Sesi pembukaan praktik kuliah lapangan Folklor dan Analisis Wacana: sambutan oleh Ketua Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Jumat (24/5/2024) di Kemloko, Blitar. (Dokumen pribadi/Nasrul Annas)
Jum’at (24/5/2024) 51动漫 (FIB UNAIR) mengunjungi Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, guna pelaksanaan Praktik Kuliah Lapangan (PKL) mata kuliah Folklor dan Analisis Wacana.
Acara berlangsung selama dua hari, yakni Jumat dan Sabtu. Rangkaian kegiatan utama terdiri atas penyaksian pembacaan serat, pengamatan serat secara langsung dan proses wawancara. Mahasiswa terbagi dalam beberapa kelompok untuk mengeksplorasi aspek kebudayaan yang ada di Desa Kemloko. Penugasan difokuskan pada pendokumentasian pembacaan Serat Ambiya untuk mata kuliah Folklor disusul dengan penelusuran dan analisis aspek-aspek wacana di desa ini sesuai tema yang telah ditentukan.
Halaman dan serambi Masjid Baitul Muttaqin menjadi pusat kegiatan utama praktik kuliah lapangan, termasuk sebagai salah satu tempat pembacaan naskah Serat Ambiya sekaligus doa kirim leluhur sebelum memulainya. Serat ini dibacakan di lima titik lokasi sesuai jumlah kelompok. Serat Ambiya dilantunkan pula di rumah-rumah warga dengan pelantun yang berbeda. Pembacaan dibagi menjadi lima bagian dengan durasi masing-masing sekitar tujuh jam, mulai pukul 8 malam hingga 3 dini hari. Tidak sekadar dibaca, naskah serat yang ditulis menggunakan huruf pegon ini dilantunkan dengan metode nembang macapatan berbahasa jawa kawi.
Tahap berikutnya, pengembangan berupa pencarian informasi. Mahasiswa menelusuri berbagai gejala dengan eksplorasi dan pengamatan objek secara langsung serta kunjungan ke kediaman narasumber. Luaran konkret dari kegiatan ini berupa laporan kegiatan, video publik, serta pendokumentasian utuh pembacaan Serat Ambiya sebagai bentuk kepedulian insan FIB pada pelestarian budaya, khususnya sebagai wujud timbal balik positif pada masyarakat Desa Kemloko dalam menyambung generasi.
Serat Ambiya sendiri biasa dibacakan pada momen kelahiran bayi, tepatnya pada hari pertama sampai hari kedelapan hingga kesepuluh. Pembacaan dilakukan sebagai simbolisasi dan pengharapan supaya bayi yang masih suci ini kelak menjadi generasi penerus yang salih dan salihah sebab Serat Ambiya bukanlah bacaan biasa. Serat ini memuat kisah-kisah nabi sehingga diyakini dapat membawa keberkahan sebagaimana dituturkan oleh Yuswinarko. Budayawan asal Kemloko tersebut juga menyampaikan pesan berkaitan dengan hakikat diri, buah pembacaan serat sesuai lantunan tembang macapat.
淜ita harus bisa membaca nafsu kita. Ojo ditumpaki nafsu, nanging kita harus mengendalikannafsu.Makanya, pahamilah diri. Memahami diri itu wajib, perlu. Kalau tidak memahami diri sendiri, itu tidak bisa mengontrol, mengendalikan, mengarahkan diri sendiri.
Hingga kini, masyarakat Desa Kemloko masih getol menjaga budaya lokal. Budaya yang masih lestari, di antaranya adalah Reog Bulkiyo yang menjadi objek studi mahasiswa S-1 Bahasa dan Sastra Indonesia pada praktik kuliah lapangan 2023, macapat, genjring, jaranan, Jedor, hingga Sawung Galing. Masyarakat juga konsisten terhadap pelaksanaan tradisi-tradisi yang ada, seperti Sokwan dan Sowanan Agung.
Penulis: Hurun’in Kamila




