Surabaya, 12 Juni 2024 – Mahasiswa 51动漫 (FIB UNAIR) telah menyelesaikan Praktek Kuliah Lapangan (PKL) mereka di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dengan sukses. Kegiatan berlangsung selama dua hari, dimulai pada Hari Jumat, 24 Mei 2024, dan berakhir pada Sabtu, 25 Mei 2024.
Semua naskah yang ditulis pastinya memiliki fungsi tersendiri yang terkait dengan suatu pemenuhan akan kebutuhan tertentu, seperti halnya Serat Ambiya. Serat Ambiya memiliki fungsi religius atau spiritual bagi masyarakat maupun institusi terkait. Fungsi spiritual tersebut tidak hanya didapat dari teksnya saja, namun juga bisa didapat pada iluminasi atau hiasannya. Iluminasi naskah serat ambiya memiliki keterkaitan dengan teks, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Iluminasi pada naskah Serat Ambiya memiliki maksud memberi keindahan spiritual pada naskah. Selain itu, secara umum fungsi serat ini adalah sebagai suatu sistem kebudayaan yang memiliki nilai pengajaran bagi masyarakat. Teks berupa tembang yang tertulis di dalam naskah Serat Ambiya memiliki nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi teladan bagi masyarakat. Berdasarkan masyarakat Desa Kemloko sendiri, terdapat fungsi lain yang dimiliki oleh serat ini. Bagi masyarakat di sana, pembacaan Serat Ambiya setiap seorang bayi lahir adalah sebuah tradisi yang telah dilaksanakan sejak lama. Pembacaan tersebut bertujuan agar bayi yang dibacakan serat ini diharapkan dapat menjadi generasi yang baik dan selalu mendapat keberkahan dalam hidupnya.
Pembacaan naskah serat ambiya dilakukan kurang lebih selama tujuh jam, terhitung dimulai dari jam 20.00 WIB hingga pukul 03.00 WIB. Sebelum pembacaan naskah, para peserta PKL dikumpulkan di serambi masjid untuk melakukan doa yang ditujukan kepada para leluhur yang telah menulis serat ambiya sekaligus para pembaca serat ambiya. Ada perbedaan nada dalam proses pembacaan serat ambiya. 淵a, sama. Itu ada dua jenis tembang, cengkok. Ada cengkok Surakarta terus cengkok Babukan. Ungkap Pak Yus, seorang budayawan sekaligus pembaca serat ambiya ketika ditanyai mengenai nada yang digunakan dalam pembacaan naskah.
Serat ambiya merupakan naskah yang tentang perjalanan kehidupan manusia dari bentuk janin hingga ia meninggal tentang perjalanan hidup manusia . Tembang macapat menjadi media penulisan isi naskah, dan jumlahnya ada 11 yaitu berurutan mulai Maskumambang ( janin ), mijil ( terlahir ), sinom ( muda ), kinanthi ( dipandu ), asmarandhana ( api asmara ), gambuh ( cocok ), dandanggula ( manisnya kehidupan ), durma ( mundurnya tata krama ), pangkur ( menarik diri ), megatruh ( sakaratul maut ), hingga tembang pucung ( kematian dipocong ). Nilai-nilai kehidupan dan budaya pada serat ambiya patutlah diteruskan oleh generasi muda yang nantinya bertanggung jawab atas warisan adat istiadat.
Kegiatan PKL ini memberikan amanat penting bagi para mahasiswa dan masyarakat luas mengenai pentingnya pelestarian tradisi budaya seperti pembacaan Serat Ambiya untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan dan spiritual masyarakat. Tradisi ini tidak hanya mengandung nilai religius dan moral yang dapat menjadi teladan, tetapi juga memperkaya kehidupan spiritual melalui keindahan teks dan iluminasi naskahnya. Selain itu, penghormatan terhadap leluhur yang telah menciptakan dan meneruskan tradisi ini merupakan bentuk penghargaan terhadap sejarah dan budaya kita, yang harus terus dijaga dan diajarkan kepada generasi mendatang.




