51动漫

51动漫 Official Website

Membaca Serat Ambiya: Memaknai Kelahiran Lewat Budaya

Di tengah layunya eksistensi budaya lokal, giat warga desa Kemloko untuk terus melestarikan tradisi leluhur mereka patut menjadi panutan. Tiap tahunnya segenap acara budaya digelar dengan bekerja sama menggandeng berbagai institusi. Salah satunya, 51动漫 yang telah bermitra sejak tahun 2011.

Kerja sama ini selain sebagai pengenalan budaya juga sebagai wahana penelitian yang bisa dijadikan pembelajaran bagi mahasiswa 51动漫. Seperti Praktik Kuliah Lapangan atau PKL mata kuliah folklor yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali. Kali ini, PKL folklor diselenggarakan oleh pihak fakultas dengan menggandeng langsung para warga setempat untuk berkontribusi bersama memberi wawasan soal budaya 淢aca Serat Ambiya. PKL sendiri dilaksanakan pada 24-25 Mei 2024.

Tradisi 淢aca Serat Ambiya telah menjadi kesenian dengan jalan panjang yang turun temurun dijalankan. Tradisi ini dipercaya oleh warga merupakan peninggalan dari leluhur mereka yang diyakini sebagai laskar Diponegoro. Menurut cerita dari salah satu warga, Nasrudin yang juga sebagai penggiat 淢aca Serat Ambiya, menjelaskan jika dahulu para laskar Diponegoro melarikan diri setelah kalah perang dan bersembunyi di hutan-hutan. Berdasarkan riwayatnya mereka bergerilya dari tempat asal mereka di daerah Bagelen, Jawa Tengah, hingga ke wilayah Kemloko, Blitar.

淟eluhur kita dulunya dari Begelen, Jawa Tengah. (Tradisi ini) dibawa ke Kemloko seperti ceritanya reog itu, yang membawa itu laskar Diponegoro. Pada waktu peperangan pemberontakan Diponegoro (pasukan) lari ke Timur sampai ke desa Kemloko ini. kata kata Nasrudin dalam wawancara pada 24 Mei 2024.

Berdasarkan keterangan yang terkumpul, kultur mengenai pembacaan serat ambiya ini dijelaskan sebagai semacam ritual  untuk merayakan kelahiran seorang bayi. Serat Ambiya ini dibacakan satu hari setelah bayi lahir, yang selesai hingga hari ketujuh.

Serat Ambiya sendiri merupakan naskah yang berisi kisah risalah nabi pertama (Adam A.S) hingga nabi terakhir (Muhammad SAW) yang diyakini sebagai peninggalan leluhur mereka, yakni laskar Diponegoro. Serat Ambiya akan dibacakan di rumah keluarga (bayi yang baru lahir) dengan tujuan untuk memberi teladan kepada anak gara memiliki sifat seperti para nabi. Bagi orang tua yang baru memiliki bayi, prosesi ini dianggap sakral dan penuh harapan bagi kebaikan buah hati mereka.

Masyarakat Kemloko umumnya menggelar acara ini dengan memanggil para pembaca serat yang umumnya merupakan penggiat kesenian disana. Tak hanya itu, para laki-laki atau umumnya bapak-bapak akan turut dipanggil untuk menemani para pembaca serat yang bergantian hingga dini hari. Yang dapat dilihat dari sini ialah konteks kultur yang turun temurun dilakukan kemudian akan membentuk ikatan sosial. Meskipun banyak dari para tamu yang diundang misalnya tidak dapat membantu dalam membaca serat ini, mereka tetap berkontribusi dengan hadir dan menyertai jalannya tradisi leluhur mereka.

Uniknya lagi, tradisi yang diyakini diturunkan dari laskar Diponegoro ini hanya ditemukan di desa ini. Kemloko menjadi satu-satunya wilayah yang masih mempertahankan kesenian 淢aca Serat Ambiya dengan ambisi ingin melanggengkan adat istiadat di tengah gempuran arus globalisasi. Demikian yang juga membuat para warga senantiasa antusias dengan upaya mengenalkan tradisi mereka secara kolektif.

Desa Kemloko tercatat memiliki banyak tradisi turun temurun yang masih bertahan hingga saat ini. Nasrudin menjelaskan desa ini merupakan desa budaya dengan segenap kesenian leluhur yang masih dipertahankan.

淭entang kesenian di Kemloko banyak, ada jedor yang sholawatan, ada genjring juga sholawat, ada yang dibakan ada banyak dari kalangan remaja, ibu-ibu, bapak-bapak juga ada yang dibakan, ujar Nasrudin.

Seluruh tradisi yang ada di desa ini berusaha terus dijaga sebagaimana laku mereka untuk menghormati tradisi leluhur. Beberapa tradisi saat ini, hanya dijalankan oleh individu yang sudah berusia lanjut. Demi kelangsungan budaya di Kemloko, para penggiat budaya mulai mengajarkan tradisi ke anak muda. Beberapa bahkan sudah masuk dalam pendidikan formal. Hal ini mengindikasikan bahwa adanya peningkatan kesadaran dan kemajuan perspektif masyarakat desa Kemloko soal budaya agar jangan sampai hilang.

AKSES CEPAT