youth Conference 2025 di Malaysia. (Foto: Dok. Narasumber).
FIB NEWS “ Melalui semangat kolaborasi, mahasiswi 51¶¯Âþ (FIB UNAIR), Kemala Ainuura Admireaulia, sukses mengukir prestasi membanggakan di kancah internasional. Mahasisiwi program studi Bahasa dan Sastra Inggris itu berhasil meraih tiga penghargaan yakni bronze medal, best poster, dan favorite poster dalam ajang 2nd International Youth Conference yang diselenggarakan oleh World Association of Young Scientists (WAYS) pada tanggal 19 Mei 2025 di Malaysia.
Kemala bersama tim yang beranggotakan lima mahasiswa lintas fakultas yakni, Mikael Ardiyanta Widyadana Purniawan (Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin), Tanaya Raissa Anindita (Fakultas Psikologi), Mochammad Arya Putra Rudianto (Fakultas Farmasi), dan Alief Fibi Yanto (Fakultas Perikanan dan Kelautan) berhasil mencuri perhatian juri dengan gagasan inovatif bertajuk Sugar (Sustainable Use of Glucose Awareness and Reduction: Preventing, Managing, and Raising Public Awareness of The Growing Diabetes Crisis in Indonesia.
Gagas Inovasi Produk Teh Herbal
Dalam esainya, tim UNAIR fokus mengangkat permasalahan tentang bahaya penyakit diabetes melitus tipe dua. Penyakit ini dapat disebabkan oleh gaya hidup, setelah melakukan riset tim UNAIR mendapati fakta bahwa penyakit ini mulai menyerang anak usia 10-14 tahun. Hal ini menunjukkan pola hidup tidak sehat sudah dimulai sejak usia dini. Oleh karena itu, penyakit diabetes melitus tipe dua dapat dicegah dengan menerapkan gaya hidup sehat.
Tim UNAIR melakukan pendekatan herbal berbasis riset yang dapat menjadi pelengkap pengobatan medis. Solusi yang digagas berupa inovasi DiabeTea, minuman teh herbal berbahan dasar tanaman kayu manis dan daun sirsak. Gagasan ini berawal dari keprihatinan melihat tingginya angka kematian di Indonesia yang disebabkan oleh penyakit diabetes melitus tipe dua.
œSumber daya alam di Indonesia itu sangat melimpah, oleh karena itu kami menggagas inovasi teh herbal berbahan dasar alam. Kayu manis ini dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan kadar gula darah. Sementara daun sirsak memiliki efek hipoglikemik dan mampu mengatur metabolisme glukosa, terang Kemala.
Gencarkan Edukasi kepada Masyarakat
Selain membuat inovasi teh herbal, tim UNAIR menawarkan solusi lain yang mencakup program edukasi kepada masyarakat tentang bahaya penyakit diabetes melitus tipe dua. Sasaran dari program edukasi ini adalah seluruh warga Indonesia mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia.
œPeningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit diabetes melitus tipe dua ini merupakan langkah yang cukup krusial. Oleh karena itu, dengan memberikan edukasi kepada masyarakat, mereka akan mengetahui dampaknya sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mereka untuk menjaga pola hidup sehat, kata Mikael.
Tanaya menambahkan bahwa melalui kolaborasi bersama lintas sektor seperti universitas, rumah sakit, dan media digital, edukasi dapat dilaksanakan dengan baik dan tepat sasaran. Kolaborasi ini juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs)poin 17.
Tantangan dalam Penulisan
Proses penulisan esai ini penuh dengan tantangan dan kerja keras. Tim UNAIR harus membagi waktu di tengah kesibukan kuliah, tugas, dan organisasi. Perbedaan jadwal kuliah dan kewajiban masing-masing anggota membuat mereka kesulitan dalam mencari waktu yang tepat untuk mengerjakan esai bersama.
œIni adalah pengalaman pertama kali lomba ke luar negeri, jadi kami bekerja keras untuk membuat esai yang benar-benar bagus dan memikat para juri. Apalagi harus bersaing dengan puluhan tim yang kemungkinan lebih berpengalaman dari kami, terang Kemala.
Atas pencapaian ini, tim UNAIR sangat bangga dengan hasil kerja keras mereka. Mereka berharap inovasi yang digagas bisa terus dikembangkan dan diterapkan ke depannya.
Prestasi yang berhasil diraih Kemala dalam event 2nd International Youth Conference itu turut mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yaitu quality education.
Penulis: Rava Adistya Hanum
Editor: Selly Imeldha




