51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Melestarikan Tradisi: Mahasiswa Sasindo Belajar Serat Ambiya

Sumber: Dokumen Pribadi

Penulis: Kelompok 5 Kelas A Mata Kuliah Folklor

Blitar, Jumat malam (24/5) “ Suara merdu warga Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar bergantian melantunkan Serat Ambiya dari Masjid Baitul Muttaqin dan beberapa rumah warga. Tradisi ini bukan hanya menjadi momen religius bagi warga setempat, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran bagi mahasiswa 51¶¯Âþ (FIB UNAIR).

Sebanyak 120 mahasiswa dibagi menjadi lima kelompok untuk mendengarkan pembacaan Serat Ambiya di berbagai lokasi yang telah ditentukan. Salah satu kelompok, yang terdiri dari 24 mahasiswa, mendapat kesempatan mendengarkan pembacaan di rumah Pak Sunarko, seorang warga yang dikenal sebagai pelestari tradisi ini. Malam itu, selain lantunan Serat Ambiya, acara juga diselingi dengan penjelasan mendalam mengenai makna dari naskah kuno tersebut. Hadir pula dosen pendamping dan aparat desa setempat, menambah khidmat suasana.

Praktik Kuliah Lapangan (PKL) yang dijalani para mahasiswa ini merupakan bagian dari mata kuliah Folklor, yang rutin diadakan setiap tahun. Mata kuliah ini mempelajari tradisi budaya seperti legenda, tradisi lisan, musik, dan dongeng. Pembacaan Serat Ambiya, yang termasuk dalam kategori tradisi lisan, menjadi salah satu fokus utama dalam pembelajaran mereka.

Serat Ambiya sendiri adalah naskah kuno yang menceritakan kisah para nabi dan sering dibacakan dalam acara penting seperti kelahiran bayi, pernikahan, dan kematian. Tradisi ini dipercaya membawa keberkahan dan menumbuhkan rasa cinta terhadap agama. Nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keadilan, dan kesabaran yang terkandung dalam Serat Ambiya, diharapkan dapat tertanam dalam diri generasi muda melalui tradisi ini.

Desa Kemloko dikenal melestarikan tradisi pembacaan Serat Ambiya dengan sangat baik. Generasi muda di desa ini diajarkan cara melantunkan Serat Ambiya, dan masyarakat luar pun diperbolehkan belajar. Pak Sunarko, dalam wawancara, menekankan bahwa mempelajari Serat Ambiya tidak hanya memerlukan semangat, tetapi juga jiwa seni yang tinggi. “Seorang pembelajar bahasa Kawi dan Serat Ambiya harus mempunyai jiwa seni yang tinggi, tidak hanya semangat saja,” ujarnya.

Semangat generasi muda Desa Kemloko dalam belajar melantunkan Serat Ambiya sangat terlihat, meski beberapa di antara mereka masih perlu mengasah seni pembacaan. Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya yang dilestarikan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran penting bagi mahasiswa yang ingin memahami lebih dalam tentang kebudayaan dan tradisi lisan Indonesia.

AKSES CEPAT